
Tepat pukul setengah tujuh malam Fika di jemput Arman didepan rumah kontrakan nya. mereka menuju Yum's Cafe tempat janjian untuk bertemu Ardi.
Sebelumnya Fika meminta untuk menurunkan nya di sebuah ATM. Fika mengambil uang sejumlah gaji nya selama satu tahun dia bekerja di yayasan sebagai guru dan tenaga admin toko yayasan yang rencananya akan dia berikan pada Ardi sebagai kompensasi balas budi nya.
Najis!! ogah gue utang ama tuh cecunguk. Gila aja.
apalah arti gaji gue di bandingkan biaya hidup yang ditransfer Raven tiap bulan, masih juga di ingetin ama tuh cecunguk.
Sambil ngedumel, Fika memasukan uang kedalam amplop coklat.
Setibanya didalam Yum's Cafe, setelah Mang Arman memarkirkan mobilnya,
"Mang Arman, saya bisa minta tolong lagi? tolong tunggu saya disini yah. Kalo dalam waktu satu jam saya belum keluar, tolong masuk kedalam panggil saya."
"Baik Mbak. Oh iya Mbak, ini.. siapa tau perlu. sudah dalam kondisi siap, tinggal klik tombol hijau."
Fika tertegun ketika melihat sebuah alat perekam yang diberikan Mang Arman padanya.
Daebak! yakin gue, pekerjaan Mang Arman bukan sekedar ojol. Intel kali yah? sa bodo lah, bagus malah artinya gue aman.
Sebenernya Fika memang agak takut dengan sikap Ardi yang kasar dan licik. Karena sewaktu pacaran dulu Fika beberapa kali mendapat bentakan jika Ardi sedang emosi bahkan Fika pernah mendapat perlakuan kasar dari Ardi.
Fika masuk kedalam Cafe lalu duduk di meja yang tidak jauh dari Cashier dan agak tertutup oleh rumput jepang dalam pot.
Bangke! kenapa sih gak saat dia dorong gue sampa jatuh saat itu juga gue putusin dia.
Tidak lama Ardi masuk dengan senyum manis yang menurut Fika senyum najis tralala.
"Malam Sayang, maaf telat yah. udah pesan?"
Serasa ingin memuntahkan minuman yang sudah dipesanya ketika Ardi memanggilnya dengan sebutan sayang.
__ADS_1
Kemudian Fika mengklik tombol hijau pada alat perekam yang dipinjamkan Mang Arman tadi.
Tidak menunggu lama, Fika mengeluarkan catatan yang telah dipersiapkan nya dari rumah, yaitu rincian gaji yang dia terima selama satu tahun bekerja di yayasan.
Fika memperhatikan raut wajah Ardi yang bingung melihat catatan yang disodorkan olehnya.
"Ini rincian apa?"
"Gaji setahun gue kerja atas pertolongan lo. Gue akan ganti pertolongan lo sejumlah itu supaya gue gak punya utang apa apa lagi ke lo"
Fika masih tetap memperhatikan wajah Ardi sedari tadi melihat perubahan raut wajah Ardi yang mengerutkan keningnya.
"Lo mo ganti? oke. gue minta cash tanpa di cicil. Bisa lo?"
"Kalo gue kasih cash, lo harus janji jangan dekati gue lagi. males gue berurusan ama lo."
"Hahaha.. Fika, Fika. oke, oke. Tapi selama lo belom bisa kembalikan kebaikan gue itu, lo harus bersedia jika gue ajak kencan."
Namun, bukan Fika jika tidak bisa menunjukan ketenangan tingkat dewa pada tampilan wajah nya disaat menghadapi musuh.
"Oke. gue pegang kata kata lo."
Lalu Fika memanggil pelayan yang tadi mengantarkan pesanan Ardi.
"Mbak, saya bisa minta tolong? tolong hitung uang di amplop ini."
Fika mengeluarkan amplop coklat yang dari dalam tasnya. Pelayan tadi awalnya ragu namun pada akhirnya menghitung dengan cepat uang dari amplop tersebut.
Ardi tidak dapat menyembunyikan keterkejutanya, Tanpa malu dia mengepalkan kedua tanganya menahan amarahnya. Fika memperhatikan emosi Ardi yang sudah mulai meluap
"Stop. letakan itu. pergi lo."
__ADS_1
Ardi mengusir pelayan yang sedang menghitung uang ketika hendak menarik tangan pelayan itu, dengan cepat Fika menahan tangan Ardi.
"Ini gue lagi ngebuktiin supaya kedepan nya gue gak perlu ditagih kekurangan utang."
"Fika, lo tau perasaan gue tulus banget ke lo."
"Kalo bener tulus. gak bakalan lo ungkit segala kebaikan lo padahal sebelumnya lo udah ngelakuin hal yang jahat ke gue."
Ardi menghempaskan tangan nya karena marah.
"Mbak, sudah saya hitung 2x hasilnya sama, lebih tiga ratus ribu dari catatan ini."
"Makasih yah Mbak. Mbak nya boleh pergi. ini dari saya tolong diterima yah."
Fika mengeluarkan dari dalam dompetnya lalu memberikan pada pelayan tadi satu lembar uang seratus ribu.
"Lebih tiga ratus ribu itu untuk bayar kotak makan siang yang waktu itu dan minuman gue ini. Urusan kita selesai. Permisi."
Belum sempat Fika berdiri Ardi hendak menahan nya, namun Fika lebih sigap dan berlalu dengan cepat keluar meninggalkan Cafe.
Didalam mobil saat dalam perjalanan pulang Fika bertanya pada Mang Arman.
"Mang, kalo hari Rabu saya nyewa mobilnya ke jakarta bisa gak?"
"Skalian saya supirin?"
"Gak. Saya bawa sendiri. Saya langsung pulang kok hari itu. Saya ada urusan dikit. Tapi, liat nanti deh kalo jadi saya info yah
"
"Boleh Mbak. nanti kalo jadi, selasa malamnya kabari saya aja."
__ADS_1