Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 23


__ADS_3

"Mang, saya bisa sewa mobil Mang Arman malam ini aja?"


Raven dapat mendengar suara Fika diseberang sana sedang berbicara dengan anak buahnya. Kerinduan teramat sangat menyesakan relung hati Raven, namun sedetik kemudian kekhawatiran menyelimuti pikiran nya.


Sewa Mobil? mau kemana dia? jam 22.40! Sudah malam. dia mo ngapain?


"Tanyakan nyonya mau kemana?"


Melalui ponselnya tidak dapat menyembunyikan paniknya Raven memerintahkan Arman untuk bertanya pada Fika


"Hmm.. Mbak Fika mau kemana ini sudah malam."


"Saya mau ke jakarta. ada urusan dengan kakek saya. Bisa gak saya sewa malam ini mobilnya Mang?"


"Eh, anu Mbak.. saya antar aja gimana?"


"Gak usah. saya bisa sendiri kok."


Raven menahan geramnya mendengar jawaban keras kepala dari Fika.


"Duh, saya bingung nih mo ngasih sewa apa gak Mbak."


"Yawdah Mang, kalo memang Mang Arman keberatan karena mobilnya mau dipake cari orderan, nanti saya cari ke rent car saja."


"Berikan mobil mu, suruh Wawan pakai mobilnya buntutin nyonya."


Arman mendengarkan perintah dari bosnya melalui ponsel yang masih dalam genggaman dan masih berada di telinganya. Toh masing masing mereka memang mendapatkan fasilitas mobil dari bosnya supaya mempermudah Arman dan Wawan mengawasi dan menjaga nyonya mereka.


"Eh, ini boleh kok Mbak. ini kunci dan ini STNK nya."


"Oke Mang. makasih yah. Silahkan lanjutkan nelpon nya. sampaikan maaf saya ke istri Mang Arman karena sudah ganggu telponan."


Fika mengucapkan terimakasih dan memohon maaf sambil menunjuk ke ponsel yang dipegang dan disandarkan ditelinga Arman menyangka orang yang diseberang sana adalah istri Arman. Raven hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Fika.


Sekitar delapan pagi Fika memasuki gerbang rumah kakeknya.


Rencana awalnya Fika akan menuju jakarta malam itu juga, namun karena kondisi yang sudah lelah dan mengantuk Fika memutuskan untuk membawa mobil sewaan kerumahnya dan keesokan subuh baru akan jalan menuju jakarta.


Disambut Bik Sum yang meloncat kegirangan karena sangat kangen dengan majikan kesayangan nya.


"Aduh Non, Bibik kangen banget. Kenapa gak ngabarin bibik sih selama main petak umpetnya?"


Fika memicingkan matanya ke arah Bik Sum saat mengetahui jika si bibi tahu perihal kepergian nya yang saat itu tidak ingin diketahui oleh Kakek dan suaminya.


"hehehe, kan saya sekarang dah kluar dari tempat persembunyian. capek kelamaan sembunyi tapi gak ada yang nyariin."


"Eh siapa bilang? den Raven waktu itu nyariin enon wajahnya sedih banget. Terus sebelum den Dean jemput kakek den Raven sering banget main kesini nemenin kakek, sambil nyari jejak non Fika katanya."


"Loh? jadi ini kakek lagi state bareng Dean? Percuma dong gue kesini?'


Fika terkejut jika usahanya untuk bertemu kakek jadi sia sia, namun hatinya meloncat kegirangan mengetahui Raven ada usaha mencarinya.


"Eh, non Fika mau makan apa? bibi masakin yah."


"terserah bik Sum aja deh."

__ADS_1


Fika melayangkan senyum sayangnya pada sang bibi yang selalu mendampingi dirinya saat awal awal kepergian kedua orang tuanya. Bahkan kemampuan memasak Fika di asah oleh bik Sum yang memang jago masak.


Menyelesaikan makan nya Fika berpamitan pada Bik Sum untuk keluar sebentar.


Sebenarnya Fika memang sedari awal berniat menemui Raven.


Namun Fika tidak mengetahui Raven saat ini berada di kantor Prakasa Abadi Group atau Danuyo Jaya


Fika memutuskan untuk mengunjungi kantor Danuyo Abadi Group, setidaknya itu memang perusahaan miliknya kan?


Stidaknya gue bisa nanya nanya dikit tentang perusahaan ke Mbak Shasa lah.


