
"lo tau jam berapa skarang? darimana lo?"
Wajah Raven merah, rahangnya mengeras, bahkan Fika dapat melihat urat yang menyembul dari kulit pada punggung tangan yang terkepal kuat di samping tubuh Raven.
Entah kenapa Fika merasa heran pada dirinya sendiri yang biasanya akan melawan balok jika menghadapi orang yang menyolot bahkan memarahi dirinya tanpa dia tahu kesalahan nya.
Tetapi kali ini, dihadapan kemarahan Raven yang Fika lakukan malah meneteskan airmata yang sedari tadi dia tahan. Secara kan seharusnya Fika yang marah pada Raven karena sudah melupakan dan meninggalkan nya di ruang kantor Raven.
Fika menghadapi Raven dengan kepala yang tertunduk bukan karena takut namun karena letih, Fika berusaha menghapus air mata yang menetes.
"Lo punya mulut kan?"
"skarang jam setengah sebelas Rav, dan gue abis dari mall bawah, gue laper jadi nyari makan dulu."
Mendengar jawaban Fika, Raven mengatupkan mulutnya rapat. Mengingat kenapa Fika bisa sampai kelaparan.
Tatapan Raven masih tertuju pada Fika yang tertunduk. Hingga hanya keheningan yang terjadi diantara mereka.
Kriuk...
Keheningan beberapa detik itu dibuyarkan oleh bunyi suara yang keluar dari perut Raven. Secara otomatis Fika mengangkat kepalanya menatap Raven, sedangkan Raven langsung membuang mukanya lalu berlalu menuju ruang utama.
__ADS_1
"Gue laper."
"oh, kamu mau makan apa?"
"serah lo, yang penting cepet."
Fika menghapus bersih sisa-sisa air mata di ujung mata dan pipinya. dengan cekatan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas lalu mengolahnya menjadi orak arik telur goreng dengan irisan daun bawang dan tomat, tumis sayur pakcoy dan sambel ulek.
Kok gue mau aja masakin dia sih? tadi kan dia dah ninggalin gue?
Selama memasak Fika merasakan perasaan yang aneh dan pikiran nya pun merasakan kebingungan. Hingga selesai masak, Fika masih belum mendapati jawaban yang pas atas kebingungan nya.
Fika memanggil Raven yang sudah kembali duduk di sofa sedang menonton siaran olahraga di televisi.
Raven berdiri dan menuju meja makan.
"Mo kemana lo?"
"Mandi"
Sebelum kekamar mandi, Fika mengambil tas yang tadi dia letakan di ujung rak dekat pintu masuk, lalu mengambil ponselnya dan men-charge nya disamping kulkas.
__ADS_1
Ketika Fika telah hilang dari hadapanya Raven menghembuskan napasnya pelan karena Kekesalan nya berkurang mengetahui kenapa ponsel Fika tidak dapat dihubungi.
Raven masih menikmati makan malam hasil masakan Fika yang sangat dia rindukan ketika Fika sudah selesai mandi.
"Mau ku kupasin jeruk?"
Melihat anggukan Raven, Fika duduk di sebelah kiri Raven lalu mengambil buah jeruk dan mulai mengupas.
Fika melihat buah jeruk yang sedang di kupasnya itu seperti melihat pelangi sehabis hujan. Gimana gak lihat pelangi, Setelah hampir semua penawaran Fika selalu di tolak Raven kan?
Entah karena Raven merasa bersalah karena kejadian Raven telah meninggalkan nya tadi atau karena alasan lain yang pasti apapun alasanya Raven menerima tawaran nya untuk mengupaskan jeruk sudah membuat dirinya bahagia.
aaakkhh, Bego nih kepala and leher!! ngapain juga ngangguk?
Sedangkan yang ada di otak Raven adalah mengutuki dirinya sendiri karena tanpa sengaja menganggukan kepala ketika Fika menawarkan untuk mengupaskan jeruk. Secara Raven kan sedang menetapkan aksi gengsi tinggi terhadap Fika saat ini.
❤ ***Aaah... mereka ini gengsi banget yaa?
semoga tetap setia membaca yaa...
oia, nih author kasih bocoran sedikit... beberapa adegan di novel ini berdasar kisah nyata loh.. 😜😜***
__ADS_1