
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Raven masuk ingin mengistirahatkan tubuh letihnya.
Lampu kamar sudah padam, hanya lampu di meja nakas sebelah Fika yang masih menyala.
Raven hendak mematikan lampu meja di samping Fika. Raven melihat Fika tidur dengan posisi miring hampir tengkurap. kepalanya menindih lengan kirinya, sedangkan lengan kanannya dipakai untuk menutupi wajahnya. Posisi tidur Fika menampakan hampir semua tubuh bagian belakangnya terlihat.
Bagai tertusuk jarum, junior Raven tersentak dan memaksa keluar dari karet celana dalamnya karena kaget melihat paha mulus hampir sebatas lipatan bokong Fika yang tersingkap dari daster tidurnya yang panjangnya memang hanya sekitar sepuluh centimeter di atas lutut.
Dengan Gerakan cepat namun tetap berhati hati, Raven menarik selimut lalu menutupi tubuh Fika sampai sebatas punggung.
Sialan!!!
Lalu dengan terpaksa Raven masuk dalam kamar mandi dan mencari sabun untuk melakukan pelepasan, yah mau gimana lagi? daripada tidak bisa tidur nyenyak kan, padahal badannya sudah terasa lelah.
Hahahahahahaha...
Fika yang berpura pura tidur saat mendengar suara pintu kamar terbuka memang sangat tahu jika Raven - suaminya itu tidak dapat menahan hasrat terhadap dirinya. Fika menertawakan sikap Raven barusan dalam hatinya dan merasa senang.
Ternyata lo masih punya rasa ke gue. Sip lah, stidaknya gue masih punya peluang ngambil hati lo, Rav
Dalam hati Fika tidak putus putusnya berdoa agar rumah tangganya kembali seperti semula sebelum dia membuat kesalahan dulu.
Raven keluar dari kamar mandi setelah melakukan penyelesaian dengan juniornya. Raven menghembuskan napas nya kemudian mengatur posisi tidurnya.
Keesokan siangnya seperti ucapan Fika semalam, Fika mengantarkan lunch box dalam paper bag ke kantor Raven.
Fika mengetok pintu ruangan Raven beberapa kali sebelum suara Raven menyuruhnya masuk.
"Met siang Rav, ini aku bawain makan siang."
Sambil berbicara, Fika masuk keruangan Raven lalu duduk di sofa tamu. Raven tertegun sejenak merasa kaget ternyata orang yang mengetok pintu kantornya adalah Fika.
__ADS_1
"Oia, Lunch box yang kemarin mana? biar sekalian ku bawa pulang."
Raven hanya menunjukkan menggunakan kepalanya keberadaan lunch box yang sudah di cuci bersih oleh OB kantor tadi pagi dan sudah dimasukan kembali dalam paper bag yang kemarin diantarkan Fika.
"Oooh udah di cuci yah? sip lah. say thank you yah ama OB nya dah ngeringanin kerjaan ku"
"Gue mo makan diluar."
Raven mengatakan itu dengan pelan, merasa tidak enak hati dan kasihan pada Fika, tapi mau gimana lagi?
Napa lo gak telpon dulu sih Fi?
Terlihat jelas raut wajah kecewa Fika mendengar Raven akan makan diluar.
Tok... Tok...
"Masuk"
"Selamat Siang Pak Raven. Jadi kita makan diluar? Oh Halo Bu Fika, Apa kabar?"
"Oooh, Bu Fika sudah membawakan makan siang? Pak Raven, jika tidak jadi yah tidak apa, Next time lah, kesian Bu Fika sudah cape cape datang. Memang repot jika tidak ada sekretaris yang membantu anda Pak. Ah, ngomong ngomong kenapa tidak Bu Fika saja yang sementara menggantikan sebagai sekretaris Pak Raven?"
Raven dan Fika yang sedari tadi hanya diam mendengar omongan Pak Sapto tiba tiba tertegun
"Saya gak yak..."
"Emang gak apa Pak?"
Raven dan Fika bersamaan mengeluarkan pendapat, namun Raven tidak jadi meneruskan ucapan nya karena omongan Fika yang lebih lancar seperti air memberikan pertanyaan pada Pak Sapto.
"Yah tidak apa kan cuma sementara, kalo cuma ngatur jadwal dan merapikan file Pak Raven saya yakin Bu Fika bisa melakukan nya."
"Tidak Pak Sapto, saya tidak yakin itu memungkinkan"
__ADS_1
"Yah, memang jika menyangkut menyelesaikan berkas bisnis itu tidak mungkin, karena butuh proses dan belajar. Tapi kan jika ada bantuan sedikit Pak Raven tidak terlalu ketetran seperti beberapa hari ini."
Fika tersenyum bahagia seperti mendapatkan hadiah dari surga. yaitu kesempatan lebih banyak untuk bisa mengenal Raven dan berdekatan dengan Raven. Sementara Raven hanya diam dengan wajah yang sulit dijelaskan.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi makan siang dulu yah."
Lagi lagi Pak Sapto memecah keheningan diantara Raven dan Fika. Namanya orang yang sudah mengarungi rumah tangga tigapuluh tahun lebih tentu saja sangat paham dengan situasi yang terjadi saat ini antara sepasang suami istri yang sedang bermasalah dalam ruangan ini.
"Gak usah lo pik..."
"Aku mau jadi sekretaris pengganti mu."
Dan lagi lagi Raven harus kalah ketika ucapan yang dilontarkan bersamaan dengan Fika. Raven hendak membantah Fika dengan memberikan alasan penolakannya.
"Gak mud.."
"Rav, bolehin yah?"
Kali ini Raven kalah telak, mendengar ucapan, eh salah, rengekan Fika membuat Raven mati kutu dan hanya bisa menggelengkan kepala sembari menghembuskan napasnya pelan.
"Mulai sekarang juga aku siap kok."
"Kan lo gak ngerti. lo tuh harus tandatangan kontrak dulu meski hanya sebagai sekretaris pengganti."
"Kan udah sign kontraknya, Rav."
Raven ingin bertanya, namun Fika sudah melanjutkan ucapan nya dengan senyuman manisnya.
"Kap.."
"Malahan kontrak Seumur hidup lagi."
Kan? Raven kalah lagi... Dan sekarang Raven lun harus menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
❤ Tetap semangat membacanya ya sayang sayangkuh... ❤