Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 8


__ADS_3

Memasuki Pals Cafe, Fika mencari keberadaan Ardi lalu menuju ke meja yang sudah ada Ardi dan seorang wanita yang Fika hanya bisa lihat punggungnya.


"Hai. Loh? kamu hmm.. Intan yah?"


Fika menyapa Ardi dan wanita yang bersamanya, yang Fika ingat bernama Intan sebagai perempuan yang pernah menggantungkan nasib percintaan Raven.


Intan yang di sapa memberikan senyum yang menurut Fika seperti senyum terpaksa.


"Hai Fik, duduk deh."


Mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Intan, Fika melihat ada sesuatu yang aneh pada postur tubuh Intan.


"Kamu apa kabar Fik? Oia, mo pesan apa?"


Ardi berbasa basi, Namun tidak dengan Fika yang merasa ada kejanggalan pada pertemuan ini.


"Katanya ada yang mo di omongin, apaan tuh Di?"


Fika to the point, dan menyaksikan Ardi dan Intan yang saling berpandangan mata dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Masih dengan sikap tenangnya, Fika bertanya sekali lagi apa kepentingan Ardi memanggil dirinya.


"Sebaiknya kamu deh Ntan, yang ngomong langsung. supaya lebih detail."


Ardi menyuruh Intan yang memulai berbicara pada Fika. Intan memandang Fika dengan tatapan aneh, Fika semakin gelisah merasakan keanehan aura disekitar tempat duduknya.


"Fika, aku minta maaf sebelumnya menyangka kalau kamu sepupu Raven. karena.. karena Raven tidak pernah menyebutkan pernah menikah sebelumnya. Aku.. Aku.."


"Fika, Intan sedang hamil anak Raven. usia kandungan nya sekarang masuk 3bulan."


Deg.


Jantung Fika berdetak kencang seperti habis melakukan sprint 100 meter. Setelah mendengar penuturan Ardi yang blak blakan.


"Kamu yakin?"


Fika membuka suaranya sangat pelan, Intan dan Ardi mengangguk kepala bersamaan.


Ya, Tuhan.. cobaan nya gini banget. baru juga bahagia. kenapa gak dari awal nikah ato sebelum nikah sih si Intan hamilnya. Fika meratapi nasibnya.


"Yawdah. kenapa kalian gak langsung kasih tau Raven?"


"Aku sudah pernah ngasih tau, malamnya saat kita bertemu di puncak itu. Tapi Raven menolak untuk mengakui anaknya."


"Raven menolak? dia tidak mau bertanggung jawab?"


Hati Fika tidak mempercayai kata kata yang barusan di ucapkan oleh Intan. Memang sih Fika baru mengenal pribadi Raven selama mereka menikah, dan lebih memahami karakter Raven sejak 3 minggu bersama ini. dan Raven tidak pernah menunjukan tanda tanda memiliki karakter yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Namun apa mau di kata, kenyataan depan mata berkata lain.


Bentuk tubuh Intan yang dirasa aneh pada awalnya oleh Fika itu karena dia sedang hamil. dan sialnya adalah anak Raven.


Fika ingin menangis, namun entah kenapa air matanya tidak mau keluar. Fika ingin marah, namun entah kenapa kata kata amarah tidak keluar dari mulutnya.


Bagai batang bambu yang terkena angin, pikiran Fika melayang kesana kemari tidak tentu.


"Fik..., Fika.. kamu gak apa apa kan? Aku akan tolong kamu untuk hadapi ini."


Huekk...


Tiba tiba Fika merasa mual mendengar kata kata sok pahlawan dari Ardi.


Cih.. Pengambil kesempatan. Enak aja setelah memporak porandakan hati gue setelah ketangkap basah selingkuh ama pembantu rumah loe, trus skarang loe mau bantu hadapi masalah gue? Helowww Tuan Sok Ganteng, jangan sok jadi Pahlawan ya... yang ada diri loe itu pahlawan Kesiangan. Fika menatap wajah Ardi dengan pandangan aneh.


"Yawdah Intan, aku akan bicarakan dengan Raven soal kamu."


"What? apalagi yang mau kamu bicaraka. dengan Raven? Fika kamu tau papaku pengacara, dia bisa ngasih rekomen pengacara perceraian yang handal untuk bantu kamu. Aku telpon papa dulu ya untuk nanyain."


Ya ampun, Ardi kenapa kamu yang bersemangat sekali dengan urusan aku, Raven dan Intan? Fika tidak habis pikir dengan sikap Ardi saat ini lalu dengan cepat menolak bantuan Ardi.


"Ndak perlu Ardi. aku bisa atasi sendiri. dan kamu gak perlu sibukin diri kamu dengan urusan ku. Intan, aku permisi dulu yah.. dalam beberapa hari Raven akan mempertanggung jawabkan kehamilan kamu."


