
"Raven, sini"
Intan memanggil Raven yang baru saja sampai di depan pintu restaurant hotel, dengan langkah santai Raven menghampiri meja Intan.
Namun, Raven mengerutkan dahi nya ketika mendekati meja karena melihat keberadaan sepasang paruh baya yang di perkirakan Raven adalah orang tua Intan di meja tersebut.
"Hallo Selamat malam semua."
Raven menyapa dan menyalami Intan dan sepasang paruh baya yang ada di meja tersebut.
"Duduk yuk Ven, oia kenalin ini papa dan mamaku. Pa, Ma, ini Raven yang Intan ceritakan."
Intan memperkenalkan orang tua ny apada Raven dan Raven mengangguk sopan kepada mereka. Seketika perasaan Raven jadi tidak enak dengan situasi dihadapan nya. Namun Raven memutuskan untuk tetap diam demi kesopanan.
"Halo Nak Raven, apa kabar? Intan sudah memberitahukan pada kami tentang Nak Raven. pada dasarnya kami mempercayai pilihan hati Intan."
Deg.
Mama nya Intan membuka suka menjadikan
Perasaan tidak enak dalam hati Raven semakin menjadi jadi. Raven semakin tidak tenang dalam duduknya. Raven bertanya tanya dalam hati apa maksud Intan dengan mengadakan pertemuan ini. Padahal Raven merasa yakin sudah meminta maaf dan menjelaskan situasinya atas batalnya janji Raven yang tidak bisa menunggu Intan karena perjodohan nya dengan Fika, bahkan Raven sudah mengirimkan undangan pernikahan nya pada Intan melalui E-mail dan Intan pun sudah membalas dan mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Fika.
"Maaf, maksudnya gimana yah Bu?"
akhirnya Raven membuka suara bermaksud mengklarifikasi situasi. Raven tidak ingin berlama lama larut dalam situasi yang tidak mengenakan.
"Intan sudah bercerita, jika Intan sudah siap untuk melanjutkan hubungan kalian dalam tahap yang lebih serius. Itu sebabnya kami sebagai orang tua ingin berkenalan langsung dengan Nak Raven."
Mamanya Intan menjelaskan situasi yang semakin membuat Raven tidak nyaman.
"Maaf, sebelumnya bisakah saya berbicara berdua dengan Intan dulu?"
"Silahkan. kami akan menunggu"
"Kenapa sih Ven?"
__ADS_1
Intan bertanya pada Raven ketika mereka sudah berada di taman luar restaurant hotel.
"Intan, aku yakin sudah ngirim undangan pernikahan ku dengan Fika lewat e-mail, dan kamu sudah membalasnya."
"Iya, memang. Tapi pas aku nyampe Indo, aku dengar kabar kalo pernikahan kalian tidak akan lama lagi akan selesai. So, aku berinisiatif untuk mengambil langkah lebih awal."
"Kamu dengar kabar darimana? Aku dan Fika gak pernah berniat mengakhiri pernikahan ini."
"Ven, kamu gak perlu pura pura ke aku. aku akan tunggu kamu dan istri kamu bercerai."
"Intan, aku dan Fika tidak akan bercerai. Jangan tunggu aku. Kamu terlambat kalo baru mau mulai dengan aku saat ini."
"Raven, kamu gak bisa seperti ini. kamu yang janji akan tunggu aku. sekarang aku nagih janji kamu itu."
"Aku sudah minta maaf atas kesalahan ku itu. dan kamu sudah jawab kalo kamu gak apa apa. So, Intan please... Jangan aneh aneh."
"Raven, apa yang harus aku bilang ke orang tua aku?"
"Aku yang akan ngomong, menjelaskan kesalahpahaman ini."
"No. aku saja"
"No Raven. Aku yang akan selesaikan sendiri. silahkan kamu kembali ke istri kamu."
"okey. kalau begitu. Aku akan pamit ke orang tua kamu."
