Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 39


__ADS_3

Fika memasuki gedung perkantoran bertingkat sepuluh itu. Jika dulu gedung bangunan ini terdiri dari dua kantor pusat perusahaan besar yaitu PT Danuyo Jaya dan Prakasa Abadi Group Maka sekarang telah menjadi satu kantor pusat. Meski Plang Nama pada Gedung tersebut masih lebih besar nama Prakasa Abadi Group namun Pemimpin Perusahaan ini ada orang dari PT Danuyo Jaya yaitu Ravendra Danuyo.


Meski Raven memegang tampuk kepemimpinan tertinggi perusahaan ini, namun kantor utama Raven tetap berada di lantai 5. Raven merasa lebih nyaman jika tetap menempati kantor lamanya.


Fika mengetahui itu sewaktu dirinya dan kakek ngobrol santai di teras belakang mansion tante Fianne di Seattle.


Fika berhenti di depan meja receptionis yang sewaktu dia datang beberapa minggu lalu.


"Eh selamat sore bu Danuyo. mau ketemu Bapak yah? silahkan langsung naik saja Bu. Sebaiknya gunakan lift khusus direksi sebelah sini bu."


Sang receptionis beranjak dari tempat duduknya lalu mengantar Fika hingga depan pintu lift. Untung saja sang receptionis tidak menyadari perubahan pada wajah Fika yang merona ketika di panggil dengan sebutan Bu Danuyo.


"Trimakasih yah."


Didalam lift Fika kembali terbayang jika dulu Raven sering sekali meminta dirinya untuk datang kekantor untuk menemui Raven atau bahkan sekedar main ke kantor Prakasa Abadi Group. Namun sekalipun ajakan itu tidak pernah di penuhinya. Fika datang ke kantor ini apabila dirinya dibutuhkan untuk menandatangi berkas atau dirinya diwajibkan mengikuti rapat.


Saat lift telah sampai di lantai lima, dirinya keluar dan merasa asing dengan renovasi baru pada lantai ini.


Fika menyusuri lorong yang terlihat elegan, bersih dan wangi. tidak banyak kubikel, justru lebih banyak pintu dengan jendela kaca besar yang didalam nya dapat di lihat ada orang orang dengan jabatan direktur sedang bekerja.


Tiba diujung lorong dengan pintu kaca yang didalamnya terdapat dua meja sekretaris yang sangat rapi namun tidak ada pemilik meja.

__ADS_1


Woww.. skarang sekretaris mu sampe dua. banyak banget kerjaan mu yah?


Fika membayangkan pekerjaan Raven pasca penyatuan dua perusahaan yang pastinya sangat banyak sampai membutuhkan dua sekretaris.


Fika mendorong salah satu pintu kaca lalu masuk dan merasa aneh karena tidak menemui orang disitu.


"Jam berapa yah ini? kok sepi? pada kemana?"


Fika memberanikan diri mengetok pintu besar terbuat dari kayu Jati berwarna cokelat mengkilat, namun tidak ada jawaban.


Fika berniat membuka pintu secara, belum sempat pintu dibuka nya Raven sudah membukanya terlebih dahulu dari dalam.


Sama sama terkejut, namun Fika dapat lebih dulu tersenyum.


"Ngapain lo?"


"Mo jemput kamu, ntar lagi kan jam kantor selesai."


"Gue ada meeting."


"Ooh.. lama yah? aku tunggu didalam boleh?"

__ADS_1


"Terserah lo dah."


Raven meninggalkan ruangnya terburu buru dengan merutuki keadaan kantor hari ini karena kedua sekretarisnya tidak masuk bekerja. jadi tidak ada yang mengurusi jadwal kerja nya dan segala sesuatu harus dia persiapkan sendiri.


Seperti saat ini, ada rapat yang harus dia hadiri dan materi rapat yang harus dia sampaikan harus dia juga yang mempersiapkan. Benar Benar melelahkan.


Menuju ruang rapat, perasaan kesalnya tiba tiba menjadi tidak berarti apa apa dibandingkan dengan keterkejutan nya mendapati Fika berdiri di depan pintu kantornya.


Ngapain dia kesini? tumben?


Sebelum masuk ruang rapat, Raven menarik napas dalam dalam menghilangkan degup jantungnya yang berpacu cepat yang dikarenakan keberadaan Fika yang tiba tiba ada di hadapan nya.


Di dalam ruang kerja Raven, Fika tersenyum lebar dan menahan harh ketika mendapati sebuah foto keluarga saat pernikahan nya dengan Raven di salah satu rak besar yang tertempel dinding. Didalam foto tersebut Raven dan dirinya sedang duduk di pelaminan dan memangku bingkai foto almarhum kedua orang tua masing masing.


Fika mengelus lembut foto itu. Dirinya tidak menyangka jika Raven memiliki sisi sentimentil seperti ini, menyimpan dan memajang foto foto yang sederhana bagi kebanyakan orang namun sangat berarti bagi Raven. Sekarang menjadi sangat berarti bagi dirinya.


Fika mengingatkan dirinya untuk meminta soft file foto ini dan akan mencetak nya lalu memajang di apartemen nya.


Satu setengah jam Fika menunggu diruang kerja Raven tanpa melakukan kegiatan apa apa, rasa kantuk menderanya matanya tidak dapat dia tahan lagi.


-----

__ADS_1


Pukul Delapan Malam


Raven menutup rapatnya bersama para direksinya. lalu bersama sama keluar ruang rapat menuju parkiran.


__ADS_2