
Menyelesaikan makan malamnya dengan porsi orang kelaparan yang sudah melewati jam seharusnya membuat perut Raven menjadi begah, terasa penuh. Akibatnya Raven menjadi tidak bisa tidur padahal niat awalnya dari kantor tadi adalah cepat pulang supaya bisa langsung istirahat.
Karena malam ini giliran nya menempati kasur dalam kamar, yang bisa dilakukan Raven hanya duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran empuk tempat tidurnya. karena lampu kamar sudah di padamkan, hanya siluet Fika yang terbaring di sofa yang dapat di lihat Raven.
Aakh...!!
Raven hanya bisa mengeluh pasrah karena menahan hasrat terhadap istrinya sendiri.
Kan gue suaminya, mo gue apain juga kan gak apa?
Aakhh!! Enak dia dong ntar ke-geer-an. dia gak tau apa yang gue alami, apa yang gue rasain karena dulu dia main pergi aja.
Pikiran Raven mati matian menolak untuk mengikuti hasrat dan hatinya. Semakin larut Raven semakin mempertebal gengsinya dan berhasil menenggelamkan hasratnya, hingga akhirnya rasa kantuknya mengalahkan rasa begah di perutnya dan memadamkan hasratnya.
-----
Pagi pagi sekali Fika telah bangun, seperti biasa Fika akan mandi lalu berganti baju dengan kaos oblong yang tidak terlalu longgar di tubuhnya dan hotpants yang menjadi andalan baju rumahan nya.
Selesai memoleskan pelembab pada wajahnya Fika keluar kamar menuju dapur hendak menyiapkan sarapan untuk Raven meskipun sebenarnya Fika ragu apa Raven mau memakan nya.
Tepat pukul setengah tujuh pagi Fika kembali masuk dalam kamar hendak membangunkan dan menyiapkan pakaian kerja Raven.
"Rav... Raven, bangun sudah siang loh."
__ADS_1
Fika duduk di pinggir tempat tidur samping Raven maksud hati ingin mengguncang tubuh Raven supaya terbangun namun yang dia lakukan justru menikmati ketampanan wajah Raven dari dekat.
Sengaja berlama lama matanya memandang bibir Raven. Bahkan pikiran Fika melayang ketika dulu dia begitu menikmati cumbuan bibir Raven pada bibirnya dan permainan lidah Raven dalam mulutnya.
Ya Tuhan.. tuh bibir yg cipokable skarang ngangeni banget... huuuaaa... pengen di cium nih...
Hembusan halus napas Fika mampu membangunkan Raven dari tidur lelapnya, Raven membuka matanya perlahan sampai sekitar tiga detik baru menyadari jika wajah Fika sangat dekat dengan wajahnya meski mata Fika tidak sedang menatapnya.
Raven menikmati wajah manis Fika yang dulu bisa dengan bebas diciumi nya, meski akan mendapatkan delikan mata tajam dari pemilik wajah. Saat ini Raven yakin seyakin yakinnya jika mata Fika sedang terarah dan menikmati bibirnya.
Tatapan Fika pada bibir Raven membuat Raven harus sekuat tenaga menahan hasratnya apalagi juniornya saat ini sedang siaga pagi a.k.a berdiri tegak dan membutuhkan pelepasan.
Cup.
Tiba tiba Raven mencuri ciuman tepat ke bibir Fika.
Bukan ciuman yang memabukan, hanya sekedar menempelkan bibir tetapi efeknya bagaikan kesetrum.
Ravendra Danuyo What the hell are you doing?
Raven pun melotot tertegun dan dapat mendengar otaknya bertanya pada bibirnya yang tanpa di komando melakukan kontak fisik dengan Fika.
Jangan tanyakan bagaimana rasanya pada Raven, jawabanya sudah tentu memabukan..
__ADS_1
enak cuy...
Sepersekian detik saling membelalakan mata karena tertegun, Lalu entah siapa yang memulai duluan tiba tiba saja bibir mereka sudah bersatu, mereka saling menyerang aah.. lebih tepatnya berusaha saling mencari kenikmatan masing masing pada bibir yang mereka cium.
Cukup lama mereka saling menyerang dengan bibir mereka. Raven dengan posisi tubuh yang terbaring miring di tempat tidur dengan salah satu tangan yang menopang tubuhnya agar dapat mensejajarkan wajahnya dengan wajah Fika yang sedang berlutut di lantai samping tempat tidur. Pada akhirnya mereka berhenti hanya karena mereka membutuhan asupan oksigen.
"hah..hah.aah"
Hanya suara tarikan napas yang terdengar setelah mereka melepaskan tautan bibir mereka, mata mereka masih saling menatap satu sama lain.
"Aakh.."
Entah apa yang merasuki Raven, Raven meraih dan menarik tubuh Fika hingga menindih tubuhnya diatas tempat tidur, Fika hanya bisa memekik karena kaget.
Ketika tubuh Fika sudah berada di atas tubuhnya, sambil menciumi bibir Fika dengan ganas Raven membalikan posisi tubuh mereka hingga sekarang Raven yang menindih Fika.
Ciuman Raven pun sekarang sudah berpindah ke ceruk leher Fika, tangan nya mengangkat kaos oblong Fika hingga sebatas dada lalu menikmati dua gundukan di dada Fika yang masih memakai Bra. Ciuman Raven semakin turun ke bawah ke arah perut datar Fika yang tanpa sehelai kain.
"Aku mau"
Hanya itu yang dikatakan Raven, Fika mengerti apa yang dimaksud Raven lalu membantu Raven, Fika membuka kaos oblong dan melepaskan bra-nya sedangkan Sisanya di selesaikan oleh Raven.
Raven berdiri di samping tempat tidur hendak melepaskan boxer dan kaos yang dia pakai untuk tidur ketika telah menyelesaikan tugasnya yaitu melepaskan hotpants Fika.
__ADS_1
Pandangan Raven tidak lepas dari wajah Fika seolah olah Fika akan hilang dari pandangan nya. Fika yang merasa malu secara refleks menutup dadanya dan menyilangkan kakinya.
"Stop!"