Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 17


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak kejadian di Perkebunan Apotik Hidup. Selama itu pula Fika tidak bisa tidur nyenyak, tidak nyaman makan dan berkegiatan, di kantor pun Fika terlihat lesu. Hanya saat mengajar dan di depan murid muridnya Fika memasang wajah riang gembira dan semangat namun pikiran kayak benang kusut dan hati kayak kejepit pintu gitu deh...


Terlalu berat pikiran Fika mengenai kesalahan nya dalam rumah tangganya. Kesalahan nya pada suami yang saat ditinggalkan nya sudah mulai dia sayangi bahkan dia cintai.


Selama satu minggu itu juga Fika semakin menunjukan sikap permusuhan pada Ardi. Bahkan jika Fika tau ada Ardi di dalam kantor Yayasan, Fika tidak akan masuk dalam kantor, akan meminta tolong pada Rara untuk menyelesaikan tugasnya di kantor yayasan.


"Fika, Fika... Hey, aku tau kamu dengar panggilan ku."


Fika menghempaskan tanganya yang ditarik oleh Ardi saat Fika keluar dari kelasnya akan menuju ruang kantor guru. Dan dengan judesnya berkata pada Ardi


"Apaan sih lo? laki kok kasar banget."


"Fika, aku cuma mo ngasih makan siang ke kamu. Kamu belum makan kan?"


Ardi melayangkan senyum lebar dan puasnya saat Fika mengambil kotak makan yang berlabel sebuah Cafe terkenal.


"Mang Budi, nih dimakan yah. Permisi Mang."


Dengan santai Fika memberikan kotal makan tersebut pada OB yang akan memasuki ruang kelas Fika untuk membersihkan ruang kelasnya. Lalu membalikan badan nya kembali berjalan kearah kantor guru tanpa memperdulikan wajah dan omongan Ardi.


Ardi hanya bisa terbengong dongkol dengan tindakan Fika


"Fika, itu ku beli untuk kamu."


Ardi hanya bisa mengacak rambutnya dan segera mengejar Fika hendak menuntut penjelasan namun Fika telah masuk kedalam ruang guru lalu masuk ke ruang kepala sekolah TK berbicara dengan Kepala Sekolah TK.


Ardi tidak terima dengan perlakuan Fika yang semakin hari menjauhin nya.


"Loe harus kembali ke gue."


---


Sepulang dari tempat nya bekerja, Fika terbiasa berjalan kaki menuju kontrakan nya melalui lorong yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sempit, cukup di lalui dua motor yang berselisihan.

__ADS_1


"Eh, Apaan nih? Minggir, Saya mau lewat. siapa kalian?


Fika ketakutan ketika ada dua orang pria bertubuh besar menghadang jalannya sebelum tiba di ujung lorong yang tembus ke arah perumahan tempat kontrakan nya.


Fika sempat melihat jika kedua pria tersebut turun dari sebuah mobil berwarna silver.


"Lepasin. Tolooooonggg... Tol..."


Fika berusaha meronta berteriak minta pertolongan, namun mulutnya sudah terlebih dulu di sumbat lalu diikat oleh kain dan kedua tangannya sudah ditekuk ke punggungnya dan diikat lalu tubuhnya mau di gotong oleh kedua pria tersebut.


Bugh!


Fika terkejut ketika salah seorang penjahat yang berada didepan nya jatuh terjerembab ditanah, Lalu tangan seorang pria bertubuh lebih kecil yang baru saja menghantam salah seorang penjahat itu kembali memukul wajah pria besar yang sedang menahan tubuh Fika dari belakang.


Namun sayang orang yang berada dibelakang tubuh Fika hanya terkena pukulan di wajah tidak sampai pingsan seperti teman nya sehingga dengan cepat dapat melarikan diri.


Kemudian Pria yang bertubuh kecil tersebut membuka tali ikatan pada tangan dan mulut Fika.


