
Deg.
Jantung Fika terasa berhenti mendengar Shasa menyebutkan nama Diara diantara penjelasan panjangnya.
"Di-Diara siapa Mbak?"
"Loh, Ibu belum kenal Diara? kakek Ibu mah jempolan banget deh kalo soal jodoh menjodohkan. Salut saya mah sama Kakek Prakasa."
"Maksud Mbak Shasa it.."
"Iya, saya tuh udah curiga sewaktu Kakek Prakasa meminta saya untuk menukar penerbangan saya ke Lombok bersama Pak Raven jadi Diara yang brangkat."
Kakek, kok tega sih? kenapa gak langsung urus surat cerai kami dulu sih, malah ngejodohin mereka.
"Kakek kenal dimana ama Diara itu?"
"Hhmm, kata Diara sih, ibunya Buk Fika, Pak Raven, Mr. Dean dan Diara bersahabat sejak sekolah. Namun karena kesalahpahaman dalam keluarga ibunya Diara dan Diara harus sembunyi. Namun alm. Ayah Diara sebelum meninggal karena sakit mencari keberadaan Diara dan ibunya dibantu kakek Prakasa, Mr. Dean dan Pak Raven. Dan sejak ketemu sekitar setahun yang lalu langsung bekerja di sini sebagai sekretaris membantu tugas tugas saya yang semakin banyak pasca penyatuan perusahaan."
Wajah Fika semakin memucat mendengar cerita Mbak Shasa, dan berusaha menelan ludahnya yang terasa kelu.
"Tapi kalo dari pengamatan saya pribadi, kakek getol banget ngejodohin Diara dengan Mr. Dean. Hehehe..."
What? Dean? yang di jodohin itu Dean?
"Bu, saya pamit yah. Bye"
Fika membalas melambaikan tangan nya pada Shasa yang pamit dan berjanji akan kembali besok pagi lagi. Kepala Fika terasa pening, matanya melihat monitor komputer tanganya mengetikan catatan dari Raven yang didapatnya saat diruangan Raven tadi, catatan sebagai remainder Raven saat memimpin rapat sehabis jam makan siang.
Tentu saja Raven membutuhkan Diara disini.
Fikaaaaa, **** lo kok gak abis abis sih??!!
Fika dengan cepat menyelesaikan pekerjaan nya, lalu melanjutkan menghubungi beberapa nomer untuk mengkonfirmasi beberapa hal.
__ADS_1
Fika berencana menyelesaikan pekerjaan nya seblum jam makan siang supaya bisa ngobrol dengan Raven dan meminta maaf atas tuduhan nya semalam.
Pekerjaan Fika belum selesai, lewat interkom Raven telah meminta berkas yang akan dia bawa untuk rapat siang ini.
"Loh, bukanya rapatnya masih dua jam lagi?"
"kalo lo belum selesai, bawa masuk nanti gue yang selesaikan"
"Udah kok Pak. akan saya bawa masuk."
Didalam ruangan Raven, Fika meletakan berkas tersebut di atas meja di hadapan Raven dgn gugup. Raven memeriksa lalu memasukan berkas tersebut dalam file folder berwarna hitam miliknya.
Tanpa bicara Raven berdiri lalu beranjak dari kursi kebesaran nya hendak keluar ruangan.
"Rav, maaf bisakah kita bicara?"
"Pak Raven. Bicara apa?"
"oh maaf, Pak Raven, saya mau bicara tentang sikon kita"
"Bukan, bukan itu hanya sa.."
"Ini kantor Fika, bersikaplah profesioanl."
"Baiklah. maaf"
"Kalo sampe jam empat saya blom balik, anda bisa pulang."
"Baik Pak."
Fika hanya bisa memandangi punggung Raven yang keluar ruangan. Selanjutnya Fika menyelesaikan pekerjaan nya tanpa kendala apapun karena memang pekerjaan yang di ajarkan Shasa baru permulaan saja.
Tepat pukul lima sore, Fika membereskan meja kerjanya dan langsung keluar gedung kantor menuju apartemen nya.
__ADS_1
Dalam perjalanan Fika terus melatih permohonan maaf atas kata kata dan sikap nya terhadap Raven.
Ilang kan jatah lo semalam, karena kebegoan lo sendiri tuh.
Baru saja Fika masuk apartemen, ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Deanna.
Fika mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang membelakangi pintu utama.
"Hi Beib, what's up?"
baru saja Fika menggeser tombol hijau, Deanna sudah berbicara dengan gaya khasnya, centil centil gitu deh.
"I' am pretty good. how's you?"
"the next two weeks I will get merried, and my bridesmaid hasn't arrived yet. even though I really need her. Eh, sekarang dia malah bekerja sebagai sekretaris suaminya."
"Hihihi.. okey, okey... empat hari lagi aku akan pergi, lalu aku akan membantu mu."
"Promise?"
"Yess I'am"
"You'll come with Raven yah... Dean sangat membutuhkan dia sekarang ini. Kali ini kakek sudah keterlaluan ikut campur."
"Gue akan bicara dengan Raven. Jika dia tidak mau pun, aku tetap akan pergi meninggalkan nya demi dirimu, sayang.."
"at least asking him. Okey, I'll go to checking my patient. Bye Cinta."
"Bye sayangku, jaga kesehatan mu yah."
Fika terlonjak dari tempat duduknya karena sebuah suara.
"kalo kalo lo lupa ini apartemen gue."
__ADS_1
"Raven, kapan kamu datang?"