
Hari pertunangan Deanna dengan Steven tiba. diselenggarakan pada malam hari di halaman belakang mansion keluarga Wilbourg yang di sulap menjadi lebih indah karena diletakan beberapa pot berisi bunga berwarna putih yang sangat kontras dengan tanaman pada taman itu yang berwarna hijau serta lampu lampu kecil berwarna kuning emas yang sengaja di gantung bergelantungan di antara pohon dan tanaman bahkan di atur sehingga cukup menerangi sekitar taman.
Prosesi pertunangan yang cukup simpel hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman dekat dari Deanna dan Steven.
Pesta yang mengusung standing party sengaja di pilih Deanna dengan alasan supaya setiap undangan bisa berbaur dan lebih kekeluargaan, hanya beberapa meja bundar dan kursi di siapkan untuk para orang tua.
Sepanjang prosesi Fika sengaja mengambil posisi mendampingi Kakek Prakasa yang duduk di salah satu meja bundar yang paling dekat dengan pintu masuk ke rumah yang berarti bersebrangan dengan jalan masuk para tamu. di samping Fika ada Bik Sum dan di samping Bik Sum ada Dean yang malas berbaur dengan tamu dan memilih duduk. Namun justru sengaja menjauhkan diri dari kakek, sehingga memberi jarak dua kursi di antara Kakek dan Dean.
"Selamat malam, maaf saya terlambat."
bulu halus pada leher belakang Fika tiba tiba berdiri, Fika merinding mendengar suara dari arah belakangnya yang begitu di kenalnya bahkan dirindukan nya. bahkan sekarang Fika merasakan tubuhnya mendadak menjadi tegang, detak jantung Fika seperti sedang bermain drum band dengan tempo irama cepat.
Perlahan Fika Memutar tubuhnya untuk lebih memastikan dirinya jika suara itu adalah benar suara Raven.
Deg.
Dada Fika seperti tertusuk puluhan.. aah salah, ratusan bahkan ribuan jarum ketika mata nya diperhadapkan dengan pemandangan yang ada di depan nya.
Bujug! cantik banget..
"Aah Kalian rupanya. kenapa lama sekali baru tiba?"
__ADS_1
"Maaf Kek, tadi penerbangan nya sempat delay"
Eh, itu malaikat apa manusia yah? suaranya kok merdu banget sih??
Fika melihat kakeknya berdiri dengan luwes dan hendak menyambut perempuan cantik dengan postur tubuh lebih tinggi sedikit dari dirinya, berwajah blasteran dengan rias wajah sederhana namun sudah menampilkan kecantikan luar biasa dan.. datang bersama Raven - suaminya. yang sudah dia tinggalkan hampir satu setengah tahun lalu.
Siapa dia? kok sama Raven? apa jangan jangan... what??
Fika begitu kaget ketika Kakek mencium hangat pipi kiri dan kanan perempuan itu.
Kakek Kenal dia? harus gue introgasi nih kakek...
loh kok?
Fika lebih terkejut lagi ketika Kakek dengan ramah, perhatian dan hhmm... sepertinya penuh kasih sayang gitu manarik lembut lengan perempuan cantik itu untuk duduk di sebelahnya kakek. Kakek malah berpindah posisi duduknya dari kursi yang sebelumnya duduk di samping Fika menjadi duduk di kursi persis di samping Dean.
Diikuti dengan perempuan itu yang duduk di kursi setelah Kakek. Menyisahkan satu kursi di antara Fika dan perempuan cantik itu.
Masih dengan tatapan penuh selidik pada kakek dan perempuan itu yang sedang ngobrol manis, tiba tiba pandangan Fika sudah terhalang oleh keberadaan Raven yang sudah duduk di samping Fika.
Hallo!! excuse me... can anyone can explain what is going on here?
__ADS_1
Otak Fika mulai berontak dengan keadaan yang tidak masuk akalnya dan mulai menyesakan dadanya.. Para Pemain Drum Band sepertinya mulai pergi dan digantikan oleh para algojo yang mulai memainkan Gadah nya dengan mengetok ngetok dada Fika dengan Gadah Hanoman yang besar seperti yang ada di cerita Mahabarata.
"Raven, You're arrived."
"Yaah, maaf terlambat yah. Selamat untuk kalian berdua."
Kedatangan Deanna mengalihkan pikiran frustasi Fika.
Raven menyalami pasangan yang baru saja bertunangan itu. dan Fika dapat melihat jika Raven sudah mengenal Steven bahkan kelihatan cukup akrab.
Eh, dia juga ikutan.. eh, pake cipika cipiki akrab juga ama Dee Dee? Sialan Dee Dee gak pernah cerita ke gue.
"Oh, Raven take this..."
"What is this? a receipt?"
Raven merasa bingung menerima dan melihat sekilas secarik kertas berwarna putih yang menampilkan deretan nama barang beserta harganya dari sebuah Nama Butik Yang Cukup Terkenal di kota Seattle.
Lalu Raven menganggukan kepalanya tanda mengerti dan menyimpan kertas tersebut dalam saku jasnya. Frustasi Fika soal perempuan misterius yang sudah di kenal oleh hampir semua keluarganya belum selesai, sekarang malah bertambah saat melihat interaksi Deanna dan Raven.
Kok gue ngerasa tersisih yah?
__ADS_1