MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 11


__ADS_3

"Silvi, kamu tahu Pak Adit menginap di hotel mana? Ada dokumen yang ketinggalan." Yuna menelepon Silvi, sekretaris Adit.


"Di Hotel Bolivia yang cabang Sudirman Bu Yuna. Mau saya bantu kirim dokumennya?" tanya Silvi.


"Oh tidak usah. Biar saya saja. Terima kasih ya." Yuna menutup telepon itu. Sepertinya Adit memang sedang pergi bekerja karena ia mengajak Rico seorang analis lapangan.


'Sepertinya aku terlalu banyak curiga.' Yuna tersenyum. Ia melanjutkan pekerjaannya, mengetik beberapa dokumen. Lalu ia berhenti seakan tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Nita? Apa kabar?" tanyanya.


"Baik Mba Yuna. Mba Yuna kok ga pernah ke sini lagi?" tanya Nita.


"Aku bantu suamiku sekarang. Becca ada Nit?" Yuna menunggu jawaban Nita dengan jantungnya yang berdebar.


"Mba Becca cuti dua hari Mba." Jawaban Nita membuka pikiran Yuna yang memang sudah berkelana jauh.


"Oh, baiklah. Teleponku ga diangkat sama dia. Titip bimbel ya Nit, bye." tangan Yuna sedikit bergetar saat menutup panggilan itu.


'Sudah. Terjawab sudah semuanya. Bodohnya aku yang sempat percaya sesaat dengan Adit.' Yuna menangis dan menundukkan kepalanya di atas meja. Ia merasa apa yang dilakukannya semua terasa sia-sia. Ia selalu selangkah di belakang Becca.


Tok..Tok..


"Permisi Bu Yuna." Ucapan Cathy terhenti saat melihat atasannya yang terlihat kusut.


"Ibu sakit?" tanyanya sambil mendekati Yuna.


"Tidak. Hanya sedikit pusing. Kenapa Cathy?" tanyanya sambil merapikan rambut dengan jarinya.


"Oh ada Pak Jo dari GBI. Tadinya dia mencari Pak Adit, namun Pak Adit lagi tidak di tempat. Jadi dia mau ketemu Ibu. Bagaimana?" ucap Cathy.


"Boleh. Suruh dia masuk saja." Yuna mencoba tersenyum. Tidak berapa lama pria berwajah oriental itu masuk.


"Hai Yun, apa aku mengganggumu?" tanyanya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Duduk Kak." Shua duduk di depan Yuna.


"Sampai kapan kamu memanggilku Kak? Kita bukan anak sekolah lagi Yuna." Mereka tertawa.


"Aku sudah terbiasa. Lalu aku harus memanggilmu apa?" Yuna bertanya balik.


"Panggil saja aku Shua. Lagian aku hanya setahun lebih tua darimu." Mereka berbicara cukup lama. Saling bercerita tentang kehidupan kuliah mereka masing-masing, bagaimana Yuna bertemu Adit, tentang kesibukan sekarang. Tetapi mereka tidak pernah menyinggung tentang pernyataan perasaan Shua ke Yuna dulu. Mungkin mereka sama-sama menganggap itu sebuah aib atau kesalahan di masa lalu tanpa mereka tahu kebenaran di balik itu.


*****


"Maaf aku harus berpura-pura tidak mengenalmu tadi." Adit menggenggam tangan Becca dan menciumnya. Becca mengerti. Rico sedang duduk di kelas ekonomi sedangkan mereka berdua berada di kelas bisnis. Adit memang ada pekerjaan di Surabaya. Saat dia memberitahu Becca kemarin, Becca langsung meminta ikut. Jadilah mereka sekarang memulai petualangan baru. Selama ini mereka belum pernah ke luar kota bersama. Tapi Adit meminta Becca bersabar karena ada Rico. Saat tiba di Surabaya pun, Adit menyuruh Becca langsung ke hotel tanpanya. Bagaimanapun juga Adit seorang pimpinan yang harus menjaga nama baiknya, ia tidak berani sembarangan bertindak.


"Tidak apa-apa kok Sayang. Begini saja aku sudah cukup bahagia asal di dekat kamu. Aku ga tahan sehari tidak bertemu." ucap Becca sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adit.


'Maafkan aku Yuna. Aku memang egois karena menginginkanmu dan juga Becca. Aku tidak bisa memilih di antara kalian.' Tadinya Adit yakin ia lebih mencintai Rebecca dibanding Yuna. Tapi entah mengapa, sikap Yuna yang dewasa dalam menghadapi perselingkuhannya, perubahan dalam penampilannya, dan juga permainan Yuna semalam membuat Adit sedikit berdebar.


