
Gue harus selesaikan dengan cepat. Harus beres. Diri gue sendiri taruhan nya.
Batin Fika berbicara mengomando otaknya untuk melakukan hal yang benar.
Tangan Fika sudah terulur untuk mengetok pintu apartemen yang dulu ditempatinya bersama Raven.
Raven masih tinggal disini gak yah?
Percuma donk gue ketok ato nyelipin surat dibawah pintu trus dianya dah pindah.
Fika masih berdiri didepan pintu apartemen ragu mau mengetok atau meletakan surat yang dia tulis sewaktu menginap di hotel melalui celah di bawah pintu.
Ting.
Fika mendengar suara pintu lift terbuka, tanpa menunggu dan menoleh Fika meninggalkan unit apartemen Raven menuju pintu tangga darurat yang berlawanan arah dengan lift.
Tanpa sadar Fika menuruni tangga darurat sebanyak lima lantai hingga akhirnya menuju mobilnya yang di parkir lalu meninggalkan apartemen itu untuk pulang ke rumahnya.
Sia sia banget sih lo Fika. kelamaan lo mikirnya. Lagian bego banget sih bukanya lo cari tau dulu Raven sekarang tinggal dimana, main pergi aja lo ke apartemen itu. Segitu kangen nya lo ama tempat itu? tempat tinggal yang lo tinggalkan karena omongan gak jelas dari seorang Ardika Sahlendra mantan lo yang jahat itu dan Intan yang baru ketemu sekali... Bego Bego Bego banget dah lo Fika.
Sepanjang perjalanan Fika hanya bisa meratapi nasibnya.
---
"eh, den Dean dah nyampe masuk yuk? Non Fika, den Dean dah nyampe nih."
Bik Sum membukakan pintu rumah untuk Dean yang baru saja tiba dari Amerika menggunakan pesawat jet pribadinya.
"Dean!"
Fika berlari dan langsung memeluk Dean kakak sepupunya itu dengan sayang. Lalu menawarkan untuk makan malam bersama.
"dinner?"
"Yes. Bik Sum masak apa?"
"Sayur Asem, Goreng Tempe dan ikan asin sama sambel terasi. den Dean mo langsung makan sekarang ato mau mandi dulu?"
"sekarang. saya sudah lapar sekali."
Fika merasa takjub melihat Dean memakan masakan Bik Sum dengan lahap.
__ADS_1
"you really miss sayur asam huh?"
"Yup. oia Bik Sum, besok malam kita berangkat Bik Sum masak ini lagi yah buat saya makan di pesawat."
"Loh? gak jadi besok pagi berangkatnya?"
"Saya harus bertemu rekan bisnis dulu."
---
"Tante sayang, apa kabar?"
Fika memeluk erat tante tersayangnya. Fiane menyambut pelukan Fika dengan membelai lembut punggung Fika.
"Kabar baik sayang, bagaimana perjalanan mu?"
"Tidak terlalu capek, Fika tidur hihihi..., oia, Deanna dimana?"
Fiane mengajak Fika masuk kedalam mansion besarnya untuk bertemu dengan Deanna yang sedang berada di dalam kamar kakek untuk memeriksa keadaan kakek.
"Selamat siang Bu dokter cantik dan pasien gagah. Cewek cantik kesayangan kalian sudah sampai nih"
Dengan cengiran riang Fika masuk kedalam kamar kakek, membuat Deanna dan Kakek menatap wajah Fika dengan jengah.
Kakek memarahi Fika karena sapaan nya yang menurut kakek melupakan statusnya.
"Kakek, Fika benar dia adalah seorang cewek selama satu tahun ini sejak dia meninggalkan lelaki baik hati yang mencintainya."
Fika memonyongkan bibirnya mendengar omongan sepupu tersayangnya yang awalnya membelanya namun pada akhirnya justru mengejeknya.
"Hahaha, iya kamu benar Deanna, dia seorang cewek cantik bodoh yang kesepian satu tahun ini."
"Kakek kok ngomong gitu? Kakek sudah gak sayang lagi ama Fika?"
Fika semakin kesal dengan omongan Kakek yang membalas omongan Deanna dan semakin mengejeknya.
"Kakek tentu saja masih sayang padamu Fika, kamu kan cucu kakek. Namun saat ini kakek lebih sayang Raven."
"Kakekkkkk, kok jahat banget sih?"
Deanna dan Kakek tertawa bersama melihat kejengkelan Fika terhadap obrolan mereka yang dengan sengaja mengolok dirinya.
__ADS_1
"Dee, waktu lo kembali dari pelarian lo juga di olok gini gak sih?"
"Gitu deh..."
"Ooh.. jadi lo sengaja ngolok gue yah?"
Deanna memberikan cengiran manisnya pada Fika yang semakin dongkol, sedangkan kakek tersenyum bahagia melihat interaksi kedua cucu perempuan nya yang sangat akrab.
"Fi, gue ke rumah sakit dulu yah. sori gue gak ikut makan malam dirumah. Tapi besok pagi lo harus temani gue fitting baju sekalian lo juga."
"Dee, lo tau kan gue gak punya penghasilan. sepertinya gue pake baju gue sendiri aja deh. gak sanggup gue pesen baju di sini."
"Nanti gue minta ke Raven kalo lo masih gengsi ngomong ke dia."
"Eh, jangan! Yah kali Raven mo ngasih? secara gue yang ninggalin dia."
Kakek dan Deanna saling memandang kemudia tawa mereka pecah seketika mendengar penuturan polos Fika tentang keadaan financialnya dan kehidupan pribadinya saat ini.
"Makanya, biar kata lo gak tertarik ama bisnis, setidaknya lo kudu tau pemasukan lo sendiri sebagai ahli waris lah."
Fika menatap bingung ke arah Deanna yang berbicara masih dengan tawanya, lalu melanjutkan.
"Untung aja Raven itu baik dan jujur, You're so stupid has left him."
"Tentu saja kamu banyak uang sayang. setahun kamu meninggalkan Raven, dia telah menjadi mesin uang bagi Prakasa Abadi Group, tentu saja keuntungan bagi kamu."
"Tapi gue gak pernah terima uang itu."
Lalu Fika menceritakan jika setiap bulan Raven mentransfer sejumlah uang yang jumlahnya hanya selisih empat puluh lima juta dari yang biasa dia terima ketika masih tinggal bersama dengan Raven.
"What? You're damn so lucky have husband like him you know! dia membiayai hidup lo selama lo sembunyi dari dia? Such a crazy men."
"Fika, Raven membiayai kamu dari penghasilan nya sendiri sebagai CEO PT Danuyo Jaya. dia memang cuma mengambil 45juta untuk membayar tagihan bulanan dan para pembantu di rumah peninggalan orang tuanya. Sedangkan penghasilan & keuntungan dari Prakasa Abadi Group semuanya dia berikan untuk kamu."
"Kakek kok tau?"
Fika hanya bisa terdiam mendengar penjelasan kakek dan hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Fika.
"Karena sebelum Kakek menggabungkan dua perusahaan itu, kakek sendiri yang dipaksa Raven menandatangani surat perwalian hak ahli waris atas namamu. seharusnya tidak perlu Raven kan suami mu terserah dia mau berbuat apa dengan uang dan perusahaan itu."
Fika hanya bisa menundukan wajahnya sepanjang mendengar penjelasan kakek.
__ADS_1
Jadi selama ini Raven tetep menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami, nafkahi gue? Ya Tuhan... apa yang sudah gue lakukan?