Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 59


__ADS_3

"Aku gak akan lepasin sebelum kamu kasih tau aku kenapa kamu diam!"


Namun karena posisi Fika lebih stabil, Fika dapat menarik tangan kanan nya dari genggaman Raven.


"Lima kali.."


"Lima kali apa sih?"


"Lima kali Mas manggil aku dengan ka.mu."


Raven terdiam sesaat lalu dengan gerakan cepat berdiri menghampiri Fika.


"Maaf, Sayang tolong maafin aku. Tadi ak.."


"Aku mau dipeluk se.ka.rang."


Raven meraih tubuh mungil Fika, mendekapnya dengan lembut dan mengusap punggung Fika dengan sayang. Fika membalas pelukan Raven dengan tidak kalah hangat.


"Fatal loh Mas."


"Maafin Mas yah Sayang. Mas tadi sedikit emosi. Mas harus gimana supaya kamu maafin?"


"Aku mau selama aku bekerja jadi sekretaris Mas, tiap pagi kita brangkat bareng tapi aku duluan yang akan masuk kantor."


"Big No!"

__ADS_1


"Kalo aku dah sampe mejaku, aku akan telpon Mas supaya Mas naik."


"Kam.., eh Sayang gak dengar tadi aku bilang apa? No! kita akan masuk berangan."


Fika sempat tersenyum sesaat ketika Raven hampir saja keceplosan menyebut dirinya dengan sebutan kamu.


"Yawdah kalo gitu aku gak jadi sekretaris Mas lagi deh."


"Oke. mulai hari ini yah?"


"Masssss..."


"Kita masuk barengan tiap hari. Titik"


Kata Titik yang di ucapkan Raven dibarengi dengan kecupan panjang di bibir Fika. Kedua mata mereka saling memandang. Saat melepaskan bibirnya Raven melanjutkan


Fika berusaha mencerna kata kata Raven yang ada benernya juga, akhirnya Fika mengalah dan pamit pada Raven untuk kembali bekerja.


"Tadi katanya mo nyuapin Mas."


Astagaaaa Raven tuh yah, masih aja ingat dengan kata kata Fika jika nyangkut hal hal romantis. Maka ditariklah tubuh Fika agar mengikutinya duduk dibangku meja kerjanya lalu Fika dipangku, agar lebih mudah menyuapi katanya memberi alasan pada Fika.


Ampyuuun dah, gue dah beneran jadi bucin deh, untung ama suami yang cintanya dalem banget.


"Mas, ntar lagi jam 8 loh."

__ADS_1


"Trus?"


"Mbak Shasa nanti datang, kan gak enak kalo dia lihat kita gini."


"Shasa punya suami, dia juga tau betapa kangen nya Mas ke sayang. dia bakal ngerti."


"Iyahin aja dah apa kata Bos."


"Heheh, gitu dong. Oia, nanti siang ikut makan siang ama rekan bisnis Mas yah."


"Nanti Mas kenalin aku sebagai istri kan?"


"Iya dong, skalian sebagai sekretaris pribadi ku, skalian sebagai pemilik perusahaan juga."


"Isshh, itu tuh sama aja Mas udah bikin malu aku, tau gak sih?"


Raven tidak menanggapi protesan Fika, Toh yang dia katakan benar.


Hanya saja memang dasarnya saja Fika yang tidak terlalu suka jika dirinya di sangkut pautkan dengan perusahaan nya sendiri. Raven paham prinsip Fika, yaitu: Hanya karena aku turunan Prakasa, bukan berarti Prakasa Abadi Group jadi milik pribadi ku, melainkan milik orang orang yang sudah berjerih lelah membesarkannya, termasuk karyawan. Aku hanya mewarisi dari segi legalitas saja.


Gimana Raven gak jatuh cinta ama istrinya yang keren gitu kan?


"Aku gak usah ikut makan siang ama Mas yah? aku kan mo pulang dulu, mo ngasih gaji nya Mbak Lestari."


Raven teringat sesuatu, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Fika terperanjat dan hendak protes namun Raven meletakkan jari telunjuknya di bibirnya menandakan agar jangan bersuara. Setelah berbasa basi sebentar, Raven menutup telpon.

__ADS_1


"Mas kok bohong sih?"


__ADS_2