Setibanya mereka di Surabaya, Becca langsung menuju Hotel Bolivia yang sudah dibooking Adit untuknya. Sedangkan Adit bersama Rico langsung menuju ke lokasi kerja menggunakan mobil yang telah mereka sewa.


"Becca! Sedang apa kamu di sini?" Seorang pria mendekatinya.


"Kak Vino? Kakak ngapain di sini?" Becca balas bertanya.


"Lah, kakak yang tanya napa kamu tanya balik? Kakak lagi ada meeting sama klien." Vino melepas kaca mata hitamnya. Seorang temannya tersenyum ke arah Becca.


"Becca lagi liburan saja. Refreshing." jawabnya asal.


"Siapa Vin? Kenalin donk." kata teman Vino yang berambut ashgrey itu.


"Adik gw. Jangan macem-macem lo."


"Kenalin, gw Sandy." Cowok yang merasa dirinya sangat ganteng itupun mengulurkan tangannya ke Becca. Becca menyambutnya, namun ia tidak tertarik sama sekali.


"Kak Vino nginep di sini?" tanya Becca.

__ADS_1


"Iya. Tapi besok siang Kakak pulang ke Jakarta. Kamu sama siapa? Yuna?" tanyanya.


"Sendiri." Sekali berbohong maka kita akan menutupinya dengan kebohongan lain.


"Liburan kok sendirian? Mau gabung sama kita ga? Kebetulan kerjaan Kak Vino sudah kelar." kata Vino.


"Ga deh. Makasih. Becca cuma mau nikmatin hotel saja." katanya.


"Ayolah, kita makan siang saja sebentar. Kamu ga kangen ma Kakak?" tanya Vino sedikit memelas. Becca tidak tega menolaknya.


"Ok. Baiklah. Kak Vino traktir ya, Becca ga bawa dompet." Vino tersenyum dan merangkul adiknya itu.


"Jadi kamu masih urus bimbel sama Yuna?" tanya Vino sambil menyumpit mie ayamnya. Becca kurang menyukai topik pembicaraan seperti ini.


"Becca sendirian Kak. Yuna kerja di perusahaan suaminya." jawab Becca


"Oh begitu. Sudah lama sekali Kakak ga ketemu sama Yuna."


"Gimana kerjaan Kakak? Lancar?" tanya Becca mengalihkan pembicaraan.


"Lumayan. Kakak sekarang kan sudah pegang wilayah Jawa. Sandy yang pegang Sumatera." Sandy tersenyum senang saat namanya disebut Vino.


"Oh, bagus deh Kak. Jangan terlalu sibuk. Cari pacar yang baik, nikah."


"Maunya sih begitu. Tapi belum dapat yang cocok. Ya biarin sajalah, nanti juga datang sendiri kalau sudah jodoh. Kamu kalau cari pacar yang benar ya, kenalin ke Kakak." Becca mengangguk sambil tersenyum.


Vino mengantar Becca kembali ke hotel, sedangkan ia dan Sandy lanjut ke tempat lain lagi. Becca sedikit cemas saat mengetahui Vino menginap di hotel yang sama dengannya dan Adit. Untung saja Vino akan keluar hotel besok. Tapi tetap saja ia harus berhati-hati. Vino memang tidak mengenal Adit, setidaknya itu yang ia tahu. Vino tidak datang ke pernikahan Yuna. Tapi Becca tidak mungkin lolos dari amukan Vino jika tahu ia menginap dengan seorang pria di hotel.


Orang tua mereka sudah tidak ada. Ayah Becca meninggal sejak ia kecil, sedangkan ibunya meninggal empat tahun lalu. Vino sebenarnya sangat protektif terhadap Becca, namun Becca meyakinkan kakaknya bahwa ia sudah cukup dewasa untuk mandiri dan bisa menjaga dirinya sendiri.


Becca sebenarnya pernah menyesali hubungannya dengan Adit. Di tiga bulan pertama mereka berselingkuh, ia pernah menyatakan bahwa ia ingin putus dengan Adit. Saat itu Yuna bercerita dan menangis karena ia merasa hubungannya dengan Adit merenggang karena mereka belum bisa memiliki keturunan. Becca tidak tega melihatnya. Namun Adit meyakinkannya bahwa penyebab itu semua bukanlah Becca. Adit mencintainya. Akhirnya Becca menyerah dengan perasaannya. Jika Adit mencintainya, dan ia juga mencintai Adit, mengapa mereka tidak boleh bersama? Sesederhana itu baginya. Becca pernah berpikir mungkin waktu akan membuatnya dan Adit merenggang dan bosan. Tapi ternyata waktu malah membuat mereka jatuh lebih dalam ke perangkap cinta terlarang itu hingga mereka tidak bisa lagi menggapai jalan keluar dari sana.


*****

__ADS_1


__ADS_2