Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 22


__ADS_3

"Tidak! Saya tidak akan mengakuinya. Karena memang bukan saya yang menggelapkan dana yayasan itu."


"Brengsek lo Zian. lo pikir lo punya pilihan? sampe kapan pun lo harus ikuti mau gue."


"Sori Ardi, kamu sendiri yang bilang saat aku keluar penjara itu adalah yang terakhir kali kita bertemu."


"Oooh.. Zian, jadi kamu sekarang mau main hitung hitungan? Bagaimana kalo saya minta semua biaya pengobatan bapak kamu saat ini juga?"


"Maafkan nyonya, seingat saya masuknya saya dalam penjara untuk menggantikan Ardi yang menabrak bapak Ibu Danuyo adalah sebagai penggantian biaya pengobatan almaruh ayah."


"Memang benar. Tapi apa kamu punya bukti kalo itu sebagai pengganti? sedangkan saya punya semua kwitansi rumah sakit atas nama bapak kamu."


"Zian, Zian.. lo itu bego banget yah? meskipun gue yang nabrak orang tua Fika, tetepan aja orang orang dan keluarga Danuyo tau nya elo yang nabrak. jadi lo trima aja nasib lo."


"Sudah cukup. saya tidak mau berlama lama dirumah ini, disini panas. Saya rasa saya gak perlu memohon lagi, yang saya tau besok kamu menghadap Ibu Hesti mengakui kalo kamu yang pakai dana itu bukan Ardi. Dan ini 100 juta saya rasa cukup sebagai kompensasi nya. Karena saya masih harus bayar biaya pengacara dan biaya hidup ibu kamu selama kamu dipenjara."


"Astaga Ma, uang yang Ardi pake cuma 98jt. ngapain segitu banyak kompensasinya ke Zian?"


"Sudahlah Sayang. Segitu gak sebanding dengan malu nya papa dan mama kalo sampe kamu uang berurusan dengan polisi apalagi sampe penjara. Ayo kita pulang. Jangan lupa Zian, besok kamu harus menghadap Ibu Hesti dan akui perbuatan itu."


Tubuh Fika begitu lemas mendengar percakapan orang orang di dalam yang Fika tau sebagai suara Zian, Ardi dan tante Sahlendra - mamanya Ardi hingga dia tidak menyadari tubuhnya sudah terangkat dari tempat duduknya tadi dan berjongkok di balik tembok samping rumah Zian, bersembunyi sementara di depannya ada punggung Mang Arman yg juga berjongkok mengamati situasi didepan tembok.


"Ayo Mbak, mereka sudah jalan jauh gak keliatan lagi. Mbak... Mbak Fika.."


Fika kaget saat tangan Mang Arman mendorong pelan bahunya menyadarkan diri nya.


"Mbak Fika gak apa apa?"


"Eh, I-ya, ya sa-ya gak a-pa Mang."


"Mbak mau pulang, ato mo ketemu orang yang tinggal disini?"

__ADS_1


"Oia, Saya mau ketemu Zian. Ayo Mang kita masuk, saya mo serahkan laporan saya sapa tau bisa bantu Zian."


Fika mengetuk pintu rumah Zian yang masih terbuka lebar dengan lampu ruang tamu yang juga masih menyala terang.


Fika melihat kedalam rumah, namun tidak tidak ada Zian di ruang tamu itu. Bahkan Fika melihat amplop coklat yang terlipat rapi menyerupai batu bata di atas meja,


"Bu.. Ibu bangun Bu, Bu.."


Fika mendengar suara Zian di balik tembok yang berbatasan dengan ruang tamu. Rasa penasaran sekaligus rasa khawatir Fika menyeruak, tanpa memperdulikan sopan santun Fika menerobos masuk ke dalam rumah lalu berdiri didepan pintu kamar melihat Zian sedang berusaha menyadarkan seorang wanita paruh yang Fika yakin adalah Ibunya Zian.


"Pak Zian, ayo kita bawa ibunya bapak ke rumah sakit."


