Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 36


__ADS_3

Sudah menunjukan pukul sepuluh malam lebih ketika Raven masuk ke dalam apartemen nya di ikuti Fika.


Raven berjalan memasuki kamar utama yang dulu mereka gunakan bersama lalu menutup pintu.


Fika memberanikan diri mengetok pintu kamar, baru dua kali Fika mengetok pintu sudah dibukakan oleh Raven.


"Gue yakin loe pasti ngerasa gak nyaman jika kita tidur bareng. Jadi sebaiknya kita atur pembagian tempat tidur. Setiap malam bergantian tidur di sofa dan di tempat tidur."


"Maksud kamu, selang seling gitu?"


"Terserah apa istilahnya."


"Gak sebaiknya coba tidur bersama?"


"Gue sudah tau gimana sakitnya harus berbagi tempat tidur dengan orang yang bahkan tidak mempercayai gue. Jadi sekarang gue harus lebih selektif."


"Rav.. Gu..."


"Sudah malam, besok gue harus kerja."


Raven meninggalkan Fika yang masih berdiri didepan pintu kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak perlu waktu lama, Raven keluar kamar mandi sudah mengenakan kaos oblong berwarna biru terang, bercelana pendek berkaret pada bagian pinggangnya.

__ADS_1


Raven mengeluarkan selimut dari dalam lemari besar lalu mengambil bantal dari tempat tidur kemudian memposisikan tubuhnya senyaman mungkin pada sofa dekat jendela kamar tidur.


Sedangkan Fika masih mematung dekat tempat tidur besar mereka memegangi pakaian ganti mengamati kegiatan yang dilakukan Raven.


"Kalo lo masih betah disitu, silahkan. tapi tolong matikan lampu, gue ngantuk."


"Eh.. oh iya. baiklah."


Fika mematikan lampu kamar, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. sekali lagi, Fika memanjatkan doa dalam hatinya agar usahanya memperbaiki keretakan rumah tangga yang disebabkan oleh dirinya berhasil.


Sementara di kamar tidur, Raven memanjatkan doa dalam hatinya dengan penuh khidmat untuk usaha istrinya, lalu bermonolog memberikan semangat bagi Fika lalu setelahnya dirinya terlelap, secara hampir dua malam dia kurang tidur.


"Ayo Fika, gue tunggu usaha lo. Jangan putus asa meyakinkan gue."


Seusai mandi, Fika membuka pintu kamar mandi secara perlahan agar tidak mengganggu Raven.


"Kenapa dia ngasih giliran pertama nih tempat tidur ke gue? bener bener gentle, thanks yah Rav."


Fika berbicara sambil menaikan tubuhnya di tempat tidur besar tersebut.


lewat lima belas menit Fika membaringkan tubuhnya di tempat tidur, namun matanya tidak dapat terpejam. Berbagai bayangan akan kegiatan yang pernah dirinya dan Raven lakukan di tempat tidur ini kembali terpampang dengan jelas dalam ingatan nya.


aakhh!! bete deng gue. keingetan mulu sih..

__ADS_1


Tanpa Fika sadari buliran bening pada matanya sudah mengaburkan pandangan nya. Fika sudah menangis bukan karena ingatan ingatan tentang mereka tetapi mengingat kebodohan nya karena mengabaikan dan tidak menghargai hal hal yang sudah terjadi dalam rumah tangganya karena lebih mempercayai kebohongan Ardi dan Intan.


"Rav, tolong maafin gue..."


Hanya permohonan maaf yang bisa diucapkan Fika, dan dalan hati Fika membulatkan tekadnya atas apa yang akan dia lakukan besok.


alarm pada HP Raven berbunyi beberapa kali. Raven meregangkan tubuhnya hendak bangun. Hal pertama yang dilakukan Raven adalah melihat ke arah tempat tidur yang sudah dirapikan kembali tidak mendapati Fika. Hal yang baisa karena sejak awal menikah Fika memang akan bangun lebih dulu dari dirinya. Raven melangkahkan kaki nya keluar kamar menuju dapur.


Raven tidak melihat keberadaan Fika hanya melihat secangkir kopi dengan creamer diatas meja makan, Raven mengerutkan keningnya.


Raven menuju ruang cuci baju, dia ingat biasanya pagi pagi begini Fika akan merendam baju kemudian pada siang hari sepulang kerja dia akan mencuci baju.


Deg! Tidak ada Fika disana, bahkan tampak sekalo jika ruang cuci baju ini belum tersentuh lama sekali.


Dengan langkah lebar Raven menuju ruang kerjanya berharap Fika berada disana, namun kosong. Raven merasakan napasnya mulai berdegup kencang.


Raven menutup pintu ruang kerja dengan sedikit membantingnya.


Raven kembali mengulang kejadian seperti satu tahun empat bulan lalu yaitu mencari keberadaan Fika diseluruh penjuru unit apartemen nya. Kosong! tidak ada orang dalam apartemen ini selain dirinya.


Tubuh Raven menegang, kedua tanganya terkepal erat, rahangnya mengeras napasnya memburu cepat. Raven berjalan menuju dapur hendak mengisi dahaganya yang terasa kering.


Raven menuangkan air putih pada gelas lalu meneguknya dalam sekali hitungan tatapanya memandang kopi yang telah disiapkan Fika.

__ADS_1


Kembali Raven menuang air dalam gelasnya.


Ceklek..


__ADS_2