
Entah apa yang dirasakanya jika melihat dan berhadapan dengan Fika seperti sekarang ini; Marah, Rindu, Gengsi, Kangen, Ingin Mengamuk, Ingin Memeluk, Ingin Memaki, Ingin Mencumbu...
Aaakhh!!
Dengan cepat Raven menyelesaikan ritual mandinya. kemudian dia keluar dan melihat Fika duduk di ujung tempat tidur memangku baju tidurnya, Jempol kakinya sedang berputar putar membuat lukisan abstrak di karpet berbulu tebal.
"Sudah?"
Sekali lagi hanya anggukan yang diterima oleh Fika atas pertanyaan nya. Fika berjalan menuju ke arah kamar mandi yang berarti mendekat ke arah Raven.
Tenang Jantung!! Jangan bikin malu gue lo!!
Raven menjauhkan jarak tubuhnya dari Fika.
Fika mengguyurkan kepalanya dengan air dingin karena ingin menjernihkan kesemrawutan pikiran nya.
Gimana memulai nya yah? Ya Tuhan, tolong bantu hamba mu merebut suami hamba kembali dari kekecewaan, kemarahan nya pada hamba, lembutkanlah hatinya agar mau memaafkan hamba.
Kegiatan mandi Fika disertai dengan ucapan doa yang keluar pelan dari mulutnya. Tekad bulat Fika mengalahkan tekad para pejuang kemerdekaan deh...
Ketika Fika keluar dari kamar mandi, dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 00.57
Bener bener mandi tengah malam gue.
Lalu Fika melihat Raven sudah tertidur di salah satu sisi tempat tidur memunggungi sisi tempat tidur lain nya.
"Capek banget yah Rav? Well, setidak nya gue bisa ngeliat punggung lo deh Rav."
Ucapan lirih Fika saat naik ke tempat tidur dapat didengar jelas oleh Raven. Bagaimana Raven dapat tidur kan yah? secara kegugupan akut menerpa dirinya jika ada Fika.
__ADS_1
"Besok gue ikut lo balik jakarta. Gue akan berusaha dapetin maaf lo. Met malam sayang."
Masih dengan suara lirih, Fika mengucapkan tekadnya. Sementara Raven menggigit tulang pada jari telunjuknya agar tidak mengeluarkan suara mendengar janji Fika apalagi kalimat belakang menyebut dirinya sayang.
Entah berapa lama Raven berusaha agar badanya tidak memutar menghadap Fika, sampai dirinya sendiri merasa pegal.
Sabar, jaga gengsi lo Rav.
Tidak beberapa lama kemudian Raven dapat mendengar hembusan teratur nafas Fika dari belakangnya. dengan pelan Raven memutarkan tubuhnya menghadap Fika.
Dada Raven begitu membuncah kegirangan ketika melihat wajah cantik istrinya yang sedang tidur setelah hampir satu setengah tahun hanya kenangan terhadap istrinya yang menemani dirinya setiap malam.
"makin cantik. Aku nantikan usahamu sayang."
Cahaya Mentari menyelinap dari balik tirai jendela kamar, Fika membuka matanya dengan malas karena rasa kantuknya yang begitu berat mata Fika hendak terpejam kembali.
"Raven, ak.."
"Hmm."
Fika menelan salivanya melihat pemandangan indah di hadapan nya.
Raven baru saja keluar dari kamar mandi dengan wangi tubuh khas dirinya, rambut setengah basah yang sudah tersisir rapi, memakai busana casualnya andalanya; Celana Jeans biru, T-Shirt Polo berwarna Putih.
Yah Tuhan titisan Malaikat kah yang dihadapan ku?
Raven duduk di sofa hendak memakai kaos kaki dan sepatu sportnya.
"Kamu sudah mau berangkat yah? Tunggu aku yah..."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hmm, aku.. a-ku.. hmm.."
"Kelamaan, gue gak punya waktu."
"Aku ikut pulang."
"Pulang kemana lo?"
Jleb.
Sesak napas mendera Fika mendengar pertanyaan Raven.
"a-ku, a-ku... aku mau ikut kamu pulang ke apartemen mu di jakarta."
"Infoin aja alamat lo, nanti Tim Pengacara Prakasa Abadi yang akan urus perceraian."
Sekali lagi sesak napas mendera Fika, namun kali ini lebih nyesek dari sebelum nya.
"A-ku gak mau cerai."
"Trus keperluan lo di apartemen gue apa? dah gak ada barang barang lo disana."
"Aku kan istri kamu."
Raven mengatupkan mulutnya, lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Fika.
❤ Nah Loh... bagaimana kelanjutan nya?? ❤
__ADS_1