Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 31


__ADS_3

"Raven, ayo ikut. ada yang harus aku bicarakan denganmu."


Raven mengikuti dari belakang Kakek dan Fika menuju dalam mansion. Raven menikmati pemandangan yang ada didepanya, punggung putih nan halus milik istrinya yang terlihat seolah mengintip dari balik gaun yang dipakainya. lekukan tubuh istrinya setiap kali melangkahkan kakinya mampu mengaktifkan semua panca inderanya


Sialan!


Raven merutuki dirinya sendiri karena pemandangan yang dia lihat mengakibatkan bagian bawah tubuhnya, yaitu juniornya ikut menikmati juga.


Kakek berhenti tepat didepan pintu ruangan kamar Fika yang tentu saja pernah Raven gunakan juga saat terakhir kali dia berkunjung kesini untuk menjenguk kakek saat kesehatan nya sedang drop.


"Fika, biar Raven yang mengantarkan Kakek ke kamar. kamu istirahat saja duluan."


Kakek menoleh kearah Raven yang berada di belakang dan mengkode Raven agar mengambil posisi Fika untuk menggandengnya.


pada akhirnya Fika bergeser dan memunggungi pintu kamarnya memberi kesempatan pada Raven untuk mengambil posisinya.


Fika memandangi kedua pria yang berlalu dari hadapannya. tatapan nya tidak lepas dari pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut rapi berwarna hitam pekat.


Indahnya... Rav, pengen meluk nih...


Tanpa Fika sadari kelakuanya yang seperti penggemar fanatik artis Korea itu diketahui oleh kedua pria yang berjalan menjauhinya, mereka melihat pantulan Fika dari pintu kaca depan mereka.


"Apa ini?"


Fika mengernyitkan keningnya melihat sebuah koper berwarna abu abu tua berukuran sedang. Membaca tag boarding pada koper, Fika kembali melangkahkan kaki keluar kamar menuju kamar kakek.


Tanpa mengetok pintu dan tanpa permisi Fika masuk ke dalam kamar


"Kenapa kopermu ada di kamarku?"


Raven mengarahkan pandangannya ke Kakek Prakasa yang baru saja melepaskan jas dan dasi kupu kupunya langsung menjawab Fika

__ADS_1


"Memangnya dimana Raven harus tidur jika bukan bersama istrinya?"


"Tapi Kek, kam..."


"Cukup. Saya akan bermalam di hotel. lagipula besok siang saya harus kembali ke Indonesia."


Belum sempat Fika melanjutkan omonganya sudah di sela oleh Raven.


"Aah, Raven entah apa yang ada di otakmu membantu cucuku menumpuk batu dalam kepalanya."


Lalu Raven menyalim tangan kanan Kakek dan pamit lalu berjalan keluar kamar Kakek hendak mengambil kopernya dalam kamar Fika menuju entah hotel yang mana.


"Fika, Kakek minta maaf karena kakek tidak memahami perasaan cinta mu yang begitu mendalam pada Ardika Sahlendra. Dan pernikahan dengan Raven membuat mu tersiksa. Jika kamu enggan berbicara dengan Raven biarlah Kakek yang akan meminta pada Raven untuk segera mengurus perceraianmu. Kakek tidak tau jika kamu begitu benci pada Raven hingga tidak betah harus bersama dengan dia, bahkan kamu rela menyuruhnya untuk pergi malam mal..."


Fika sudah meninggalkan Kakek yang belum menyelesaikan kalimat panjangnya yang lebih tepatnya kicauan ngelantur nya.


Sedetik tubuh Fika berbalik badan hendak keluar Kakek tidak dapat menyembunyikan senyuman penuh kemenangan nya.


"kepancing dia."


Fika belum sampai didepan kamarnya ketika melihat Raven baru saja keluar dari kamarnya mendorong kopernya dan akan menutup pintu kamarnya. Tatapan mereka bertemu, Raven menganggukan kepalanya menandakan berpamitan pada Fika.


"Tunggu. ini sudah malam, kamu mau kemana?"


"Yang pasti ke tempat yang akan menerima kehadiranku dengan baik."


Jleb.


apakah ketempat perempuan tadi? bermalam dengan dia? tadi siapa yah namanya? huaaaa NO!!


Fika tidak dapat mencegah cemburu dalam dadanya.

__ADS_1


"Maaf. tad..di hhmm.. tadi aku..aku cuma hmm kaget saja."


Fika berbicara dengan terbata bata karena gugup menerpanya, Kepala Fika masih tertunduk menyembunyikan wajahnya dari tatapan intens Raven yang sejak Raven tiba di acara pertunangan tadi sudah dilakukannya. Fika mengetahui nya sejak tadi hanya saja rasa malunya teralihkan dengan rasa penasaran terhadap perempuan yang datang bersama Raven.


"Ka-mu ga..gak capek?"


"Lebih capek lagi harus berdiri berlama lama di lorong ini."


"oh. Eh.. hmm mari masuk, ka-mu kamu ma.."


Tanpa menunggu Fika menyelesaikan kalimatnya, Raven kembali masuk kedalan kamar Fika.


Sialan Raven!! kemana harga diri lo? main masuk aja lo..


Raven merutuki dirinya karena proses antara otak dan tubuhnya tidak sinkron. sejak awal Raven berkeinginan jual mahal pada Fika, namun tubuhnya malah menyambut ajakan Fika. Tubuh Raven lebih memilih kata hatinya untuk dapat menikmati malam ini dapat tidur seranjang lagi dengan istrinya.


Di dalam kamar Raven meletakan kembali kopernya ditempat semula lalu membukanya dan mengeluarkan pakaian tidurnya.


Fika masuk kedalam kamarnya dengan pelan, yang tiba tiba terasa asing karena ada makhluk menawan didalam kamarnya.


"lo duluan ato gue?"


Melihat Fika yang masih berdiri mematung di depan pintu. akhirnya Raven membuka pembicaraan dengan menunjuk kearah kamar mandi menggunakan dagunya.


"Eh, si-silahkan..."


Fika kembali menelan ludahnya karen belum menyelesaikan kalimatnya, Raven kembali sudah meninggalkan nya.


Sabar Fika... Sabar, mang gitu sikap orang marah, pan elo yang ngebuat dia marah.


Sementara didalam kamar mandi, Raven menatap pantulan dirinya di cermin beberapa kali dia menarik napas lalu menghembuskan nya kembali kemudian dirinya memegangi dadanya yang sedari tadi dia tahan agar tidak terdengar oleh siapapun gemuruh yang bekecamuk didalam dadanya begitu kencang.

__ADS_1


Entah apa yang dirasakanya jika melihat dan berhadapan dengan Fika seperti sekarang ini, Marah, Rindu, Gengsi, Kangen, Ingin Mengamuk, Ingin Memeluk, Ingin Memaki, Ingin Bercumbu...


Aaakhh!!


__ADS_2