"Fika, Apa yang akan kamu lakukan?"


Sekali lagi Ardi menunjukan sikap sok perdulinya pada Fika membuat Fika semakin jengah.


Fika berdiri dan melangkah dengan santai meninggalkan Ardi dan Intan, keluar dari Cafe tanpa menoleh.


Bingung, Marah, Sedih, Kecewa adalah perasaan yang Fika rasakan saat ini bagai es campur dalam dada Fika.


Menuju mobil yang sedang menunggu nya di parkiran, Fika masuk dan menyuruh Pak Maman untuk segera pulang ke apartemen tempat tinggalnya bersama Raven - suaminya.


"Fika, Apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan Ardi terus terngiang ngiang dalam pikiran, Fika tidak tau apa yang haris di lakukan nya.


Sudah dalam apartemen pun, Fika masih tidak tau apa yang harus dia lakukan.


Meski saat ini dia sedang menggoreng ayam dan memotong sayuran yang akan dia masak sebagai makan malamnya bersama Raven.


Beberapa kali Fika hanya menghembuskan napas nya, seolah olah dengan cara itu beban pikiran dan hatinya bisa berkurang.


Tepat pukul 7 Raven masuk dalam apartemen dengan perasaan bahagia karena client yang di temuinya ternyata membawa angin segar bagi perusahaan peninggalan orang tuanya.


Saatnya bersantai dengan istriku, oh indahnya hari ini.


ketika melewati meja makan, Raven telah melihat makanan hasil olahan istri tersayangnya telah tersaji, aroma lezat soup menggugah seleranya. Dengan langkah cepat Raven masuk dalam kamarnya untuk menemui istri nya. Namun Fika tidak berada dalam kamar.

__ADS_1


"Fika, Sayang..."


"Aku disini"


Raven menuju ruang kerja yang mereka pakai bersama, Raven tersenyum mendapati istrinya sedang duduk manis dengan kegiatan menggunting dan memilah milah gambar sticker sebagai reward bagi anak muridnya.


Raven membungkukkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Fika dari belakang dan mencium pipi istrinya. Dengan gerakan sedikit kasar berusaha melepaskan pelukan Raven, Fika mengangkat bahunya.


"Mandi gih. trus makan. Bau ich.."


Sedetik Raven merasa jengkel dengan penolakan dari gerak tubuh Fika, namun saat mendengar penuturan Fika seringai senyum menghiasi wajahnya. Mencium sekilas pucuk kepala Fika lalu Raven keluar ruang kerja untuk mandi


Brengsek! Seenaknya main cium gue, padahal ngebuntingin perempuan lain. Fika merutuki tindakan Raven dan memantapkan pikiran yang sedari tadi bercokol dalam otaknya.


Makan malam lezat dinikmati Raven yang makan dengan lahapnya.


"Tau gak sayang, kalo begini terus perutku bisa buncit."


"Kalo gak mau buncit. ndak usah makan masakan ku."


"Enak aja. trus aku mati kelaparan gitu? sayang, aku tuh lagi muji masakan kamu loh."


"Hmm.. Kalo gitu abiskan, oke"


Tunggu aja kamu Rav, nikmati saja sikap manisku beberapa hari ini.


"Oia, tadi gimana ketemuan ama Ardi?"


"Biasa aja. dia cuma nginfo-in ada teman nya yang lagi bunting tapi gak diakui ama laki laki yang ngebuntingi cewek itu. Brengsek banget kan laki laki itu?"


"hmm.. Trus, hubungan dia ngasih tau ke kamu apa?"


"Dia nanya, kali aja aku bisa bantu teman nya yang lagi bunting itu."


"Kamu bisa bantuin cewek itu?"


"Bisa."


"Oke, tapi kamu harus hati hati dan bijaksana dalam bertindak yah. Jangan sampe nanti kamu yang repot ato malah terjerumus dengan masalah yang gak ada sangkut pautnya ama kamu."


Cih! Pria bedebah!! Cangkem loe Sok bijak. Fika membalas nasehat Raven dengan senyum manisnya, meski dalam hati menghujat Raven.


"Aku bantu cuci piring yah."


"Wojelas! kan aku dah masak. lagian badan ku pegel nih, lagi datang bulan."


"Hah?!? Berapa lama? Trus nasib aku gimana sayang?"

__ADS_1


Fika meninggalkan Raven dengan kegiatan cuci piringnya melanjutkan menggunting sticker untuk anak muridnya.


Tidak lama, Raven masuk ke ruang kerja ingin bersantai dan bermanja manja dengan Fika. Namun mendapatkan penolakan dari Fika, jika perempuan lagi datang bulan bisa emosi tingkat dewa lebih baik menjauh.


__ADS_2