Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 40


__ADS_3

Fika terbangun dengan pandangan gelap. Untungnya dia sadar jika dirinya memang tertidur di sofa dalam kantor Raven.


Fika meraih ponselnya menyalakan senter lalu melintasi ruangan untuk menyalakan lampu ruangan kantor.


Untung saja Fika sempat menyalakan lampu ruangan sebelum ponselnya mati karena habis batrey.


Fika melihat jam pada salah satu dinding ruangan sudah menunjukan pukul 20.10 wib.


"Lama banget yah Raven meetingnya."


Fika memutuskan untuk melihat ke ruangan meeting daripada harus menghubungi Raven.


"Kalo belum selesai, gue wa aja lah ngasih tau gue pulang duluan. bosen juga nunggu disini."


Tek.. Mendadak kepanikan menyerang Fika ketika pintu kaca yang membatasi ruangan sekretaris Raven dengan koridor kantor terkunci.


"Kok kekunci? kenapa yah?"


Fika masih berusaha membuka pintu kaca tersebut lalu tidak lama kemudian lewat lah seorang petugas keamanan gedung.


"Loh Bu Fika kapan datang?"


Petugas Keamanan yang ber-nametag Budiawan itu memang sudah lama bekerja di kantor ini dan sudah mengenal Fika. Fika pun tidak asing dengan bapak Budiawan ini.


Sambil mencari kunci yang tepat untuk membukakan pintu untuk pemilik gedung ini sekaligus istri bosnya.


"Saya sudah datang dari sore, tp tadi saya ketiduran. Pak Raven sudah selesai meeting yah?"


"Iya Bu, skitar lima belas menit lalu. gedung sudah kosong. makanya ruangan sudah mulai saya kunciin."


Jika tidak ada pak Budiawan ini, Fika pasti sudah menumpahkan airmatanya. Disaat beginilah Fika bersyukur memiliki tingkat gengsi level tinggi.


"Yawdah, makasih yah Pak, saya permisi dulu."

__ADS_1


"Eh, maaf Bu. lift direksi sudah dimatikan dari bawah. jadi ibu cuma bisa lewat dari lift biasa, sebelah sana Bu."


"Ooh Iya, makasih Pak."


Fika membalikan tubuhnya dan berjalan dengan langkah lebar lalu belok kanan dari ruangan Raven, melintasi beberapa kubikel menuju lift karyawan.


Fika berusaha menahan airmata agar tidak keluar.


-----


Melintasi jalan raya kota Jakarta meski sudah malam, tetap saja masih membutuhkan kesabaran ekstra.


Beberapa kali Raven menarik dan menghembuskan napas menghadapi padatnya lalu lintas.


Rasa letih dan penatnya pikiran membuat Raven ingin cepat tiba di apartemen nya dan membaringkan tubuhnya.


Untung malam ini gilirang gue yg tidur di tempat tidur.


Damn!! Fika...!!


Raven meraih ponselnya dan menghubungi nomer pesawat telepon ruang keamanan kantornya.


"Beritahu istri saya, tunggu di ruangan saya. sbntar lagi saya jemput."


Tanpa basa basi Raven langsung memberi perintah pada orang yang menjawab sambungan telpon disebarang.


"Ooh, Maaf Pak Raven, ini Pak Budiawan mau bicara."


"Halo Pak, saya mau minta maaf tadi saya tidak tau ada Ibu Fika dalam ruangan. Jadi tadi pintu sekretaris sempat saya kunci."


"Minta Ibu untuk tunggu saya."


"Ibu sudah pulang Pak, baru saja saya bantu menyetopkan taksi"

__ADS_1


Deg.


Kekhawatiran menyelimuti Raven memikiran Fika menaiki kendaraan umum pada malam hari. Okey, Fika sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana meski dia seorang pewaris perusahaan besar.


Tapi ini, Fika adalah istrinya tidak seharusnya naik angkutan umum sedangkan dirinya lebih dari mampu membelikan sebuah mobil untuk Fika.


Raven melajukan mobilnya menuju apartemennya, memasang handsfree pada ponselnya lalu mencoba menghubungi Fika.


"Sialan! gak nyambung, Fika jangan sok marah deh loh yah, pake matikan HP."


Raven menggenggam erat setir mobilnya, seolah olah dia membutuhkan pegangan supaya tidak meledakan kegalauan hatinya karena mengkhawatirkan Fika.


Setiap mobil bahkan beberapa motor yang menghambat perjalanan nya mendapatkan klakson dari Raven. Hilang sudah kesabaran dan tata krama Raven dalam berkendara.


Tepat pukul 21.10 wib Raven tiba di apartemen, masuk dalam basemen parkiran lalu memarkiran mobilnya pada unit parking-line nya dengan sembarangan. kemudian berlari menuju lift.


Tiba didepan pintu unit apartmen nya, Raven menarik napas menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuka pintu, dia tidak mau memperlihatkan kekhawatiran dan kegalauan nya pada Fika. Meski saat ini Raven mengakui dirinya melakukan kesalahan karena meninggalkan Fika di ruang kantornya tapi gengsi dong ya, setelah di tinggalkan satu tahun dua bulan. Aaah... Pria dengan segala sifatnya.


Ceklek.


Raven membuka pintu unit apartemen nya, berusaha masuk dengan tenang. ruangan dalam keadaan gelap gulita. Raven menyalakan lampu pada ruang utama lalu Matanya mengelilingi seluruh ruangan apartemen nya. Kemudian Raven masuk kedalam kamar tidurnya.


Kosong! bahkan bayangan Fika pun tidak nampak.


Kekhawatiran dan kegalauan yang tadi sudah dia netralkan didepan pintu apartemennya, sekarang menyeruak lagi bahkan dengan level yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Aaaakhhh!!?" Bukk!!


Raven berteriak sambil meninjukan kepalan tangannya pada udara didepanya.


Raven menghempaskan tubuhnya pada sofa diruangan yang menjadi ruangan utama di apartemen nya. Menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan nya.


22.37 wib

__ADS_1


Fika membuka pintu apartemen secara perlahan lalu masuk dengan pelan. Lampu pada ruang utama apartemen sudah menyala, Fika tau pasti Raven sudah sampai terlebih dahulu dari dirinya. Jadi dia tidak ingin mengganggu aktivitas Raven.


__ADS_2