
mereka kenapa? mereka siapa?
Fika tidak berhenti memikirkan tentang Zian dan wanita paruh baya yang duduk dibelakang mejanya tadi sore.
"Aakh, apaan sih? penasaran deh gue."
Dengan cepat Fika mengambil Telpon genggam nya dan menghubungi kakeknya hendak bertanya apakah kakek apakah mengenal Zian atau keluarganya.
"Halo Kek?"
"Fika, kamu tau disini jam berapa? jam lima subuh, dan aku masih sangat mengantuk!!"
Terkejut dan tertawa bersamaan karena mendengar suara Deanna saudara sepupu tersayangnya yang menjawab panggilan nya.
"Kakek sudah tidur yah?"
"Menurut kamu? dia baru bisa tidur tenang setelah kami bawa ke rumah sakit dan diberikan obat penenang sejak suami kamu kembali ke Indonesia. Kakek ngotot mau ikut pulang bersama Raven. Benar benar deh orang tua ini sangat merepotkan."
Deg.
Hati Fika tersayat mendengar nama Raven disebut oleh Deanna seolah olah Deanna sangat akrab dengan Raven. Padahal seingat Fika, Raven dan Deanna baru bertemu satu kali saat pernikahan Fika dan Raven. Karena sebulan setelah pernikahan mereka Deanne menghilangkan diri secara tiba tiba karena tidak mau di jodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.
Ada rasa sedikit cemburu dalam suara Fika ketika mencari tau sedikit tentang kunjungan Raven ke Amerika
"Ngapain Raven ke sana? sendirian?"
"Sayang, aku tidak tau masalah mu dengan Raven itu apa tapi Kakek, papa mama bahkan Dean masih dalam mode marah dengan ku mereka tidak mau bercerita. Tapi dari pengamatan ku Raven bener bener kacau. Dan dia datang bersama pasukan kantornya karena dia dan Dean akan bekerjasama."
Deanna memahami arah pertanyaan soulmate nya dan dengan cepat menjelaskan situasi yang dia lihat sendiri. Entah mengapa Fika menghembuskan napas lega. mendengar kunjungan Raven ke keluarganya bukan karena kunjungan kekeluargaan dan membawa Intan serta anak mereka untuk menemui kakek.
Akh, Bego amat deh gue! ngapain mikir gitu sih? Mereka kan keluarga gue, kalo sampe Raven bawa Intan nemuin keluarga gue kan kebangetan banget.
"Fika sayang, bisakah nanti kamu telpon lagi? aku mau tidur lagi nih.. Nanti akan kusampaikan salam untuk kakek yah."
"Oia, Apakah kakek baik baik saja?"
"Dia dimasukan rumah sakit oleh mommy karena seusianya masih terlalu aktif, lupa beristirahat. Apalagi jika ada yang menyebut namamu. Sebaiknya kamu menemui nya."
"Ah. dua bulan lagi aku akan kerumah mu, berlibur dan bertemu kakek, oke.. bye Sayang, selamat tidur kembali."
__ADS_1
Fika menutup panggilanya dan membuka aplikasi penjualan ticket pada ponselnya untuk melihat lihat harga ticket ke Amerika dua bulan kedepan.
Iya lah, abis kontrak gue liburan dulu. Gue pake aja uang dari Raven, toh emang seharusnya punya gue.
Selama ini Fika memang tidak pernah menggunakan uang yang ditransfer Raven ke rekening nya tiap bulan itu. Karena gengsi tentunya.
Keesokan harinya, saat Fika masih mengajar seorang OB yayasan memanggil Fika dan memintanya untuk datang ke ruangan Bu Hesti Pimpinan Yayasan. Fika bingung kenapa tiba tiba dipanggil, saat jam dia masih mengajar pula. Toh setelah mengajar Fika akan ke kantor Yayasan untuk bekerja di Toko.
Dalam ruangan Bi Hesti sudah ada Zian, Fika masuk keruangan setelah mengetoknya.
"Bu Fika, mari masuk. Silahkan duduk."
