Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 44


__ADS_3

Fika tidak terima dengan kelakuan Raven pada dirinya pagi ini. Sedetik pintu apartemen ditutup oleh Raven yang keluar tanpa pamit, Fika hanya bisa ngedumel sendiri


"Lo harus jelasin kelakuan loe ke gue. enak aja main nyetop di saat gue lagi enak."


Sementara di sepanjang Perjalanan menuju kantor, tak henti henti nya Raven mengeluarkan makian dari mulutnya.


Entah ditujukan untuk siapa semua sumpah serapah yang dia lontarkan.


Segala Makian itu intinya berisi tentang penyesalan atas tindakan nya yang tidak bisa kompromi dengan otak dan hatinya, menyentuh Fika bahkan berhasil bercinta dengan Fika.


Lalu isi makian selanjutnya adalah penyesalan nya karena tidak menuntaskan percintaan yang dia mulai duluan. Sebenarnya sih hal ini yang bikin keki Raven, karena sampai mendekati gedung kantornya dia tidak bisa mengendalikan juniornya, dan tentu saja rasanya... menyiksa sampai ke tulangnya.


"Sialan Fika!!"


Nah kan Fika lagi yang disalahkan. Hanya karena tidak bisa mengendalikan hasratnya


Gimana Fika tidak disalahkan?


Raven mengingat kejadian 4 tahun lalu ketika Raven mengunjungi Intan di London dan saat itu Intan berhasil menggodanya sampai akhirnya mereka bercinta dalam kamar apartemen Intan, Saat itu Raven secara tiba tiba menghentikan percintaan yang begitu menggebu dengan Intan karena teringat akan dosa yang dia lakukan jika meneruskan acara bercintanya.


Saat itu rasanya tidak seperih ini. Bahkan saat itu Raven secepat kilat dapat mengendalikan juniornya dan bersikap biasa pada Intan, meski beberapa kali Intan mencoba kembali menggodanya.


Tapi sekarang?? Bodohnya Raven menghentikan ritual yang membawa pahala dan menyiksa diri sendiri. Perih nya tuh bagai luka terkena perasan jeruk nipis gitu di sekujur tubuh Raven.


"Fika... lo apain gue?"

__ADS_1


Kembali Raven menyalahkan Fika atas pengaruh besar yang ditimbulkan Fika terhadap dirinya secara khusus junior dan otak Raven.


Tiba di parkiran kantor, Raven masih berada didalam mobil menarik lalu menghembuskan napas dilakukan nya beberapa kali untuk menenangkan diri dan tentu saja junior nya yang tidak bisa di ajak kompromi.


"Sial. air dingin gak mempan, seharusnya gue nyabun aja tadi."


Nah... akhirnya Raven menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menggunakan sabun untuk penyelesaian lebih lanjut atas juniornya. Eh, malah milih hanya mandi air dingin. Bener bener pilihan yang salah kan?


Setelah dirasa sudah mulai turun, Raven memasuki gedung kantornya dengan wajah yang tidak bersahabat seperti biasanya.


Tidak ada anggukan kepala sebagai balasan ucapan selamat pagi dari karyawan nya, Tidak ada salam selamat pagi pada direksi yang lebih tua usia.


Raven hanya berjalan cepat ingin masuk kedalam ruanganya, takut jika hal memalukan dari celana bagian depan nya terjadi. Gak lucu kan jika terlihat adanya tonjolan dari dalam celananya?


Hingga pukul 11.20 kesembarang arah Raven melemparkan bulpen yang dia gunakan untuk merevisi laporan yang di buat bawahan nya. Dia benar benar tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan nya hari ini.


drrt... drrt...


Ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Dean pada layar ponselnya.


"Ya?"


Ciri khas Raven ketika menjawab telpon dari orang yang dia kenal dan dalam keadaan sedang gusar seperti saat ini, tanpa salam dan tidak ramah sekali.


"..."

__ADS_1


"No! You can't do that! She belongs to me. bring her back to me now!"


"..."


"Fika? I am sure she can't do it."


"..."


"I know her very well."


"..."


"Dengar Dean. Saya menginginkan Diara bukan Fika."


"..."


Didepan pintu ruang kerja Raven, Fika meneteskan air matanya yang kembali tidak dapat dicegahnya. Fika memutar tubuhnya, lalu meletakan paper bag berisi makanan yang dia masak dari rumah.


Maksud hati ingin men-service Raven sambil bertanya alasan dia menghentikan di tengah jalan acara ena-ena mereka pagi tadi.


Nasib gue kali yah gak cocok ama nih kantor, tiap ke sini yang ada kecewa mulu sih?


Fika memikirkan nasibnya sambil berjalan keluar gedung kantor untuk pulang kembali.


❤ miris banget yah nasib Fika... sabar menanti lanjutan nya yaa... 😘 ❤

__ADS_1


__ADS_2