Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 27


__ADS_3

Jadi selama ini Raven tetep menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami, nafkahi gue? Ya Tuhan... apa yang sudah gue lakukan?


Pikiran itu terus berputar di kepala Fika hingga makan malam keluarga berlangsung.


"Sorry I'am late to many thing must be taken today."


Dean tiba untuk ikut makan malam bersama tepat sebelum makan malam keluarga dimulai. Bahkan Dean secara khusus meminta menu masakan Bik Sum yang sudah di siapkan oleh Bik Sum sebelum berangkat ke USA.


"Ooh, terimakasih Bik Sum. Bibik ikut makan bersama kan?"


Dean mengecup sayang kening Bik Sum karena memang sedari kecil sudah mengenal Bik Sum.


"Tentu Dean. selama berlibur di sini, Bik Sum makan bersama kita."


Tante Fiane menjelaskan status Bik Sum yang sudah dianggap keluarga. karena memang dia adalah satu satunya asisten rumah tangga yang dimiliki keluarga Prakasa sejak lama. Bahkan sejak almarhum Papa Fika baru lahir.


"Mantap. ooh, Deanna on duty?"


"Ya, entah kenapa adikmu sebagai calon Nyonya dari pemilik rumah sakit itu masih saja mengambil shift malam untuk bertugas."


"Sudahlah Ayah, biarkan Deanna menjalankan tugasnya sebagai dokter ahli bedah. toh, setelah menikah dia berencana mengurangi jam kerjanya."


Tante Fiane meredakan emosi Kakek Prakasa yang sering meluap luap jika berhubungan dengan para cucunya.

__ADS_1


"Ooh, Steven itu pemilik rumah sakit tempat Dee bekerja yah?"


"Yah.. orang yang sama dengan saat Om mu mau menjodohkan dengan koleganya, kemudian Deanna melarikan diri dengan alasan tidak mau di jodohkan karena sudah memiliki calon sendiri."


Tante Fiane menjawab pertanyaan Fika perihal perjodohan yang seharusnya terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu namun gagal karena kebodohan Dianne.


"Hahaha, kok bisa gitu?"


"Alasan yang sama dengan kamu, Suka mengambil kesimpulan sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan terlebih dahulu."


Mendengar omongan kakeknya, Fika tidak dapat menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu dan sadar akan kebodohan nya.


Tante Fiane, Dean hanya bisa tersenyum melihat Fika yang mendapat cecaran dari kakek, bahkan Om Dalton kesayangan nya yang sedari tadi diam berusaha menahan tawannya.


Ucap Om Dalton menggunakan bahasa Indonesia dengan fasih namun dengan logat khas bule. mendengar ucapan pembelaan dari Om nya membuat Fika tersenyum ramah dan berterimakasih, juga merasa geli karena kata menghina yang di ucapkan Om Dalton salah penggunaan nya, dalan bahasa Indonesia seharusnya mengucapkan mengolok atau mengejek.


"Don't defend her too much."


Kakek Prakasa berbicara sambil memutar mutar garpu ditangan kirinya ke udara mengarahkan pada menantunya karena tidak mau kalah. Sedangkan Om Dalton hanya menaikan pundaknya sambil tersenyum mengerti ke arah ayah mertuanya.


"Oke, Fika terima di ejek sampai dihina karena kesalahan yang Fika lakukan, Tapu mo sampe kapan sih Kek?"


Akhirnya Fika mengalah dengan situasi, tapi bukan cucu Kakek Prakasa jika tidak bisa bernegosiasi kan??

__ADS_1


"Kesalahan? itu buka kesalahan, tapi itu adalah Ke.Bo.Doh.an! dan kakek akan berhenti menyinggung nya jika kamu dan Raven sudah bersama kembali."


Jleb..


Dada Fika tiba tiba terasa sesak mendengar penuturan kakeknya dan dalam hati hanya bisa berucap


Gue juga maunya gitu kek, mau and ngarep banget malah... tapi kan...


"Gue gak tau gimana caranya."


Fika tertegun sendiri mendengar mulutnya yang gak bisa di rem, dan dengan polosnya mengungkapkan kegalauan nya di hadapan keluarganya meski hanya pelan tapi kan malu nya itu loh.


Duuh... untung Dee kerja. kalo ada disini bisa abis gue di ketawain.


"Usaha!!"


Bukan perintah tetapi merupakan titah dari kakek yang mana harus, musti, kudu, wajib secepatnya di kerjakan jika tidak dikerjakan maka akan ada konsekuensi nya.


Makan malam selesai, setelah berbincang bincang beberapa saat Dean pamit kembali ke apartemen nya di tengah kota Seattle, Kakek dan Om-tante nya pun sudah masuk kamar mereka untuk beristirahat.


Didalam kamar yang sedari kecil dia gunakan setiap kali berkunjung ke USA Fika belum dapat memejamkan matanya. Pikiran masih berkutat dengan tindakan Raven yang diluar nalar dengan tetap menafkahi dirinya selama masa pelarian nya. sekarang, ditambah lagi dengan titah kakek Prakasa yang menghendaki dirinya harus bersatu kembali dengan Raven.


Aaach... cape deh gue kebanyakan mikir. ini yah yang namanya lelah hayati?? tidur... tidur... gue pengen tidur nih..

__ADS_1


__ADS_2