Sekembalinya ke meja Raven duduk kembali dengan sopan di hadapan kedua orang tua Intan. sebagai pengusaha yang telah terbiasa sabar untuk menyelesaikan masalah yang terjadi secara tidak terduga, Raven menunggu Intan mengklarifikasi situasi yang di ciptakan Intan terhadap orang tua Intan.
Namun, selama 10menit Intan tidak membuka suara dan seolah olah tidak ada masalah yang harus diperbaiki akhirnya Raven membuka suaranya
"Maaf, Bapak Ibu... Saya harus meminta maaf atas situasi yang ada."
Tubuh Intan mendadak menjadi kaku dan Mata nya membulat pada Raven, mengkode agar menghentikan omongan nya. Namun Raven tidak mangambil pusing dengan kode Intan.
"Saya dan Intan tidak akan melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius. karena saya sudah menikah. Saya minta maaf, memang sebelum Intan melanjutkan study ke US saya berjanji untuk menunggu nya padahal Intan tidak memberikan jawaban pasti pada saya. sampai akhirnya setahun lalu saya menerima perjodohan dari wasiat mendiang orang tua saya. Saya telah menjelaskan dan meminta maaf pada Intan dan Intan pun telah menerimanya.
__ADS_1
Jadi, skali lagi saya minta maaf."
Panjang lebar Raven menjelaskan situasi yang terjadi pada orang tua Intan bermaksud agak tidak ada kesalahpahaman lebih lanjut.
Brakk..
"Jadi maksud kamu, kamu menolak anak saya?"
Papanya Intan yang diam sedari tadi memukul meja dan bertanya dengan nada penuh ancaman pada Raven.
Namun Raven tidak akan dikenal sebagai pengusaha sukses dan handal jika takut dengan intimidasi kecil.
"Entah apa istilahnya. hanya saja saya tidak mungkin menempatkan Intan pada posisi sebagai pelakor. karena saya dan istri sepakat untuk menjalankan pernikahan sampai tua."
Dengan halus namun lantang Raven mengucapkan balasan intimidasi dari Papanya Intan. Membuat papa Intan melunak karena memikirkan nasib anaknya jika sampai jadi pelakor dalam rumah tangga seorang menantu Prakasa Abadi Group, yaitu Usaha dari Kakeknya Fika yang menjadi warisan bagi Fika dan Raven sebagai penanggung jawabnya.
"Raven, kamu setega itu ke aku?"
Intan sudah mengeluarkan airmatanya, namun Raven hanya mengangkat bahunya
"Maaf Intan, ku pikir kamu sudah jelas akan situasinya. aku berharap kamu akan menemukan pria yang lebih baik."
"Tapi Nak Raven, yang ibu dengar jika pernikahan kalian sebentar lagi akan berakhir. Ap..."
"Maaf Bu Aruyo, saya tidak tau anda mendengar dari siapa. hanya saja saya pastikan hal itu tidak akan terjadi."
Dengan cepat dan tegas Raven menghentikan omongan mamanya Intan dan bermaksud untuk berpamitan lebih dulu.
"Lalu, bagaimana dengan kandungan ku?"
Raven dan kedua orang tua Intan terkejut mendengar penuturan Intan secara tiba tiba untuk menghentikan Raven yang hendak meninggalkan meja mereka.
"Entahlah Intan. Saya pikir kamu bisa membicarakan lebih lanjut dengan kedua orang tua kamu tanpa melibatkan saya. karena sudah dua tahun kita tidak pernah bertemu, dan sejak 9 bulan lalu tepat setelah saya menikah kita tidak pernah bertukar kabar kan? Saya permisi dulu"
Raven menegaskan jika dia tidak mau terlibat dengan permasalahan kandungan Intan. Lalu Raven meninggalkan meja.
__ADS_1
Namun Raven, Intan dan kedua orang tua mereka tidak mengetahui ada sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka.
siapakah orang itu??