Penuh kelembutan Bu Hesti mempersilahkan Fika bergabung untuk berbicara dengan Zian dan Fika. Dengan sopan Fika mengambil posisi duduk di sebrang meja Bu Hesti, bersebelahan dengan Pak Zian.
"Begini Bu Fika, saya memanggil Ibu hanya ingin bertanya tentang laporan penjualan dari Toko Yayasan."
"Ada apa dengan laporan saya?"
Bu Hesti memberikan laporan yang kemarin baru saja dia serahkan pada Zian sebagai kepala keuangan di Yayasan, Fika membuka dan meneliti laporanya, ada sesuatu yang aneh ketika Fika melihat angka angka pada laporanya.
Lalu Fika meletakan laporan itu kembali diatas meja kerja Bu Hesti.
"Maaf Bu Hesti, ini bukan laporan yang saya buat."
"Pak Zian, saya yang membuat sendiri laporan itu, jadi saya mengingat dengan jelas angka terakhir yang tertera di laporan itu."
"Begini Bu Fika, apakah Bu Fika mempunyai salinan dari laporan yang ibu buat itu?"
Bu Hesti berusaha menengahi pembicaraan antara Zian dan Fika yang sudah mulai menegang.
"Saya punya soft file nys. besok akan saya berikan ke Ibu."
"Hmm.. Besok saya harus keluar kota menjenguk orang tua saya yang masuk rumah sakit. Bisakah Ibu memberikan pada Pak Zian besok?"
"Baik Bu. Tapi maaf apakah saya bisa tau, darimana laporan ini ibu terima?"
Fika melihat Bu Hesti dan Pak Zian saling berpandangan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maaf Bu Fika, saya tidak bisa menginformasikan hal itu. Dan untuk Pak Zian, saya sangat paham dengan situasi yang sedang kita hadapi. Saya berharap Bapak bisa lebih bertanggung jawab dan teliti dalam bekerja."
__ADS_1
"Jadi maksud Bu Hesti, Ibu lebih mempercayai situasi yang aneh ini daripada saya yang sudah tiga tahun bekerja disini?"
"Bukan itu maksud saya, hanya saja beri waktu pada saya untuk bisa menyelidiki lebih lanjut dengan cara saya. saya tidak mau memperkeruh keadaan."
Fika yang masih berada dalam ruangan semakin bingung dengan arah pembicaraan dua atasan nya ini.
"Saya kira itu saja yang bisa kita bicarakan hari ini. Bu Fika dan Pak Zian silahkan kembali ke kerjaan kalian. Terimakasih."
Menuju kembali keruang kelas nya, Fika kembali memikirkan pembicaraan barusan.
Kok gue bingung sendiri sih yah?
Belum sampai ke ruang kelasnya, langkah kakinya sudah dihentikan oleh Ardi yang menarik tanganya.
"Tadi di ruangan Bu Hesti ngomongin apa?"
"Bukan urusan loe."
"Fika, loe harus hati hati dengan Zian itu. sekarang dia lagi di selidiki oleh Bu Hesti dan pengurus Yayasan karena penggelapan uang yayasan."
"Bukan urusan loe, lapasin"
"Tentu saja urusan gue, karena gue staff keuangan dan akan memastikan loe tidak sampai terlibat."
Fika memberikan tatapan judes dan permusuhan pada Ardi karena tidak mau melepaskan tanganya.
Plak!
Secepat kilat Fika menghempaskan tangannya dari genggaman Ardi lalu mendorong tubuh dan menampar pipi Ardi karena sudah lancang mencium bibirnya.
"Cih! Jangan kurang ajar loe Jaga sikap loe. Tidak tau malu."
"Brengsek Fika, loe berani nampar gue di depan umum?"
"Iya. loe pantas dapat itu, bahkan seharusnya lebih.."
"Dengar Fika, cepat atau lambat loe akan kembali ke gue."
"Bangun wooii, sudah siang."
__ADS_1
penuh cemoohan Fika lontarkan pada Ardi yang masih memegang pipi kirinya. Lalu berjalan melewati Ardi.
"Fika, jangan pangggil Gue Ardi Sahlendra kalo gak bisa ngedapatin loe."