Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 18


__ADS_3

Setibanya di rumah, Fika mengunci rapat pagar dan semua pintu jendela rumah kontrakanya sesuai saran dari Wawan si ojek yang mengantarnya. Setelah Fika bertukar nomer ponsel supaya mudah menghubungi saat mengantar - menjemputnya Fika masuk kedalam rumah dan tidak berniat keluar lagi untuk sisa hari ini.


Ketika malam, Didalam kamarnya Fika semakin merasa kesepian dan ketakutan karena kejadian tadi siang. Dalam kamar tidur dengan lampu masih menyala, Fika merenungi nasibnya


Rav, loe tau gak gue tadi ampir diculik.


Rav, klo ada loe kan gue bakal ada yang jagain? Masa iya sekarang princess Aurora di jagain ama tukang ojek komplek bukanya Prince Charming nya?


hikss.. Hiks..


Sedangkan diluar pagar rumah Fika sebuah mobil sport parkir dalam keheningan setelah menembus raya selama kurang lebih 1 jam 45 menit yang normalnya perjalanan sekitar 3 jam.


Seperti kerasukan setan Raven memacu mobilnya menuju kontrakan Fika setelah mendapatkan kabar dari orang kepercayaan nya yang selama ini bertugas mengawasi Fika tentang gagalnya aksi penculikan terhadap Fika.


Sudah hampir 2jam Raven memandangi rumah kontrakan Fika, Raven melihat ketika tirai rumah Fika terbuka sedikit dan melihat siluet Fika yang sedang mengintip keluar rumah lalu tidak lama kemudian lampu ruang tamu dimatikan.


"Aah... Fi, gue kangen loe"


ucapan lirih atas perasaan rindunya selama 11 bulan - 3 minggu ini sepertinya terbayar hanya dengan melihat siluet Fika.


Tidak lama kemudian rahang Raven mengeras melihat sebuah mobil sedan merah berhenti di depan pagar rumah kontrakan Fika. Lalu turunlah pengemudi yang Raven tau sebagai Ardi karena beberapa kali mendapatkan foto dari orang suruhan nya.


"Akhirnya gue bisa liat langsung muka loe, *******!"


Tangan Raven memegang setir dengan kuat berbicara sendiri masih dalam mobilnya melihat Ardi yang berusaha membuka pagar rumah Fika namun gagal.


Raven melihat Ardi mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Jangan angkat telponya sayang"


Meyakini diri jika Ardi akan menghubungi Fika, Masih berbicara sendiri Raven memohon agar Fika tidak menjawab telpon Ardi.


Raven melihat beberapa kali Ardi mencoba menghubungi Fika namun tidak ada jawaban. Senyum kepuasan menghiasi wajah Raven


"Rasain loe, Mang enak dicuekin istri gue?"


Raven menyaksikan ketika Ardi menendang pagar rumah kontrakan Fika karena jengkel tidak dibukakan pintu oleh Fika.

__ADS_1


---


Di dalam kamar, telinga awas Fika mendengar ketika suara gembok pagar rumahnya berbunyi.


"Pasti Ardi. nah bener kan?"


sejurus kemudian Fika melihat layar ponselnya menyala dan keluar nama Ardi sebagai penelepon. Lalu tidak lama chatt dari Ardi masuk, Fika hanya membacanya tanpa niatan untuk membalas nya.


*Aku didepan rumah kamu buka dong. Aku pengen ngobrol serius.*


"Prett.. trakhir loe pengen bicara serius, gue ninggalin Raven. Ogah mah skarang gue dengerin omongan loe"


Fika berbicara pada chatt Ardi seolah olah itu adalah Ardi.


Ardi masih gigih menelpon Fika tapi diabaikanya. Beberapa saat kemudian Fika mendengar suara deru mobil meninggalkan jalan depan rumahnya.


"Rav, napa bukan loe sih yang datang?"


Setelah gangguan dari Ardi berakhir, Fika kembali pada kegiatan setiap malam sebelum dirinya tidur selama dua minggu terakhir ini, yaitu Mendamba Raven - suaminya.


Aakh.. masa iya gue yang datengi? Raven bahkan gak pernah nyari gue.


Tapi kan elo yang ninggalin Prince Charming - suami loe?


Duuh... masa iya Rapunzel Syantik yang harus sungkem*?


Ya, Tuhan berikan gue satu tanda agar gue harus datangi Raven dan memohon maaf padanya atau gue harus terus seperti ini sampe Raven datang.


Fika mengalami perang batin yang cukup hebat. Hingga dia memanjatkan doa mohon petunjuk


Tring.


Suara notifikasi ponsel Fika berbunyi tanda sebuah chatt masuk. Mata Fika terbelalak membaca nama pengirim chatt, Senyum bahagia memenuhi wajahnya ketika membaca chatt dari Raven.


*Gue tunggu kepastian lo.*


Shit!! kenapa terkirim sih?

__ADS_1


Raven memaki dirinya ketika tanpa sengaja jempolnya kecepetan memencet tanda kirim pada ponselnya.


Sedari tadi Raven mengetikan beberapa chatt lalu menghapusnya, lalu mengetik ulang chatt yang lain, lalu menghapusnya kembali. Bahkan Raven menimbang akan mengirim chatt atau menelepon Fika.


"Aku pastikan kita masih suami istri"


Tanpa sadar Fika berteriak memecah keheningan.


Chattnya kok pake gue - loe sih? Hiks.. Hiks..


Eh, Ya Tuhan ini tanda gue harus datangi Raven untuk minta maaf ato gue harus tetep seperti ini, nunggu Raven yang datang?


Fika masih dilema dengan tanda yang diberikan oleh Tuhan padanya.


Ya, Ampun Fika udah saatnya loe perbanyak waktu doa loe.


Dengan perlahan Raven menyetir mobilnya dan meninggalkan rumah kontrakan Fika untuk kembali ke apartementnya, karena besok pagi pagi sekali dia harus berangkat ke Lombok mengecek pembangunan resort mewah milik Prakasa Abadi Group yang sudah dalam tahap finishing.


Sebelumnya, Raven menghubungi Arman untuk kembali menjalankan tugasnya, yaitu mengawasi dan menjaga Fika.


Dalam perjalanan pulang Raven tidak dapat menghentikan senyuman bahagia di wajahnya karena mendengar suara teriakan Fika dari dalam kamarnya.


"Terimakasih Fika sayang. Aku pastikan juga kita tetap suami istri."


Tring.


Notifikasi chatt pada ponsel Raven berbunyi, Raven membuka dan membaca chatt dari Fika. lalu pecahlah suara tawa Raven dalam mobil yang di kendarainya.


*Kepastian apa?*


Fika dan segala Gengsinya. Pikir Raven


Raven bahkan mengganggap balasan chatt dari Fika merupakan vitamin tambahan untuknya semakin bersabar menantikan istrinya kembali ke dirinya.


Waktu tempuh perjalanan 3jam tidak membuat Raven kelelahan setelah dirinya merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"Bakalan mulai bisa tidur nyenyak dikit nih gue, meski dikit yaaa.. lumayanlah. Love You Fika"

__ADS_1


__ADS_2