Setibanya di lobi kantor, Fika di sambut manis oleh resepsionis muda yang Fika yakin adalah karyawan baru.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bertemu Ibu Shasa."


"Ibu Shasa sekretarisnya Pak Raven? beliau sedang cuti melahirkan Bu."


"Benarkah? lalu siapa yang menggantikan beliau?"


"Maaf Bu, saya tidak bisa menginformasikan itu."


Fika tersenyum merasa senang dengan kinerja karyawannya karena tidak sembarangan menginformasikan karyawan yang levelnya lebih tinggi.


"Baiklah, jika begitu saya permisi yah."


"Bu Fika? Apa kabar? wah.. tumben main ke sini, seingat saya sejak Pak Prakasa umumkan penggabungan perusahan. Bu Fika sudah tidak pernah ke kantor lagi? sudah sekitar sepuluh bulan kali yah Bu? sampai sampai resepsionis kita gak kenal."


Fika mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih umum jika menghadapi Pak Afin salah seorang direktur perusahaan nya yang terkenal ramah dan cukup banyak omong namun terkenal sangat loyal pada perusahaan terutama ayahnya.


Belum sempat Pak Afin menjawab, Fika dikejutkan denga suara yang sangat dikenalnya menyebut namanya. Dengan gerakan anggun Fika memutar badanya hendak melihat orang yang memanggilnya


"Nah, itu dia orang yang dicari Bu Fika. kalau begitu saya duluan yah sudah janji ama nyonya, Mari Pak Raven."


Pak Afin berpamitan sopan pada Fika lalu pada Raven yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Fika.


"Oke Pak Afin. salam untuk Ibu Mela ya."


Raven menjawab sopan pada bawahan nya. lalu kembali menatap tajam pada Fika.


Tangan Raven dimasukan dalam saku celana nya, dia takut tanganya tidak bisa diajak kerjasama bisa langsung memeluk Fika.


"Ngapain kamu disini?"


"a-ku, a-ku cu-cu-ma mau, hhm... lah ini kan perusahaan ku juga?"


"Perusahaan yang lo abaikan seperti suami elo?"


Jleb..


Perkataan Raven tepat mengenai sasaran pada jantung Fika, menunduk karena malu dan takut hanya itu yang bisa dilakukan Fika.


Lo, Gue? Raven kok ngomong gitu yah?

__ADS_1


Fika mulai merasakan hatinya remuk.


"ikuti Gue"


"kemana?"


"elo pengen cobain rasanya malu ketika ditinggalkan lawan bicara lo?"


Raven menekankan kata malu dan ditinggalkan membuat hati Fika semakin teriris.


Ya Tuhan, luka kena perasan jeruk mah gak ada apa apanya dengan ini.


Ucap Fika dalam hatinya. kemudian langkahnya mengikuti Raven yang sudah satu langkah didepan nya, mereka berjalan hampir bersisihan.


"Dimana lo parkir mobil?"


"K-ka-mu kok tau aku bawa mobil?"


"Karena Mang Didik sudah bekerja di kantor sini, sejak nona mudanya tidak memberikan pekerjaan lagi ke dia."


oh, Raven dengan segala pikiran praktis dan cerdasnya


"sebelah sana."


"Mobil siapa?"


Raven berbasa basi ketika dirinya sudah didalam mobil, padahal dia mengetahui siapa pemilik mobil ini. bukankah dia yang membelikan nya?


Menyusuri padatnya jalanan jakarta disiang hari sungguh membuat kepala pening. apalagi harus nyupirin Raven dengan mode marahnya.


"hhmm.. aku sewa dari Bandung."


Akhirnya mereka masuk dalan sebuah restaurant yang tidak terlalu ramai. Belum lama mereka menikmati pesanan mereka,


drrt.. drrt..


"Halo Ra?"


"..."


"Nggak, kan sudah saya bilang ke kamu kalo saya gak perpanjang kontrak kerja."


"..."


"Kamu pasti bisa, Denta cukup baik kok orangnya, to much talking aja mah dia, hehehe."


"..."


"Hah? Apa? serius kamu?"


"..."


"Ra, Aku tutup telponnya dulu yah. nanti aku hubungi kamu lagi."


dalam diamnya Raven tetap memperhatikan bahkan berusaha menyimak arah pembicaraan Fika dengan orang yang menelponnya.

__ADS_1


"Rav, aku permisi dulu yah. aku ada urusan penting. maaf ya."


__ADS_2