
Siang hari, Fika terpaksa mengikuti keinginan Raven, bukan karena takut tetapi malas berdebat yang dipastikan juga dirinya akan kalah.
Tepat pukul dua belas lebih tiga puluh menit, Raven menarik Fika dari bangku meja kerjanya, menggandeng mesra tangan kanan Fika menyusuri kantor hingga masuk kedalan mobil. Fika hanya bisa pasrah terhadap lirikan lirikan sejumlah karyawan yang melihat padanya dan Raven.
Didalam Mobil, Fika sempat melayangkan protesnya namun tidak mendapat respon apapun dari Raven
"Mas dengerin aku ngomong gak sih?"
"Dengar dong."
"Kok gak ditanggapi?"
"Dikantor tadi kan Mas sudah bilang Ti.Tik, Mas akan gandeng sayang kalo lagi jalan bareng. Masih untung loh gak Mas rangkul."
"Iishh, cape deh ngomong ama Mas."
"Yawdah gak usah ngomong, cium mas aja yah?"
"Huuuuh, maunya deh."
Merekapun tertawa bwrsama. Obrolan receh dalam mobil membuat perasaan Raven dan Fika menjadi hangat.
Fika ingat saat awal awal pernikahan, mereka memang jarang keluar bersama selain karena kesibukan masing masing, Tentu saja karena dirinya yang masih belum membuka diri terhadap pernikahan mereka dan pada pribadi Raven sebagai suaminya. Tiba tiba Fika tersadar dari lamunan nya karena Raven mencium pipi kanan nya.
"Awch. Mas iih"
"Dilarang ngelamun kalo lagi ama suami."
"Siapa yang ngelamun., eh makan siang dulu yuk mas?"
__ADS_1
"Tuh kan beneran ngelamun. tadi kan aku dah nanya kita mo makan dimana?"
"Ooh iya kah? he he he.. maaf yah mas. terserah mas aja deh, soalnya aku kan gak tau tempat makan yang enak."
Raven membawa Fika ke sebuah restaurant yang cukup mewah, tempat biasa Raven dan rekan bisnisnya makan siang bersama.
Saat memasuki restaurant yang tidak terlalu ramai, tubuh Raven menegang karena dia melihat Sahlendra sedang makan siang bersama salah seorang rekan nya yang Raven ketahui sebagai salah seorang petinggi di kepolisian.
Sial. bukankah dia lagi ditahap penyidikan? ngapain disini?
Fika menyadari perubahan yang terjadi oada sikap suaminya lalu mengikuti arah pandang suaminya. Fika menggenggam tangan Raven hendak menarik mencari meja.
"Kita pindah restaurant saja."
"Kalo kita keluar, dia akan semakin meremehkan Mas. Tapi kalo kita masuk dengan senyum dan mesra, akan ada dua lalat sekaligus yang kena tepok."
Fika berbicara pada Raven lalu menunjuk menggunakan dagu nya ke arah Ardi yang baru saja keluar dari arah toilet. Sekilas Raven tersenyum manis pada Fika dan memuji dalam hati sikap tenang dan otak Fika jika urusan taktik apalagi taktik ngerjain orang, jempolan banget.
Mereka memesan makanan tanpa sekalipun melirik kearah Sahlendra dan Fika. Sesekali Raven mencium punggung tangan Fika ditengah tengah obrolan mereka sedangkan Fika tersenyum manis sepanjang obrolan sampai makanan mereka datang barulah mereka saling melepaskan tangan.
"Ehem, Selamat Siang Raven apa kabar?"
Raven mendapatkan sapaan yang Raven tau hanya basa basi dari Sahlendra yang dibelakangnya berdiri juga Ardi dan Petinggi Kepolisian itu.
"Siang."
"Oh, ini istri kamu? Rafika kan? apa kabar?"
Gantian Fika yang mendapatkan sapaan manis lebay dari Sahlendra.
__ADS_1
"Slamat siang juga."
"Saya gak nyangka kalian menikah, yaa.. mengingat betapa dulunya kamu dan Ardika begitu mesra. Oh, Raven kamu tau kan kalo Fika ini mantan nya Ardi?"
Bukan tanpa maksud Sahlendra membuka lembaran masa lalu Fika dan Ardi dan menekankan kata mantan, Sahlendra sangat tau jika Raven mudah tersulut emosi.
Dengan gerakan elegan dan halus tangan Fika terulur mengusap punggung tangan Raven yang berada di atas meja mengalirkan ketenangan pada Raven, dan Raven tersenyum pada Fika. Saat Raven hendak menjawab pertanyaan Sahlendra sudah di dahului oleh Fika.
"Suami saya sudah tau kok kalo saya mantannya Ardi. Bahkan suami saya juga sudah tau dengan pasti kalo saya adalah satu satunya perempuan yang belum pernah Ardi tiduri."
Sahlendra sempat terkejut mendengar jawaban Fika yang tenang dan senyum manis menekankan kata tiduri itu.
"Apa kamu yakin sudah tidak mencintai Ardi lagi, kalian pacaran lebih lama daripada usia pernikahan mu dengan Raven."
"Saya yakin banget sudah tidak mencintai Ardi sejak dia nampar saya hanya karena saya tidak mau memberikan tubuh saya ke dia."
Raven dapat melihat perubahan wajah pada Ketiga orang yang berdiri di samping mejanya. Lalu tersenyum dan menganggukan kepalanya saat mendengar pertanyaan Fika.
"Sayang simpan dengan baik kan rekaman cctv yang aku dapatkan atas perintah dari kantor polisi?"
Ardi yang sejak tadi terdiam akhirnya buka suara.
"Fika, apa kamu lupa dengan yang sudah kita lakukan selama di Bandung?"
"Oooh, Istri saya tentu tidak akan lupa pada aksi percobaan penculikan atas perintah dari kamu. dan Oia, istri saya juga tidak akan lupa rasa ketakutan yang kamu ciptakan karena mengirim beberapa preman untuk menakut nakutin istri saya. Kamu ngarep sekali istri saya akan minta pertolongan ke kamu."
Ardi hendak membuka mulut, namun terpotong oleh suara dari salah satu petinggi kepolisian yang ada bersama mereka tadi.
"Aah, Pak Sahlendra sebaiknya saya pergi dulu. masih banyak yang harus saya kerjakan."
__ADS_1
Sahlendra dan Ardi sama sama menganggukan kepala memberi hormat pada Petinggi Kepolisian itu.