
Sinar Matahari menyinari kamar yang Fika tempati, menggeliatkan tubuhnya sesaat sebelum dia bangkit dari tempat tidur empuk untuk masuk kedalam kamar mandi.
Menyelesaikan ritual mandi nya, Fika terkejut ketika melihat lingkaran hitam dimatanya.
"Nasib kalo kurang tidur nih."
Fika hanya bisa berkomentar sendiri mengenai keadaan nya yang semalam memang susah tidur karena pikiran nya tidak bisa di ajak kompromi padahal mata Fika sudah sangat ingin terpejam.
"Susah banget ilangin muka lo dari otak gue Rav. Lama lama gue bisa gila tau gak sih Rav?"
Sekali lagi Fika bermonolog dengan pantulan dirinya di cermin.
"Rav gue ka..."
Buk... Buk..
Belum selesai ungkapan hatinya terucap suara pintu kamarnya di gedor gedor, bukan di ketuk.
"Yess... I'm coming. wait the minute"
"Kamu baru selesai mandi? gak dengar omongan gue kemarin siang? pagi ini lo kudu temani gue fitting baju."
"Iya, sabaran napa? exciting banget sih yang mo tunangan? Napa gak langsung nikah aja sih pake acara tunangan segala."
"Yeee... gue kan pengen lewati moment moment indah dulu. cepetan turun sebelum mami-papi turun sarapan kita harus udah selesai sarapan."
__ADS_1
"Kok gitu?"
"males gue di tanya terus tentang persiapan acara pertunangan gue."
"permisi yah? itu ortu lo ya wajar lah mereka pengen ta... wooiii gue blom selesai ngomong."
Omongan Fika terputus karena Deanna dengan gaya centilnya keluar dari kamarnya dan meninggalkan nya menuju ruang makan.
Setelah menyelesaikan sarapannya dalam tempo waktu secepatnya Fika sudah di tarik masuk kedalam mobil Deanna untuk menuju salah satu butik terkenal di Seattle
---
"Muke gile, lo pesen baju disini? cuma untuk tunangan?"
"Steven ini yang bayar. berhubung gue suka dengan rancangan baju nya yah gue ambil dengan ikhlas dong."
Saat Deanna selesai melakukan fitting terakhir dan sedang menunggu sang manager toko membawakan beberapa beberapa pilihan sepatu yang cocok digunakan dengan gaun tersebut, Fika memulai percakapan ringan.
"Dee, gue penasaran deh. kok kosa kata bahasa lo semakin banyak and logat lo kentel banget Indo nya? secara terakhir lo ke Indo kan pas gue nikah."
"hihihi, emang setelah loe nikah gue balik ke Seattle tapi hanya sekedar ngurus surat pengunduran diri gue dari tempat kerja gur yang lama. Trus, gue balik lagi deh ke Indonesia tapi sebelumnya gue ke Italy 10hari lalu ke Irlandia 10 hari lalu ke Iran seminggu lalu ke India seminggu kemudian ke Bali seminggu lalu terakhir ke jakarta sampe akhirnya gue tau kalo Steven yang gue taksir sejak awal masuk sekolah kedokteran itu yang akan di jodohin ama gue."
Fika melongokan wajahnya mendengar penjelasan dari Deanna tentang pelarianya ke beberapa negara berawalan huruf I.
"Luar Biasa lo"
__ADS_1
"Emang. kan gue Deanna. eh, tapi lo kagum bagian yang mana dari cerita gue?"
"All Of.. Emang lo gak tau kalo Steven yang mau di jodohkan itu adalah Steven yang lo taksir? Tumben otak detektif lo gak digunakan?"
"Mana gue tau kalo Morgan Hospital itu adalah milik mama nya Steven. kan gue taunya Steven Hardaway."
"Lo kira Steven Morgan hahahaha... lucu deh lo Dee."
"Trus, nanti lo mau pake dress yang mana? cepetan pilih supaya bisa sekalian di antar besok."
"Yah ampun Dee... ini harga baju baju selangit loh yah. dan lusa itu bukan gue bintangnya, so I'll wear my own dress."
"Fika sayang, Raven won't broke just because you bought one of these dresses, okey."
"Iya, But I'am to ashamed to use his money.."
"Malu?? gensi kali.... Aww"
Fika melayangkan cubitan maut pada lengan kanan Deanna karena sepupunya itu sangat mengerti tentang dirinya.
Pada akhirnya Fika mengalah pada Deanna dan memilih salah satu gaun sepanjang mata kakinya berwarna biru tua berpotongan sederhana dengan lengan panjang berbahan tille halus dan bagian punggung terbuka sedikit.
"Nanti gue minta uang ke kakek untuk ganti gaun ini yah."
"Gak usah. nanti gue yang akan minta gantinya sekalian sepatu dan perhiasan lo."
__ADS_1
"okey My Dear..."
❤ Semoga Pembaca tetap setia yaaa 😘😘