
Dengan wajah sebal Raven keluar kamar mandi dan mendapati Fika yang sedang duduk manis di sofa kamar.
"Ngapain lo?"
"Cuma mo mastiin kamu cepat keluar kamar mandi, soalnya soup ayamnya dah mo dingin tuh."
Dengan tampang polos Fika menjawab Raven. Lalu Fika keluar kamar menuju meja makan untuk menyiapkan makan Raven.
Nasi dan paha ayam yang sudah direbus bersamaan sayuran tadi disajikan pada piring lalu soup sayuran dalam mangkuk, Fika juga menyiapkan air hangat dengan perasan jeruk nipis pakai gula sedikit.
Fika tersenyum ketika mendapati Raven berdiri dekat meja makan mengenakan pakaian rumah yang sudah dia siapkan ditempat tidur.
"Ayuk makan, keburu dingin. Maaf yah gak pake sambel dulu soalnya dah malam ntar kamu mules."
Raven duduk dan menikmati makan malam yang telah di sajikan yang sudah lewat jam lagi.
"Oia, minggu depan Mbak Lestari dah gak kerja disini lagi."
Fika membuka suara sambil menarik kursi di sisi kanan meja makan bersegi empat itu.
"Lo pecat dia?"
"Diih, gak yah.."
Fika tidak tersinggung dengan tuduhan Raven, justru menjelaskan dengan santai alasan berhentinya Mbak Lestari tanpa ada yang di tutupi.
__ADS_1
"Kamu jangan lupa siapkan gajinya yah. Atau pake uang dari rekeningku yang kamu transfer tiap bulan itu aja?"
Pertanyaan terakhir Fika mampu memalingkan wajah Raven yang sedari tadi hanya tunduk pada piring di hadapan nya.
"Lo tau gue yang transfer?"
Fika menganggukan kepalanya dengan tersenyum sambil menjawab Raven.
"Ya kali Ardi? Gak mungkin banget kan, yang ada mah dia ngarep duit ku."
Raven kembali memandang piring didepannya. Sungguh, Raven tidak sanggup menatap wajah Fika berlama lama. Raven tau akan kelemahan dirinya yang tidak dapat mengendalikan dirinya dengan segala sesuatu yang menyangkut Fika, apalagi jika berdekatan seperti ini Raven takut kejadian tadi pagi terulang.
"Oia, sampe lupa, kamu bawa kotak makan yang tadi siang?"
"Yeee.. nanti bau loh ruang kantor kamu, secara kotak itu kan bekas bumbu opor. Besok pagi langsung taro di meja sekretaris kamu aja yah nanti pas nganter makan siang bisa langsung ku bawa pulang lagi."
Uuhuuk..
Raven tersedak kentang lembut yang ada dalam mulutnya.
"Besok lo mo ngapain?"
"Nganter makan siang lah untuk kamu. kan bosen juga aku nya di rumah gak ngapa ngapain."
Raven hanya diam mendengar ucapan Fika yang terdengar di telinga Raven sedikit mendayu, Raven jadi gemas sendiri.
__ADS_1
Sialan Fika! napa lo ngomong dengan mada gitu sih?
Raven cepat cepat menyelesaikan makan malam nya, menegak abis air hangat berisi perasan jeruk. Fika tersenyum senang melihat jakun pada leher Raven yang bergerak saat menelan air jeruk buatan nya.
"Nah, gitu dong, abisin. jadi kamu gak perlu khawatir ndut makan jam segini."
Raven menatap jengah pada Fika, asli nua sih Raven masih bertanya tanya dengan sikap Fika yang setahu nya agak cuek dan tidak terlalu banyak ngomong sekarang jadi lebih ceria.
Belum lagi dengan airmata saat mereka sedang bercinta tadi pagi?
Napa tadi pagi lo nangis? kalo skarang lo nunjukin sikap biasa? ada apa dengan lo Fi?
Raven dengan segala kegalauan nya masuk kedalam ruang kerjanya. Fika dengan cepat membereskan piring kotor lalu mematikan lampu dan masuk kedalam kamar untuk istirahat. Sebelum tidur Fika membereskan bathtube kamar mandi dan mengganti baju tidurnya.
Sebenarnya sih Fika tidak dapat memejamkan matanya. Pikiran Fika masih melayang pada pembicaraan Raven tadi siang di dalam kantornya yang didengar Fika.
Kenapa lo lebih butuh Diara daripada gue sih Rav? apa gue gak ada kesempatan untuk perbaiki rumah tangga kita?
Fika tidak ingin menangis, tetapi airmata nya tidak bisa dihentikan nya.
Kuat yah Fi... Lo harus bisa ngerebut hati dan pikiran Raven lagi dari siapapun dari apapun.
Ceklek.
❤ Semoga tetap setia membaca yah sayang sayangkuh... ❤
__ADS_1