Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 37


__ADS_3

Ceklek.


Fika membuka pintu apartemen lalu masuk menenteng plastik belanjaan berisi berbagai macam bumbu dapur dan sayuran. Fika melihat Raven memegang gelas dan teko air


"Eh, kamu sudah bangun? kopinya sudah dingin yah? aku buatkan yang baru yah."


"Dari mana lo?"


Jangankan Fika yang mendengar suara Raven yang cukup keras, Raven sendiri tidak menyangka dirinya akan mengeluarkan suara yang cukup keras.


"A-aku dari pasar, kulkas kosong jadi aku beli bumbu dan sayur skalian beli roti untuk sarapan mu. aku buatkan sarapan dulu yah. Kam...."


Raven melesat ke kamar membanting pintu kamar lalu menguncinya.


Sedangkan Fika hanya bisa menghela napas panjang.


Sebenarnya Raven merasa senang ketika melihat Fika masuk ke apartemen nya dengan menenteng tas berisi belanjaan, hanya saja ketakutan akan ditinggalkan kembali oleh Fika belum hilang dari dirinya.


Akibatnya Raven hampir saja menumpahkan amarahnya ketika melihat Fika masuk.


Damn Fika!! hampir aja lo ngebuat gue ngehancuri bangunan apartemen ini.


Kemudian Raven masuk ke kamar mandi dengan mulut yang masih ngedumel entah dilemparkan pada dirinya atau pada Fika.

__ADS_1


Selang beberapa menit Raven keluar kamar mandi


"Woi, mana baju gue?"


Kembali dengan suara kasarnya Raven bertanya pada Fika, eh lebih tepatnya menyuruh Fika menyiapkan baju nya.


"Tadi aku mau nyiapin baju kamu, tapi pintu kamar terkunci."


Dengan polosnya Fika memberikan alasan pada Raven.


"Lo kan bisa ngetok."


"udah. kamu nya masih mandi. jad.."


Sementara Fika membuka lemari lalu sibuk menyiapkan pakaian kerja untuk Raven. Sementara tangan nya sibuk mengambil Kemeja, setelan jas bahkan ikat pinggang yang akan Raven gunakan, mata dan pikiran dengan seksama memperhatikan isi lemari Raven


Sepertinya belum ada yang berubah dari isi lemari ini.


"Ini dah siap. Aku tunggu di meja makan yah."


Fika keluar kamar melanjutkan kegiatan nya sebelum di panggil Raven, yaitu memanggang Roti yang sudah diolesi mentega dan dicelupkan pada kocokan telur.


Sarapan untuk Raven sudah selesai disajikan, Namun Fika belum melihat tanda tanda Raven keluar dari dalam kamar, Fika berinisiatif untuk memanggil Raven lalu Fika mengetok pintu kamar.

__ADS_1


"Rav.. Raven. Ini sarapan nya sudah selesai loh. buruan nanti terlambat loh."


Namun tidak ada jawaban dari dalam. semenit kemudian Fika kembali mengetok dan memanggil Raven untuk keluar. Penasaran karena kali kedua panggilan nya juga belum terjawab, Fika memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar. Perlahan Fika membuka pintu dan mengintip sedikit takut mengganggu kegiatan Raven didalam kamar.


"Loh Rav? kok belum ganti baju?"


Fika dikejutlan dengan Raven yang masih mengenakan jubah mandinya dan duduk bersila di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Maxud lo gue langsung pake baju itu tanpa pake ****** dan kutang?"


"Astagaaaa.. Kirain kamu dah pake. Iya deh aku ambilin."


Baru saja senyum Fika mengembang mendengar alasan Raven yang belum keluar kamar sejak tadi, tiba tiba Fika harus menekuk kembali bibir manisnya karena Raven sudah lebih dulu melontarkan ucapan pedas untuk dirinya.


"Itu lah lo, terlalu banyak kira kira sendiri. belom kenalan ama kata 'bertanya' apa?"


Hanya diam yang bisa Fika lakukan sambil mengeluarkan pakaian dalaman untuk Raven. lalu meletakan dekat pakaian kerja yang sudah dirinya siapkan tadi. Lalu Fika keluar kamar kembali keruang makan yang menyatu dengan dapur.


Raven keluar kamar sudah dalam keadaan rapi, mengenakan pakaian yang telah disiapkan Fika.


Tanpa berbicara apalagi menyapa Fika, Raven melangkah lurus menuju pintu utama lalu keluar dari unit apartemen nya.


Tanpa dikomando air mata Fika menetes perlahan.

__ADS_1


Sabar Fika. Baru hari pertama.


__ADS_2