
"Rav, aku permisi dulu yah. aku ada urusan penting. maaf ya."
Bengong
Hanya itu yang dilakukan Raven tiga menit setelah kepergian Fika yang tergesa gesa.
Lah?!? Gue ditinggalin lagi?? disini? tempat umum??
Kemarahan Raven sudah di ubun ubun, Kesabaran nya sudah habis.
Damn Fika!! urusan apa yang lebih penting dari gue??
"Ikuti nyonya."
Perintah Raven melalui telpon pada Arman dengan terburu buru mengikuti GPS mobilnya mengikuti nyonya nya yang entah akan kemana.
Kembali ke Bandung Fika dengan cepat menuju kantor polisi, sebelumnya Fika menghubungi Arman
"Mang saya bisa minta tolong, kita bertemu di kantor polisi yah saya mau bantu teman saya soal yang kemarin malam kita dengar. Bisa Mang?"
"Maksud mbak Fika, kita mau beri kesaksian gitu yah? oke Mbak, saya mau."
Setibanya di parkiran kantor polisi, Fika memang tidak langsung masuk dia sengaja menunggu Arman supaya bisa masuk bersama. Fika terpana ketika melihat Arman turun dari sebuah mobil berwarna abu abu tua.
Mang Arman pake mobil siapa? kan mobilnya masih di gue. aah sa bodo lah..
__ADS_1
"Mang, nanti di dalam kita kompakan ngomong ke pak polisinya yah, kita bantu Pak Zian. Stidaknya nolong dikit."
"Iya Mbak, saya sih gak terlalu ngerti masalahnya hanya saja kalo dengar percakapan kemarin malam sepertinya ada tindakan penipuan gitu yah?"
Arman yang sudah mengetahui persoalan tentang Ardi dan keluarganya sedari awal hanya berlagak polos saja di hadapan Fika, kan dia yang menyelidiki segala kecurangan yang dilakukan Sahlendra dan Ardi.
"Entahlah.."
Saat masuk didalam kantor polisi, Fika mendapat penjelasan dari polisi jika saat ini Zian berada di ruang introgasi. dan Fika meminta ijin dan memberikan alsanya untuk masuk menemui Zian.
Saat memasuki ruang introgasi, Fika melihat ada dua polisi yang sedang duduk di balik meja menghadap ke Zian.
Fika menatap Zian yang dalam keadaan letih dan amburadul.
"Selamat sore, permisi Pak."
"Saya Fika Danuyo."
Arman yang mendengar nama bos nya di sebutkan di belakang nama Fika tidak dapat menahan gerak ujung bibirnya yang membentuk senyuman kecil. Merasa senang akhirnya sang nyonya mau mengakui bos nya.
"Lalu?"
"Saya mau bertemu Bapak Zian."
"Oh maaf Bu, saat ini Pak Zian msh dalam penyelidikan kami dan sedang proses introgasi lanjutan. jadi tidak boleh sembarang orang bertemu."
__ADS_1
"Baik jika begitu. boleh saya beri informasi sedikit?"
"Tentang apa?"
"Hmm, kemarin malam saya dan temab saya berkunjung ke rumah Pak Zian la.."
"Ini Pak rekaman yang bisa membantu Pak Zian"
Belum sempat Fika melanjutkan omongan nya sudah terpotong oleh omongan Mang Arman yang menyerahkan alat perekam yang pernah dipinjamkan ke Fika saat bertemu Ardi di Cafe pada Polisi.
Setelah selesai mendengarkan, kedua Polisi yang sedang mengintrogasi Zian saling berpandangan. Lalu salah seorang Polisi membuka suara
"Terimakasih untuk bukti yang sudah ibu berikan pada kami. akan segera kami proses orang orang yang terlibat dalam rekaman ini."
Setelah menunggu beberapa jam proses lanjutan terhadap Zian, dimana Zian juga berhasil meyakinan polisi dan memberikan data hasil kerjanya bersama tim keuangan nya yang lain selama beberapa bulan sebelum Ardi bergabung di Yayasan akhirnya Zian diperbolehkan pulang.
"Pak Zian, bagaimana dengan Ibunya?"
Zian terkejut mendapati Fika dan teman nya masih berada di kantor Polisi.
"Eh, eh anu.. terimakasih atas bantuan nya."
Zian merasa gugup dan bingung harus berucap apa ke Fika. Karena selama ini Zian merasa Fika akan sangat marah dan bisa mempermalukan dia didepan teman teman kantornya karena kasus orang tua Fika yang tertabrak dan mengharuskan Zian mendekam di penjara.
"Pak Zian, sebenernya saya gak pernah tau siapa yang sudah menabrak orang tua saya. Tapi sekarang saya mengerti kenapa sikap bapak yang menghindar jika ada saya. Tapi, kan itu bukan salahnya Bapak, sekarang kita sama sama tau."
__ADS_1
"Eh, Iya. sekali lagi terimakasih."