
Menghabiskan akhir pekan nya di rumah, sambil memantapkan hati dan tekad membuat Fika benar benar lelah.
Heri senin Fika kembali bekerja dengan semangat yang dipaksakan karena kelelahan, sebenarnya sih lelah karena kebanyakan mikir.
Fiuh!! Bekerja Giat lah Fi sisa hari ini.
Seusai jam mengajarnya selesai Fika berjalan ke kantor yayasan menemui Ibu Hesti, Ketua Yayasan untuk menyatakan dirinya tidak akan memperpanjang kontrak kerjanya.
Saat di depan pintu kantor Bu Hesti, tanpa sengaja Fika mendengarkan pembicaraan dari dalam ruangan.
"Saya sungguh tidak habis pikir dengan Pak Zian. anda sudah empat tahun bekerja di yayasan ini, mengapa berbuat tindakan yang tidak terpuji seperti ini?"
"Bu, Ibu harus percaya pada saya. Saya tidak melakukan hal itu "
"saya harap omongan anda benar adanya. Kerena semua bukti laporan tertulis jelas mengarah kepada anda. Bukan pada karyawan lain."
"Entahlah Bu, saya juga tidak mengerti dengan laporan yang ada mengapa bisa ada tanda tangan saya."
"Pak Zian, saya sungguh menyayangkan situasi anda, tetapi saya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ada dengan hasil investigasi polisi nantinya. Sekarang, silahkan anda keluar masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."
Dengan tiga langkah Fika berjalan untuk sembunyi di balik tembok ujung kantor yayasan. tidak ingin keberadaan nya dilihat oleh Zian saat pria itu keluar ruangan.
Setelah mengetok pintu ruangan ibu Hesti dan berbasa basi sedikit, Fika memberitahukan pada Ibu Hesti jika dirinya tidak ingin memperpanjang kontraknya yang akan habis pada keesokan harinya.
__ADS_1
"Sangat disayangkan sekali Bu Fika tidak ingin melanjutkan kontrak. Padahal departemen HR sudah mempersiapkan kontrak baru untuk dua tahun dan kenaikan gaji loh. Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?"
"Maaf Bu, ada urusan keluarga yang harus saya selesaikan terlebih dahulu."
"Ooh... saya mengerti keadaan anda. baiklah jika begitu, saya berharap urusan cerai anda bisa lancar. sekedar nasehat aja nih yah, jika laki laki terlalu lama membiarkan istrinya berjuang sendiri itu bukanlah suami yang baik. Oia, omong soal baik Pak Ardi sangat baik loh Bu Fika kan selama ini beliau yang membantu anda, membayar kontrakan rumah segala. orang tuanya juga cukup terpandang."
Cerai? Ardi bayar kontrakan gue? waah, Bravo to Ardi yang sudah berhasil men-sengklek-kan otak Bu Hesti.
Rasanya Fika ingin meggaruk wajah Bu Hesti karena melontarkan perkataan yang sangat tidak profesional.
"Maaf Bu Hesti, entah rumor apa yang anda dengar. hanya saja saya berhenti bukan ingin mengurus perceraian."
"Ooh, maaf kalo begitu Bu."
Fika berdiri dari kursinya, menganggukan kepalanya sopan lalu keluar ruangan ketua yayasan dengan langkah santai tanpa memeperdulikan tatapan permusuhan Ardi dari bilik kerjanya.
Saat akan naik ojeknya, Fika mampir mencari satpam yang setahu Fika mengenal Zian karena pernah mendengar obrolan Zian dan satpam itu dan seperti ya mereka tetangga.
"Pak Didik, saya mau nanya. tau rumahnya Pak Zian? ada yang mo saya berikan ke dia nih."
Terlihat jelas perubahan wajah Pak Didik saat Fika menyebutkan nama Zian. Wajah ketakutan, grogi, entah apalagi yang ada di wajah satpam itu.
"Hhmm.. anu Bu, saya memang tau. hanya saja saya kesian dan gak enak ke Pak Zian nya karena tuduhan itu."
__ADS_1
"Tolong lah Pak, soalnya saya cuma mi ngasih laporan saya. saya sih gak tau persis masalahnya pak Zian dengan Yayasan. Tapi mungkin laporan saya bisa membantu Pak Zian."
Pada akhirnya Pak Didik memberikan alamat rumah Zian. Lalu Fika menunjukan alamat tersebut pada Mang Wawan berharap Mang Wawan bisa mengantarnya ke alamat tersebut.
"Hmm.. Mbak Fika minta antarkan saja ama Arman. Dia tuh tau banget seluk beluk jalan kota ini."
"Gitu yah? oke deh nanti saya hubungi dia."
"Bu Fika, kalo mau kerumah Pak Zian lebih baik pakai motor, soalnya gang ke rumahnya gak bisa di lalui mobil."
Selepas Maghrib, Mang Arman sudah menjemput Fika menggunakan motor Wawan. Fika menunjukan alamat yang diberikan oleh Satpam yayasan tadi siang.
Memasuki sebuah Gang yang lumayan sempit diantara deretan ruko ruko, lalu berbelok kearah kanan setelah itu belok lagi kearah kiri tiba lah Fika dengan Mang Arman di sebuah rumah sederhana namun cukup bersih bercat kuning telur dan di teras tidak ada penerangan lampu, namun karena bantuan lampu jalan, rumah tersebut terlihat tidak terlalu gelap.
Tampak dari luar jika di dalam rumah sedang ada tamu. Tidak ingin mengganggu tamu tersebut Fika memutuskan secara perlahan masuk halaman kecil rumah tersebut dan duduk di teras sempit, di ikuti Mang Arman.
"Zian, kamu harus akui itu perbuatan atas penggelapan dana yayasan itu. Suami saya sudah menunjuk pengacara untuk membantu kamu. kamu tidak perlu kahwatir hukuman yang kamu jalani tidak akan lama, paling hanya beberapa bulan."
Fika bergidik mendengar perkataan suara dari seorang perempuan yang meminta Zian untuk mengakui perbuatanya.
Fika mendatangi rumah Zian hanya ingin memberikan Flashdisk yang berisi laporan Keuangan Hasil Penjualan dan Stok Toko Yayasan yang sewaktu beberapa hari lalu Fika lupa memberikan pada Zian dan meminta maaf karena itu.
Fika tidak menyadari jika situasi Kantor Yayasan saat itu sudah cukup kacau, khususnya divisi Keuangan yang berada di bawah tanggung jawab Zian.
__ADS_1