Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab 34.


__ADS_3

Fika jalan mondar mandir didalam kamarnya, lalu duduk di sofa menautkan keningnya. Tidak lama kemudian dia mengulang kegiatan sebelumnya... ya, mondar mandir lagi. Bener bener seperti setrikaan Fika ini.


hanya karena supaya tau bagaimana caranya mengetahui jadwal penerbangan Raven kembali ke Indonesia.


Tanpa Fika sadari pintu kamarnya terbuka, saat ini Fika sedang duduk dipinggr tempat tidur memeluk bantal yang semalam digunakan oleh Raven.


"Ini sarapan lo."


Fika terlonjak melihat Raven memegang nampan berisi sarapan. Senang bukan kepalang dirinya mendapat perhatian dari Raven.


"Manja. Kakek sudah tua, dah gak seharunya dia mikirin kamu sudah sarapan ato belom, dan ingat gue bukan pembokat lo."


hiks hiks hiks, ternyata dia disuruh kakek.


"makasih."


Sebenernya sih percuma fika mengucapkan terimakasih karena Raven sudah berlalu dari hadapanya dan duduk di sofa.


"Kembalikan pasport gue."


uhuk.. uhuk.. Fika tersedak roti sandwich yang baru saja masuk dalam mulutnya.


Fika meminum air putih dengan pelan sementara otaknya masih berpikir kok Raven tau dia yang ambil pasport di atas meja.


"mana aku ta.."


"Gue letakan diatas meja ini. Gak mungkin dia bisa jalan sendiri berpindah tempat."


Fika menundukan kepalanya saat mendengar omongan Raven. Sandiwch yang seharusnya terasa lezat tina tiba rasanya seperti daun buah pepaya yang direbus tanpa di beri garam atau bumbu lainya.... pahiiiit bangeeet deh.


Fika berdiri, masuk kedalam walk in closet lalu membuka tas slempangnya mengeluarkan file-wallet Raven.


"Apakah aku boleh ikut kembali ke apartemen kamu?"


"Mo ngapain?"


"Aku.. hmm.. a-ku, aku mau memperbaiki kesalahanku."

__ADS_1


"Gak bakalan gampang. Gue yakin lo gak bakalan sanggup."


"Ijinkan aku menunjukan nya ke kamu dulu Rav.."


Cukup lama Raven terdiam hanya memandang lekat pada Fika dengan ekspresi yang tidak dapat terbaca. Fika merasa gugup mendapat tatapan dari Raven.


"Dua bulan."


"Hah? dua bulan apanya?"


"Waktu yang lo punya cuma dua bulan."


"Baiklah. Trimakasih Rav."


Fika tidak henti hentinya bersyukur ketika Raven memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan nya terhadap rumah tangga mereka.


"Lo dah pesan tiket?"


"Belum."


Tooeeeng..


Fika rasanya ingin tertawa terbahak bahak mengingat kegiatan sepagian ini yang sudah dia lakukan hanya demi mengetahui jadwal penerbangan Raven...


Fika... lo bener bener bego! kan gampang urusan kalo lo nanya langsung, ribet sih lo..


Fika membuka aplikasi pemesanan ticket pada ponselnya. Seringai senyum di ujung bibirnya tidak dapat dia sembunyikan.


Sedangkan Raven tetap duduk di sofa memainkan HP nya Acuh pada Fika.


"Habiskan sarapan lo. Gue gak mau pulang ke Indonesia sambil menggotong orang sakit."


"Iya."


Oooh, Sandwich ini endesss banget deh. ntar gue minta lagi deh ke para maid d bawah.


Menyelesaikan sarapan dengan adanya Raven - suaminya dalam satu ruangan itu rasanya bahagia banget plus deg deg swerrr, apalagi dapat tatapan meski tatapan yang entah apa artinya.

__ADS_1


Fika berjalan di belakang Raven menuruni anak tangga mansion Keluarga Wilbourg dengan menarik koper besarnya. Raven tidak ambil pusing dengan itu.


Tiba diruang tamu sudah ada Uncle Dalton, Tante Fiane dan Kakek.


"Aaah... Sayang, tante senang banget akhirnya kamu dan Raven bisa bersama kembali."


Senyuman salah tingkah pada wajah Fika dapat dilihat oleh keempat orang yang berada di ruangan itu.


"Kamu harus berusaha agar rumah tangga kalian menjadi utuh. Tante yakin kamu bisa."


"Cintaaaah... beneran kamu akan kembali ke jakarta hari ini? well.. good luck to you yah.. I Know you can handle itu."


Deanna yang masih memakai piyama nya turun dan memeluk Fika dengan erat sebagai tanda perpisahan.


"Promise tk me, you will attend my wedding next month as a real husband and wife."


"Deanna... Mommy bingung deh ama kamu, mereka kan memang beneran suami istri."


"Fianne, Deanna benar... saat ini mereka bukan benar benar pasangan suami istri, waktu 1tahun 3bulan lag penyebabnya."


Bener bener deh si Kakek ini gak bisa kalo gak nyindir nyindir kesalahan Fika. Entah bagaimana menggambarkan seperti apa wajah Fika saat ini karena sarkasme yang dilontarkan kakek.


"Baiklah. sudah saatnya kami pergi. Deanna sampikan salamku untuk Steven."


Fika tidak mau kege-eran dengan omongan Raven yang seolah olah membelanya. Tapi ingin rasanya Fika memeluk Raven karena omongan nya bisa menghindarkan sindiran selanjutnya dari kakek, dan jangan lupakan dari Deanna juga.


"Okey."


Lalu Raven berjalan keluar mansion sambil ngobrol dengan uncle Dalton dan Kakek.


Fika berjalan di belakang di gandeng tante Fianne dan Deanna.


Saat mereka selesai memasukan koper dalam bagasi mobil yang akan mengantar mereka ke bandara,


Fika sempat berpikir untuk terjun dari pesawat nanti ketika mendengar ucapan dari Raven pada Kakek.


"Oh ya, Kakek untuk Diara saya tunggu tiga hari lagi. Tidak boleh terlambat."

__ADS_1


__ADS_2