
Sinar Matahari pagi menemani langkah Fika menuju Sekolah Taman Kanak Kanak Yang berada dalam naungan Yayasan yang dipimpin oleh Ibu Hesti kenalan dari Tante Novi, Ibunya Ardi.
Sebenarnya Fika tidak ingin menerima bantuan apapun dari Ardi. Hanya saja setelah penolakan dari Kakeknya sewaktu dia mendatangi rumahnya membuat Fika kalut tidak tau mau kemana lagi.
Membutuhkan pengalihan suasana dan biaya hidup akhirnya disinilah Fika mengajar murid muridnya.
Sebenarnya Fika tidak perlu bekerja karena rekening bank nya bertambah tepat dua hari setelah kepergianya. bahkan rekening bank nya ada penambahan jumlah yang sama tiap bulannya, Jumlah yang cukup besar.
Huh.. coba waktu itu gue buka sms banking sebelum gue tanda tangan kontrak, jadi kan gue gak perlu terima bantuan Ardi. Sial banget deh gue. lagian si Raven Kenapa cuma uang yang dia kirim tiap bulan sih? kenapa dia nggak nyari gue?
Fika merasa jengkel dengan sikap Raven yang tidak mencari dirinya.
Sudah sepuluh bulan Fika mengajar di sekolah ini, dan sudah sering pula dia menolak Ardi untuk menjemputnya, ajakan jalan atau sekedar makan bersama. Ketahuan banget jika Ardi membantunya dengan tidak tulusnya, seperti semalam tiba tiba Ardi dah nongol di depan rumah kontrakan nya dengan membawa sekotak Martabak. Dengan cueknya Fika tidak membukakan pintu, hingga akhirnya Ardi pergi.
Aahh seandainya yang datang itu Raven.
Pikiran Fika menerawang pada suami yang begitu dirindukan sekaligus di bencinya saat ini.
Cih, suami macam apa itu. Aahhh.. Pasti sekarang Raven sudah bahagia bersama Intan dan anak mereka. Tapi, kenapa sampai sekarang gue belum dapat gugatan cerai ya? Bagaimana Raven dan Intan? Masa Iya Intan mau dijadikan istri ke dua? Kan bego banget. Aakh! Pasti akal akalan Raven mengintimidasi Intan supaya mau menerima sebagai istri keduanya, secara sekarang Raven tidak bisa cere'in gue karena mau menguasai Danuyo Abadi Group.
Lalu Kakek? Masa tidak melihat? Ato Kakek melihat itu tapi tetap membela Raven? Masa Kakek gak sayang gue? Terus.. gue? Aaah auk ah.. mo kerja gue.
Begitu banyak kejanggalan dan pertanyaan di kepala Fika yang membuat Fika frustasi.
Siang setelah Fika selesai mengajar, Fika akan membantu mengurus administrasi toko penjualan peralatan dan buku sekolah murid di kantor Yayasan.
__ADS_1
Memasuki toko yang bersebelahan dengan kantor yayasan, Fika terkejut bukan main karena didalam toko ada Ardi dan Bu Hesti.
"Oh Bu Fika sudah datang, mulai hari ini Pak Ardi akan bekerja dengan kita sebagai acounting yayasan menggantikan Bu Lala yang harus pindah mengikuti suami yang dinas keluar kota."
Keterkejutan Fika dapat Fika atasi dengan menampilkan wajah datarnya lalu menyalami Ardi sekilas.
"Selamat bergabung."
untung sisa dua bulan lagi kontrak gue.
Fika bersyukur dalam hati dengan sisa kontrak kerjanya.
"Saya harap kedepanya kita bisa bekerjasama dengan baik"
Ucapan Ardi membuat Fika jengah apalagi tangan Ardi yang tidak mau melepaskan jabatan tangan Fika. Setelah berhasil menarik tangan nya Fika menuju meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan nya tanpa memperdulikan Bu Hesti yang menjelaskan tentang toko yayasan pada Ardi.
"Ra, pulang yuk. cek semua listrik. Kuncinya nanti kamu yang ngasih ke Denta di kantor ya."
"Okey Mbak. Besok sebelum mbak datang, kerjaan saya seperti tadi yah?"
"Iya. Minggu depan kamu sudah bisa bantu saya nyatet stok buku."
Setelah berpamitan pada Rara, Fika berjalan menuju gerbang sekolah. Dia hendak pulang, sebelumnya mau mampir ke minimarket dekat area sekolah untuk membeli beberapa cemilan.
Bukanya Fika tidak mendengar namanya di panggil, namun karena dia kenal dengan suara yang memanggilnya Fika pura pura tidak mendengar saja sampai tanganya di tahan oleh Ardi.
__ADS_1
"Hey, apa apaan loe?"
"Fika, kamu kenapa sih selalu menghindari aku?"
"Perasaan loe aja."
"Kalo perasaan ku, aku masih sayang sama kamu dan berharap kita bisa balikan seperti dulu lagi."
"Maaf, perasaan elo salah dan ngaco."
"Fika, apa sudah tidak ada pintu maaf untuk aku setelah apa yang sudah ku lakukan untuk membantu kamu?"
"Ardi, bantuan loe akan gue kembaliin, Total gaji gue satu tahun kerja disini akan gue kasih ke loe. Gak nyangka yah segitu gak tulusnya elo, tapi masih bisa bilang sayang ke gue."
"Aku gak butuh uang kamu. aku butuh kamu Rafika Ayudhita Prakasa."
"asal loe tau, gue udah bukan seorang Prakasa lagi."
Nada bicara Fika masih dengan santai lalu dengan gerakan gemulai Fika membalikan badanya meninggalkan Ardi yang terdiam kaku mendengar perkataan Fika.
"Apa maksud kamu bukan Prakasa lagi?"
Fika tidak menjawab pertanyaan Ardi dan tetap melangkah menjauhi Ardi.
Gue sekarang dah jadi Danuyo... Dan ntar lagi bukan Danuyo juga. Gini amat sih nasib gue.
__ADS_1
"Loe seorang Prakasa dan akan jadi milik gue."
Ardi berkata pelan meyakinkan dirinya sendiri.