"Bu Fika ngapain ke sini? keluar. ini urusan saya."


"Gak ada waktu judes judes ke saya. ayo Mang Arman, bantu saya gendong Ibu ini."


"Jangan sentuh Ibu saya. keluar kalian."


Tergerak rasa kasihan dan suruhan dari Fika, Akhirnya Mang Arman dengan cepat mengangkat tubuh ibunya Zian.


Saat berjalan menuju depan Gang, langkah Mang Arman dan Fika tiba tiba terhenti karena di hadang oleh Zian yang tadi mereka tinggalkan di rumah.


"lewat sini, mobil saya di parkir sebelah sini."


Akhirnya Zian mengendarai mobilnya sedangkan Fika duduk memangku kepala ibunya Zian di kursi belakang. Mang Arman mengikuti mobil Zian menggunakan motor.


Setibanya di sebuah rumah sakit yang berada tidak jauh dari lokasi rumah Zian, mobil Zian berhenti di depan pintu masuk UGD lalu Zian turun untuk menggendong Ibunya masuk ke ruang UGD.


Saat perawat sudah mengambil alih Ibu Zian dan membawanya ke ruang tindakan UGD, Zian keluar untuk memarkirkan mobilnya.


"Keluarga Ibu Salmi, bisa tolong membayar administrasi dulu?"

__ADS_1


"Aah, iya baik Sus."


Fika berjalan mengikuti suster. Zian yang masuk kembali ke ruang tunggu UGD melihat Fika akan menuju kasir UGD dengan cepat mencegahnya dan melarangnya untuk membayarkan biaya rumah sakit.


"Pak Zian tolong yah. bukan cuma Pak Zian yang punya masalah, masalah saya juga banyak. jadi yang simpel simpel aja tindakan kita. saya bantu bayar biaya UGD ini. selebihnya bisa Pak Zian selesaikan sendiri."


Lalu Fika menyelesaikan pembayaran UGD ibunya Zian. Masih merasa jengkel karen ketulusan bantuanya dari tadi dapat penolakan dari Zian, Fika kembali ke ruang tunggu UGD yang sudah ada Mang Arman yang menunggunya.


"Mang Arman sudah mo pulang yah? silahkan duluan Mang. nanti saya pulangnya pesan ojol aja. oia, ini biaya nya Mang Arman."


"Ndak apa apa Mbak, biar saya tunggu mbak Fika lalu nganter Mbak Fika pulang. Saya permisi mau nelpon dulu Mbak."


Disisi lain bangku ruang tunggu UGD, Zian merasa kikuk karena takut Fika akan mengenalinya atau harus berterima kasih pada Fika.


Fika masih merasa bingung dengan semua percakapan yang tanpa sengaja didengarnya saat di rumah Zian.


Kemudian dia teringat maksud dan tujuan nya mendatangi rumah Zian.


"Pak Zian, tadi saya mendatangi rumah bapak karena mau memberikan ini. Soft File laporan yang saya buat sejak awal saya membantu di Toko Yayasan ada di dalam flashdisk ini. Saya berharap flashdisk ini dapat membantu persoalan yang dihadapi Pak Zian."


Zian hanya menatap nanar pada Flashdisk yang dipegang Fika. Zian ragu ragu ingin mengambilnya, lalu...


"Duh Pak, lama banget. nih.."


Fika menarik tangan Zian dan menyerahkan flashdisk tersebut.


Lalu Fika kembali ke bangku untuk duduk kembali.


Selang beberapa menit, pikiran Fika terus berputar kembali ke percakapan yang didengarnya di rumah Zian tadi.


Sampai pada akhirnya rasa penasaran Fika sudah tidak dapat ditahannya, Fika berdiri lalu menuju Mang Arman dan berbicara tanpa memperhatikan kegiatan Mang Arman yang sedang menelepon.

__ADS_1


"Mang, saya bisa sewa mobil Mang Arman malam ini aja?"


__ADS_2