Fika menganggukan kepalanya memberi tanda jika dia mengenal Pak Bambang sebagai Satpam perumahan disitu dan sering mangkal di pengkolan ojek sebagai tambahan penghasilanya, beberapa kali Fika bahkan menggunakan jasa ojek dari Pak Bambang. Masih dengan tubuh gemetar Fika mengambil tas dan paperbag nya untuk mengikuti instruksi penyelamatnya.


"Eh, Mbak... Jauhi mobil silver di depan situ. kalo dikejar, lari ke arah pengkolan sambil triak minta tolong ya."


Fika kembali menganggukan kepala dan mengikuti arahan dari si penyelamat, ketika melihat sebuah mobil silver sedang parkir di ujung gang, Fika berjalan berusaha sejauh mungkin menjauhi mobil tersebut dengan sedikit berlari ke arah pengkolan. Matanya tetap dalam mode awas terhadap mobil silver tersebut.


Belum sempat Fika mendekati pengkolan, Fika mendengar deru mobil berasal dari mobil silver tersebut. Dengan cepat Fika berlari menuju arah pengkolan, Fika merasa mobil silver tersebut semakin mendekatinya dengan suara lantang Fika berteriak


"Tolonggg! Pak... Tolooong."


Sambil melambaikan tangannya Fika mencari perhatian dari beberapa tukang ojek yang sedang mangkal di pengkolan. Sontak semua tukang ojek yang berada di pengkolan menengok ke arah Fika


Lalu.. dengan kecepatan tinggi mobil silver berjalan lurus meninggalkan debu yang berterbangan. Semua pandangan mata tukang ojek memandang sengit ke arah mobil silver tersebut.


Lalu Fika menceritakan kejadian yang baru dialaminya, belum sempat Fika bercerita salah seorang tukang ojek dengan cepat pergi menggunakan motornya.

__ADS_1


Fika telah menyelesaikan ceritanya dan di berikan botol air minum kemasan baru oleh seorang penjual minuman yang sedang duduk dekat pengkolan ojek tersebut.


Tidak beberapa lama, seorang ojek yang tadi pergi sudah kembali bersama orang yang sudah menyelamatkan nya.


"mana orang yang ketangkep?"


Salah seorang tukang ojek bertanya pada kedua orang yang baru tiba tersebut.


"Sudah ku selesaikan."


Hanya sebuah jawaban singkat dari sang penyelamat Fika.


"Mas, terimakasih yah sudah nolong saya. maaf tadi saya belum sempat bilang."


"Sama sama Mbak, supaya lebih aman sebaiknya mulai sekarang pergi pulang kerja mbak anaik ojek aja."


Fika merasa omongan dari penyelamatnya bukan sebagai saran tetapi lebih seperti perintah halus. Namun Fika mempertimbangkan omongan nya.


"Iya yah, Pak Bambang mau kah tiap hari antar jemput saya? bayaranya nanti tetap disesuaikan tarif biasanya aja Pak."


"Maaf Neng, bukanya saya gak mau, tapi nanti takutnya pas saya jadwal jaga kan repot."


"Nanti Wawan aja yang antar jemput Mbak nya. mulai sekarang aja anterin pulang, ayuk Wan."


Perintah halus lagi yang keluar dari mulut penyelamatnya namun berbicara pada tukang ojek yang tadi pergi menjemput penyelamat Fika.


"Lah Man, kenapa gak sampean aja yang antar jemput?"


Salah seorang tukang ojek menyarankan.


"Aku ndak bisa eh.., lah nanti pas ada penumpang ku gimana?"


Akhirnya Fika menyetujui saran dari sang penyelamat yang belakangan Fika tau bernama Arman yang sehari hari bekerja sebagai ojol-mobil dan cukup sering juga mangkal di depan Gerbang yayasan tempat Fika mengajar dan bekerja.

__ADS_1


__ADS_2