Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab.6


__ADS_3

Raven berjalan kembali ke kamar hotelnya kembali dengan perasaan kesal karena harus mengalami situasi yang tidak mengenakan. dan berpikir


Yah Ampun. baru juga mau merasakan kedamaian sebagai suami, sudah ada aja cobaan nya.


Ketika tiba didepan kamarnya, Raven baru menyadari dia tidak membawa key-pass kamarnya. Alhasil Raven harus menelepon Fika untuk membukakan pintu.


Setelah mengulang 2 kali telpon barulah Fika menjawab panggilanya dengan suara yang terdengar parau karena baru bangun tidur. Raven tersenyum mendengar suara baru bangun Fika yang menurutnya sangat seksi itu


"Bukain pintu dong sayang, aku lupa bawa kunci."


Ketika Raven masuk dalam kamar yang temaram hanya lampu meja pojok yang menyala, seketika Raven merasa bergairah dan memeluk Fika dari belakang lalu mencium lehernya.


"Rav, aku ngantuk banget. Tidur ya"


Fika memelas pada Raven. Entah demi apa Raven mengikuti keinginan Fika daripada gairahnya.


Asalkan istriku senang, maka tidurlah diriku malam ini. pikir Raven


Semakin mendekati tengah malam, Raven tidak dapat memejamkan matanya. pikiran nya melayang pada kejadian di restaurant tadi, Raven mengkhawatirkan kejadian tadi akan membawa hal buruk pada pernikahan nya baru seumur jagung.


Aakh, bego amat mikirin yang belum terjadi, ibarat menantikan bom meledak aja mending tidur.


Raven berusaha memejamkan mata tanpa memikirkan hal hal yang belum tentu terjadi, meskipun perasaanya tetap merasa sesak.


Bukan berarti Raven memiliki indra keenam, hanya saja kejadian tadi benar benar di luar nalar Raven karena bisa bisanya Intan mau memanfaatkan dirinya.

__ADS_1


--·--


Sementara di tempat lain, Intan menangis setelah rencananya untuk menjadikan Raven sebagai ayah bagi janin dalam rahimnya gagal. Sebenarnya Intan juga tidak menginginkan membawa Raven dalam masalahnya jika saja sang Ayah dari janin dalam rahimnya mau mengakuinya.


Intan sedih dan putus asa pada situasi yang terjadi, namun keegoisan menguasai dirinya. Perasaan tidak terima dan sakit hati karena penolakan secara terang terangan oleh Raven benar benar membuat dia terpuruk setelah tidak mendapatkan pengakuan atas janin dalam rahimnya dari teman tidurnya selama study di USA.


Apalagi setelah mendapatkan amukan kemarahan dari Papanya yang lebih tepatnya ungkapan kekecewaan sang papa terhadap dirinya.


"Akkkhh... sial!! Raven loe harus bisa bantu gue. Cuma loe yang bisa selesaikan ini... iihiikk... hik..."


Tangis Keputus asaan Intan terhadap masalah yang menimpanya menjadikan dia seseorang yang dilingkupi keegoisan dan ambisi negatif dalam dirinya.


--·--


Sinar Matahari menampakan wujudnya dengan terangnya melalui sela tirai dalam kamar Raven dan Fika tepat mengenai wajah putih mulus Fika.


Perlahan Fika mengangkat tangan Raven agar tidurnya tidak terganggu. baru saja hendak mengangkat tubuhnya sudah kembali tertahan lagi di tempat tidur, bahkan sekarang beban pada tubuhnya Fika bukan saja lengan berotot tetapi kaki panjang pun sudah melingkar dengan nyaman nya pada tubuh Fika. Seolah olah tubuh Fika adalah sebuah guling empuk.


"Udah pagi Rav, bangun yuk?"


Akhirnya Fika bersuara karena merasa yakin jika orang disebelahnya pun sudah terbangun hanya saja masih males.


"Smalam kan janji ngasih jatah ke aku pagi ini, karena gak gangguin bobok kamu."


Sial bagi Fika, belek pada mata saja belum bersih tapi sudah terpaksa disuruh mikir mengingat ingat akan janji yang dia ucapkan semalam.

__ADS_1


"Aku gak janji ya.. aku minta kamu tidur."


"Kalo kamu nolak, aku gak bisa bekerja dengan baik loh."


"Raven... ini hari minggu yah, jangan jadikan pekerjaan kamu sebagai alasan dong."


"Kan kita kesini, supaya aku bisa kerja bikin anak."


Fika tidak bisa menahan tawanya ketika dengan suara sok imutnya Raven menjadikan kata katanya Fika saat jumat malam dalam kamar mereka sebagai alasan untuk menuntut haknya sebagai suami.


"Kamu tuh yah pinter banget balikan omongan orang. Curang tau gak sih itu.."


"itu bukan curang sayang, itu cerdas."


Raven bersikukuh pada keinginannya supaya terpenuhi. padahal dirinya sendiri masih dalam mode separuh loading baru bangun tidur.


Gila suami gue, kalo soal urusan ranjang jago banget alesanya. Fika bersuara dalam hati.


"Trus? emang enak apa bercinta masih bau jigong gitu? Eh... Raven!!"


Maksud hati ingin menolak permintaan suami dengan cara mengalihkan minatnya, eh, malah tubuh Fika sudah diangkat dan di gendong ala bridal Style oleh Raven menuju kamar mandi.


"Oke! Kita mandi bareng supaya hemat waktu."


Raven bermonolog pada dirinya sendiri sambil melepaskan baju Fika dengan kecepatan cahaya seolah olah tangan Raven bergerak dengan Tapak Seribunya.

__ADS_1


"Hemat waktu apanya?"


Fika pasrah pada nasib dan menerima nasib dengan senang juga tentunya.


__ADS_2