Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 25


__ADS_3

"Pak Zian mau langsung ke rumah sakit? bareng saya saja. saya mau besuk ibu nya Pak Zian."


"Hmm.. anu. hhmm.."


"Ayo Pak, barengan saya naik mobil sewaan. Mang Arman dah mau pulang?"


"Saya ikut Mbak Fika saja."q


Saya masih sayang kepala saya Mbak.. ninggalin Mbak Fika dalam situasi begini bisa abis di bantai Pak Raven saya mah


Arman tidak habis pikir dengan Fika yang begitu polos tidak menyadari situasi yang bisa membahayakan dirinya sendiri, karena baru saja Fika membongkar kejahatan Ardi tidak mungkin Ardi atau Sahlendra akan tinggal diam.


"Gak apa nih? terimakasih yah Mang."


Setelah menjenguk ibunya Zian, Fika berpamitan pada Zian karena hari sudah malam.


"Saya permisi dulu yah Bu. kalo ada perlu apa apa, jangan sungkan sungkan."


diluar kamar rawat inap Ibunya Zian, Zian mengucapkan terimakasih kembali pada Fika dan Arman karena sudah membantunya.


"Eh.. hmm anu, untuk biaya UGD yang waktu itu nanti akan saya ganti."


"Gak perlu. toh Pak Zian masih harus bayar biaya rawat inap ibunya Pak Zian. Saya permisi yah Pak"


---


Saat Fika mendekati rumah kontrakan nya masih menggunakan mobil sewaan dari Arman, Fika melihat beberapa orang laki laki ada yang berdiri didepan pagar rumahnya, ada juga yang berdiri di sebrang rumahnya.


Duh... perasaan gue gak enak. kenapa yah?


Fika menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah. sambil mengamati sekitar rumahnya.


Sebagai pewaris tunggal perusahaan besar Danuyo Abadi Group, Fika sedari kecil sudah di ajarkan untuk bersikap waspada terutama yang berhubungan dengan keamanan dan keselamatan oleh kedua orang tuanya semasa mereka masih hidup.


Bahkan setelah orang tua nya telah tiada, Kakek yang mengasuhnya pun semakin mempertajam tingkat kewaspadaan Fika.


Fika memutuskan untuk membelokan mobilnya ke Blok lain dari Perumahan tempat tinggalnya.


Tok... Tok...

__ADS_1


Dengan kewaspadaan tinggi, Fika bersiap menstarter mobilnya saat seseorang mengetok kaca sisi penumpang mobilnya.


"Oh, Mang Wawan kok ada disini?"


"Loh Mbak Fika toh. ngapain disini? tadi saya baru ngedrop Bu Anton depan rumah Mbak Fika trus pas mo pulang liat mobil Mang Arman. kirain Mang Arman nya, oia, Mbak depan rumah mbak rame loh, teman temanya yah?"


"Eh Bukan Mang, masih ada yah?"


"Ooh.. bukan yah. kalau begitu sebaiknya Mbak Fika nginap tempat sodara dulu malam ini."


"Iya Mang makasih saranya yah."


"Saya permisi dulu Mbak."


Wawan kembali ke posisi jaganya terhadap Fika setelah menyampaikan pesan nya pada Fika, yaitu menyarankan Fika untuk jangan kembali ke rumah kontrakan nya. Meskipun Wawan tau jika Fika tidak memiliki keluarga di Bandung.


Eh, Busyet... gue kan gak punya keluarga. nginap dihotel aja kali yah.


---


"Non Fika... bangun Non. udah siang loh."


"Non, udah jam sembilan loh."


Sekali lagi suara Bik Sum terdengar. Setelah mengerjapkan matanya, Fika melihat sekeliling kamar tidurnya yang masih berantakan karena semalam dia belum selesai menyimpun buku buku yang dia bawa dari rumah kontrakan nya kemarin siang.


Setelah empat malam menginap di hotel sejak melihat beberapa pria menyatroni rumah kontrakan nya di Bandung, akhirnya Fika memutuskan untuk dengan cepat kembali ke rumah kontrakan nya untuk membereskan barang barang pribadi nya dengan bantuan Rara yang memasukan dalam kardus yang sudah dia siapkan dan Mang Arman yang berjaga di luar sekaligus mengangkut kardus kardus kedalam mobil Mang Arman yang Fika sewa.


Dan disinilah Fika, berada di rumah peninggalan almarhum orang tua nya sejak. berjalan perlahan menuju pintu kamar yang digedor oleh Bik Sum.


"Non, ayo toh bangun."


"Iya Bibik Sum sayaaang, ini dah bangu... awww!"


Fika mengelus keningnya dengan satu tangan nya dan tangan lainya mengambil ponsel yang dengan sengaja di tempelkan oleh Bil Sum ke keningnya.


"itu Tante Mami di telpon."


Bik Sum menyebutkan nama panggilan anak kedua dari Kakek Prakasa yaitu mami nya Deanne yang merupakan tante kesayangan Fika yang melakukan panggilan video call

__ADS_1


"Tante.. apa kabar?"


"Kabar baik sayang. kamu baru bangun tidur yah? kamu apa kabar?"


"Baik tan, kok baru telpon sih? Fika kangen loh."


"Tante gak bisa telpon lah, kan Fika sedang dalam misi menghilang. Tidak ingin di ketahui keberdaan nya apalagi di ganggu."


Fika hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar sarkasme dari tante tersayangnya tentang kelakuan yang dia lakukan satu tahun terakhir.


"Iiishh.. tante gitu deh.. Fika tambah love deh.."


"I love you too dear.. well, will you come here? Your grandpa so missing you."


"Yes. Yes... I want to. I'll prapare.."


"Ok. than Dean will pick you up tomorrow."


"What? so fast..."


"Beib.. gue mau tunangan minggu depan. lo kudu datang cepet."


"Deee.. DeeDee sayang! miss you a lot."


Fika menjerit ketika Deanne sepupu tersayangnya menampakan wajahnya di layar ponsel Bik Sum.


"Srius? lo mau tunangan? dengan siapa?"


"Nanti juga lo tau. yawdah cepetan kesini. skalian Bik Sum yah."


-----


Siang itu setelah melakukan panggilan video call dengan sepupu dan tantenya, Fika memutuskan untuk pergi kesebuah tempat.


Gue harus selesaikan dengan cepat. Harus beres. Diri gue taruhan nya.


Batin Fika berbicara mengomando otaknya untuk melakukan hal yang benar.


*Terimakasih yah untuk semua pembaca yang setia. maaf episode ini agak lama Up nya.. disebabkan beberapa kesibukan author nih...

__ADS_1


Silahkan lanjutkan membaca nya 😘😘


__ADS_2