
Raven memegang kedua pipi Fika lalu mencium lembut bibir Fika cukup lama, Fika terhanyut sampai sampai dia tidak dapat merasakan kakinya. Untung saja Raven berhenti menciumnya, namun masih memegang kedua pipi Fika.
"Ulangi lagi."
Bukan permintaan apalagi permohonan, namun sebuah perintah yang diberikan Raven pada Fika.
Tapi Fika dengan segala kelemotan nya malah memajukan bibirnya hendak mencium Raven, tentu saja Raven menerima bibir Fika dengan ikhlas karena memang sejak awal mereka menikah dan sejak pertama Raven mencium bibir Fika, bibir itu sudah menjadi candu bagi Raven.
"Katakan sekali lagi Fi.."
Kali ini Raven mendesak Fika untuk mengulang kata kata cintanya, Untung saja kelemotan Fika tidak terlalu fatal.
"Aku cinta kamu."
Raven memeluk Fika sangat erat, seolah dunia akan merebut Fika dari dirinya, Fika pun membalas pelukan Raven tidak kalah eratnya.
"Kamu kok gak bilang?"
dalam dekapan dada bidang Raven, Fika tidak mau kalah menuntut pengakuan Raven.
"Kalo aku gak cinta kamu, sudah lama aku ceraikan kamu."
Fika tersenyum mendengar pengakuan cinta yang aneh dari mulut Raven namun bagi Fika terdengar romantis. apalagi Raven tidak pakai kata lo dan gue lagi, Fika tersenyum lebar dalam dekapan Raven.
"Fi, janji yah kamu gak bakal nuduh aku yang aneh aneh."
"Iya."
"Janji yah kamu beneran jalanin pernikahan ini bukan karena terpaksa?"
"Iya."
"Janji yah gak pake acara minggat minggat kalo ada masalah."
"Iya."
"Janji yah setiap ada masalah kita omongin dan cari solusi bareng."
__ADS_1
"Iya."
"Janji yah kata kata cinta itu beneran."
"Iya. kamu juga janji yah"
"Janji apa sayang?"
"Selalu jujur dan cerita apapun tentang kegiatam kamu, pekerjaan kamu, terutama tentang perasaan dan pikiran kamu. Kamu tau kan kalo aku rada lemot?"
Alih alih menjawab Raven malah tertawa dan mempererat pelukannya terhadap Fika karena pertanyaan tak terduga keluar dari mulut Fika yang mengakui kelemotan nya.
"Iya sayang aku janji, akan sering cerita ke kamu, kita saling berbagi yah? "
Fika menganggukan kepalanya dalam dekapan Raven sebagai jawaban untuk Raven.
Cukup lama mereka berpelukan melepas rindu yang selama ini mereka pendam, hingga bunyi dari dalam perut Fika mengganggu momen mereka.
"Kamu tadi siang gak makan yah?"
"Kita makan diluar aja."
Raven menarik lengan Fika menuju pintu utama hendak keluar apartemen.
"No Raven. kita gak bisa kluar blakang baju kamu basah, mataku sembab. Kita mandi dulu, ganti baju dulu."
"Klamaan, kamu mau kita selesai mandi nya tengah malam?"
"Emang kamu betah dengerin cacing di perutku pada konser?"
Akhirnya Raven mengalah dan menyuruh Fika untuk mandi terlebih dahulu. Namun saat Fika hendak menjauh Raven menahan lengan Fika.
"Siapa yang tadi kamu panggil sayang?"
Fika tersenyum mendengar nada cemburu pada pertanyaan Raven,
"Kasi tau gak yah? Aww.. Raven.."
__ADS_1
Tadinya Fika ingin menggoda Raven, tapi Raven tidak membiarkannya malah menarik Fika dan menghujani wajah dan leher Fika dengan ciuman.
"Rav, sambil makan kita ngobrolnya yah"
Fika berujar masih dengan sisa sisa rasa geli pada wajah terutama lehernya.
-----------
Tidak perlu jauh jauh, Mereka menuju salah saty cafe yang berada di bawah apartemen mereka. Memilih salah satu meja di pojok agar obrolan mereka tidak terganggu.
Fika menceritakan siapa dan isi obrolan dari telpon yang diterimanya. bahkan Fika menjawab beberapa pertanyaan Raveb seputar kegiatan nya selama dirinya melarikan diri. Fika juga menceritakan tentang Intan dan keadaan nya terakhir kali Fika melihatnya sewaktu di puncak.
Fika dapat melihat perubahan wajah Raven, jika sebelum sebelumnya Raven menunjukan ekspresi penasaran dan antusias kala mendengar cerita Fika, namun saat menceritakan keadaan Intan Raven terlihat flat bahkan seolah malas untuk mendengar, aah.. ekspresi sudah tahu.
"Rav, kamu sudah tau tentang Intan yah?"
Konsentrasi pada makanan yang sedari tadi baru dimakan sedikit karena menyimak cerita cerita Fika, Raven Tidak menjawab hanya pundak yang terangkat dan dengan wajah datar yang dilihat Fika.
"Mana nih yang katanya saling terbuka?"
uhuuk.. uhukk..
Raven menghentikan kegiatan makan nya karena tersedak merasa lucu, mendengar Fika membalikan perkataan nya di apartemen tadi.
"Dia yang nyebabkan kamu ngilang dari aku. Lagian memang ayahnya melakukan korupsi pada usahanya sendiri kok."
"Korupsi di perusahaan nya sendiri kok bisa?"
"Yah bisalah, kalo tuntutan anak semata wayang dan istri nya sebagai sosialita cukup tinggi."
"Oooh, untung yah kamu dijodohin nya ama aku"
Kali ini Raven tidak bisa menahan keras tertawanya, sampai beberapa pengunjung Cafe menoleh ke meje mereka.
"Raven ishh ketawanya, malu tau."
Raven membekap mulutnya sendiri namun masih dengan tertawa lepas. Dalam tawanya Raven berpikir mungkin ini adalah tawa terkeras dan terlama yang dilakukan nya dalan setahun lebih ini. Dan semua karena Fika, wanitanya, istrinya, separuh hidupnya, cintanya telah kembali padanya.
__ADS_1