Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 4


__ADS_3

Selesai melakukan kegiatan di kamar mandi yang cukup lama, Raven dan Fika turun ke restaurant Hotel untuk makan siang.


Sepasang suami istri ini makan seperti orang yang tidak makan dalam beberapa hari, mereka menikmati makanan tanpa memperdulikan orang orang di sekitar mereka.


Perasaan hangat mengalir di dada Raven ketika melihat cara makan Fika yang menurutnya begitu mengasyikan, sangat menikmati makanan dan tidak jaim pikir Raven.


"Setelah makan, kita jalan jalan yuk, dekat sini ada kebun strawberry nya."


Fika membuka suara disela sela makan nya, sedangkan Raven mendelikkan matanya dan memberikan penolakanya


"Kita kesini kan bukan untuk jalan jalan."


"bentaran doang.. Gak bosan apa dalam kamar terus?"


"Gak. kan di kamar kita ada kerjaan, bukan bengong aja."


"Yaaa Ampun Rav.. jalan bentar aja sih. janji deh, setelah itu sampe besok kita gak kemana mana lagi."


"Janji ya..."


Fika menyunggingkan senyuman nya dan memonyongkan bibirnya memberikan kecupan di udara ketika keinginan nya untuk jalan jalan dipenuhi Raven.


Raven tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fika yang seperti anak kecil.


Menyelesaikan makan siang mereka melenggang dengan bergandengan tangan keluar hotel menuju kebun strawberry yang letaknya tidak seberapa jauh dari hotel.


"Raven"


Raven dan Fika memutar badan mereka kearah suara yang memanggil Raven dengan lembut.


"Eh, Intan.. sejak kapan kamu pulang? ngapain disini?"


Raven memberikan pertanyaan beruntun pada si pemanggil namanya yaitu Intan.


Gadis yang sudah sejak lama dia taksir namun pergi meninggalkan nya untuk meneruskan study nya keluar negeri. Sialnya Raven ditinggal sesaat setelah mengutarakan isi hatinya pada Intan. Dan lebih sialnya Raven telah mengungkapkan janji untuk menunggu Intan.


Tapi pada kenyataan nya berbeda, Raven harus menikah dengan Fika karena Surat Wasiat kedua mendiang orang tua mereka untuk menjodohkan mereka demi penyatuan bisnis dua keluarga.


Meski Raven pada awalnya menentang perjodohan tersebut, namun pada akhirnya Raven berpikir realistis bahwa bisnis harus diutamakan karena ribuan karyawan yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan nya.


Dan itu berarti harus dengan lapang dada menerima Fika sebagai istri sah dan menjalankan pernikahan sesungguhnya dengan Fika.


"Duh.. pertanyaan satu satu dong. bingung nih jawabnya"


Masih dengan suara lembut Intan menjawab pertanyaan Raven.

__ADS_1


"Aku baru nyampe sebulan yang lalu, nah kalo kenapa aku ada disini, karena ini hotel papa aku. Kamu ngapain di sini?"


Raven yang ditanya Intan salah tingkah karena kedapatan oleh cewek yang sedang ditunggu untuk dinikahi nya sedang bersama dengan istri sah nya di lingkungan hotel.


Salah tingkah Raven tidak luput dari pengamatan Fika dan dengan santai Fika menyodorkan tangan nya pada Intan.


"Hai, aku Fika, Is... "


"Ohh Halo Fika. kamu sepupu Raven yah?"


Intan menyalami Fika dengan santai sebelum Fika menyelesaikan kata katanya.


Raven ingin meralat Intan, namun Intan sudah terlebih dahulu pamit karena di panggil oleh orang tuanya.


"Nanti aku telpon yah Ven. Yuk Fika, aku duluan"


Raven dan Fika hanya bisa saling berpandangan lalu melanjutkan acara jalan jalan mereka.


Setibanya di perkebunan Strawberry, petani memberikan sebuah keranjang pada Fika dan mengijinkan Fika untuk memetik strawberry untuk nantinya akan di timbang dan mereka bisa membayar untuk di bawa pulang.


"Saya keranjang yang kecil aja Pak. Saya gak akan terlalu banyak metik nya kok."


