
Seharian itu Fika menyibukan dirinya di apartemen Raven. merapikan apartemennya, menyalakan mesin cuci baju untuk mencuci pakaian kotor yang mereka bawa dari Amerika, bahkan menyiapkan makan siang untuk Raven.
Pukul 11.30 kegiatan mencuci baju sebenarnya belum selesai, karena mesin cuci masih dalam mode mengeringkan. Fika mendial nomer ponsel Raven.
"..."
"Hallo Rav? mau ku antarkan makan siang?"
"gak usah"
"Kamu mau makan diluar ama rakan mu yah?"
"..."
"Baiklah kalau begitu. sampai ketemu nanti malam yah."
"ehem."
Fika memandangi ponselnya karena sambungan telponya sudah ditutup Raven terlebih dahulu.
Sejujurnya sih Fika merasakan kegetiran dalam hatinya karena penolakan Raven. Namun apa mau dikata, menghadapi orang lagi kecewa dan marah kan butuh kesabaran ekstra.
Dengan tenang Fika kembali menyelesaikan pekerjaan nya.
Ceklek.
Pintu utama terbuka, Fika yang sedang berdiri memegang keranjang pakaian setengah kering yang baru di keluarkan dari mesin cuci terkejut ketika seorang wanita yang berusia sekitar beberapa tahun diatasnya masuk kedalam apartemen. Wanita tersebut juga kaget mendapati Fika.
"Eh, maaf Mbak siapa yah?"
"Loh? sampean yang seharusnya saya tanya kok ada dalam apartemen majikan saya?"
Lalu Fika mengerti jika mbak mbak yang baru masuk apartemen ini adalah asisten rumah tangga Raven.
__ADS_1
"Mbak, saya Fika. Say..."
"Ooooalaah, maaf Bu.. saya pangling liat ibu. soalnya di foto ama aslinya agak beda banget. cantikan aslinya. Eh, Bu.. sini sini biar saya yang kerjakan. Aduuuh duh, saya jadi gak enak ibu malah sudah selesai nyuci."
Fika hanya bisa melongo mendengar penjelasan panjang kali lebar dari mbak yang bahkan belum menyebutkan namanya sendiri. apalagi saat ini Mbak tersebut langsung mengambil keranjang yang sedang di pegang Fika.
"Eh, maaf Mbak, namanya siapa?"
"Ooalaah sampe lupa nyebutin nama, saya Lastri Bu. Saya datang hari senin sampe jumat saja dari jam 8 sampe jam 5. tugas saya cuma di suruh bersih bersih, nyuci setrika ama pastikan ada Roti atau makanan untuk sarapan bapak besokan nya. Tapi tugas utama saya yah nungguin rumah ini, kalau Ibu datang saya harus langsung hubungi bapak."
Fika tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang terkejut mendengar kalimat terakhir dari mbak Lestari ini mengenai tugas utamanya.
"Bapak ini aneh aneh yah? gimana coba Mbak Lestari tau saya datang secara kan kita belum pernah ketemu."
"Lah, saya kan dilihatkan foto ibu. lagian di meja dalam ruang kerja bapak kan ada foto ibu, belum lagi foto ibu ama bapak yang tergantung di dinding kamat gede banget. Jadi saya terbiasa ngeliat wajah ibu."
Foto dalam kamar? kayaknya gak ada deh?
"Mbak saya tinggal dulu yah."
Fika tidak mendapati foto apa apa dalam kamar bersegi empat berukuran 4x5 meter ini. Namun Fika dapat melihat sebuah paku di salah satu dinding.
Fika memperhatikan dengan seksama seisi kamar, menginvestigasi seisi kamar.
Lalu Fika menemukan sebuah bingkai yang diletakan terbalik hinggga menampakan sisi belakang bingkai tersebut didalam lemari gantung pakaian Raven. Fika mengambil dan dan membaliknya.
Fika tidak dapat menahan lajunya airmata yang membasahi kedua pipinya. Sebuah bingkai sederhana namun terlihat elegan dengan list berwarna putih yang membingkai Foto dirinya ketika dipeluk dari belakang oleh Raven. Bukan sebuah hasil jepretan dari fotografer, bukan juga dengan view pemandangan atau spot foto khusus.
Foto ini di ambil dari kamera HP Raven saat mereka sedang bercanda menikmati obrolan tentang kegiatan sehari hari mereka di tempat kerja masing masing. Dan foto ini di jepret didalam kamar ini, lebih tepatnya diatas tempat tidur ini.
Bayangan akan bahagianya hari itu melintas dipikiran Fika. Tangis Fika semakin menjadi. Tangisan kemarahan akan kebodohannya bercampur dengan tangisan kebahagiaan karena ternyata Raven masih memikirkan dirinya.
Fika mengangkat Bingkai Foto tersebut lalu menggantung kembali bingkai foto tersebut, mengembalikan pada tempatnya semula.
__ADS_1
Ternyata, semalam Raven masuk duluan ke kamar, karena ingin menyembunyikan foto ini yah..
Pikiran bahagia Fika tidak dapat dirinya tahan. Fika meghapus sisa sisa air mata di mata dan wajahnya sambil memandangi terus foto dirinya di peluk oleh Raven.
"Duuh, gue jadi tambah kangen ichh.. Semangat Fika. lo harus bisa."
Fika menyemangati dirinya sendiri. lalu keluar kamar mencari keberadaan Mbak Lestari untuk mengorek informasi lebih dalam tentang Raven selama ditinggalkan nya.
"Mbak Lestari, saya mo nanya apa mbak Lestari gak merasa aneh saya berbulan bulan gak ada di sini?"
"Gak Bu, kan dari awal masuk kerja Pak Raven sudah ngasih tau kalo ibu lagi lanjut studi di Bandung."
"Gitu yah? oia, tamu Bapak siapa aja yang datang?"
"Kalo selama saya jaga siang sih, gak pernah ada tamu Bu, tapi kalo malam dan sabtu ato minggu saya kurang tau."
"Ooh iya yah, mbak kan cuma masuk siang dan weekdays."
"Tapi sepertinya Bapak juga gak trima tamu deh Bu. Soalnya kalo saya perhatikan dari cucian piring. tiap hari senin saya masuk paling cuma tiga cangkir bekas kopi aja Bu."
"Gitu yah? teliti sekali yah Mbak Lestari ini."
"Heheh maklum Bu.. terbiasa perhatiin kebiasaan suami dan anak."
Entah mengapa jawaban pembantu rumah tangganya sedikit menyayat hati Fika. Mungkin karena dia sadar jika dirinya dulu sangat jarang memperhatikan kebiasaan suaminya sendiri.
"Mbak, Saya mo kluar. nanti kalo sudah selesai langsung pulang saja gak usah nunggu jam 5."
"Beneran gak apa nih Bu?"
"Iya. saya siap siap dulu yah."
----
__ADS_1
Dua jam Fika sendirian mengelilingi Mall yang berada sama dengan bangunan apartemennya tepatnya berada dibawahnya membuat Fika bosan.
"Ke kantor Raven aja kali yah? skalian liat liat."