Kemudian Fika berjalan menyusuri deretan pohon strawberry dan mulai memetik beberapa buah. Raven hanya mengikuti dari belakang dan membantu Fika.


"Cewek yang tadi special friend mu?"


"Hah? kamu digantungin cewek? seorang Raven Danuyo? Woooww... kok bisa sih?"


Fika mengejek Raven atas pernyataan nya. Raven hanya tersenyum kecut mendengar ejekan dari istrinya, bahkan ikut menertawakan nasib percintaan nya.


"Iya nih, naas banget yah nasib ku.. untungnya ada cewek yang mau trima perjodohan dengan aku, kalo gak kan mengenaskan banget nasib ku?"


"hehehe, yah meski ceweknya terpaksa juga sih.. tapi untungnya jadi yah?"


"Maaf yah, bukan ceweknya doang yang terpaksa, aku nya juga... Tapi untungnya lancar."


"untuk yang nasibnya di gantungin cewek, aku iyain aja deh.."


Raven menggelitik pinggang Fika setelah mendengar balasan jawaban Fika.


Setelah Fika puas memetik strawberry segar dan meminta petani untuk mengemas dalam kemasan wrapping paper menjadi 12 kemasan, sesuai jumlah murid kelasnya Raven membayar strawberry tersebut.


awalnya Fika menolak untuk dibayarin Raven, namun Raven memaksa.


Karena merasa tidak enak hati di lihat oleh petani akhirnya Fika membiarkan Raven membayar strawberry tersebut.

__ADS_1


"Nanti di kamar uangnya ku ganti yah."


"Apaan sih kamu? aku kan suami kamu, jadi Biaya hidup mu sudah jadi tanggunganku."


"Eh, tapi itu kan untuk murid murid aku sebagai oleh oleh untuk mereka."


"Iya tau. kamu sebenernya dah trima kita nikah ato belum sih Fi?"


"Nanya nya kok gitu?"


"Abisnya kamu gitu, gak ijinkan aku terlibat dalam hidup kamu banget."


Raven merajuk saat Fika mengutarakan akan mengganti uang belanja strawberry tadi. Fika menjadi merasa tidak enak hati pada Raven, lalu menggandeng lengan Raven dan meminta maaf dengan tulus. Raven hanya menganggukan kepala dan tersenyum tipis.


"Jadi kalo aku minta di belikan tas ato baju boleh nih?"


Fika mulai menggoda Raven, dengan tegas Raven menjawab Fika


"Jangankan baju, underwear mu pun jadi tanggungan ku mulai sekarang."


"Hahahahah... kamu harus tau ukuranya loh."


"Udah tau."


Raven menjawab dongkol namun dengan senyum yang sudah menghiasi wajahnya karena obrolan yang awalnya tegang sudah mencair.


Mereka benar benar menghabiskan sisa sore hingga malam hanya di dalam kamar. saat mereka sedang menikmati makan malam melalui layanan room service hotel, HP Raven berbunyi dari nomer HP yang tidak dikenalnya.


"Halo"


"Halo Ven, bisa kita ngobrol bentar di resto bawah?"


"Intan? ini nomer siapa?"


"Iya, ini nomer mamaku. batre HP ku dah lowbat banget gak bisa untuk telpon lagi. Aku tunggu skarang yah..."


Belum sempat Raven menjawab sambungan telpon telah di tutup Intan. Lalu Raven bertanya pada Fika perihal ajakan Intan


"Yank, aku dapat telpon dari Intan. Dia ngajak ketemuan d resto bawah, temani turun yuk bentaran doang."


"Aku gak usah ikut turun yah. pegel semua nih badanku abis dapat serangan senja gitu.. mayan kan sejaman ku pake tidur sebelum serangan malam nya"


"Hahahaha... kamu nih paling bisa deh. Yah udah aku turun bentar. kamu mo nitip apa?"


"Hhmm.. kembalikan suami ku dalam keadaan baik aja yah."

__ADS_1


Raven menowel mesra hidung Fika ketika mendengar jawaban Fika, lalu pamit menemui Intan si restaurant hotel.


__ADS_2