MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 25


__ADS_3

"Adit, mama minta kamu dan Becca pindah ke rumah ini. Bulan depan dia akan melahirkan lho. Mama juga sudah minta Siska buat urus surat nikah kalian." Farah meletakkan secangkir kopi di atas meja untuk suaminya yang duduk di sebelah Adit.


"Kenapa harus buru-buru sih, Ma?" Sebenarnya Adit paling malas membahas masalah ini di depan Harris, papanya. Pasalnya, sudah hampir empat bulan ia selalu disalahkan atas perceraiannya dengan Yuna. Baru seminggu ini suasana di rumah sudah agak mendingin. Dan itulah yang membuat Farah sengaja membahas ini di depan suaminya.


"Buru-buru apa? Mama mau semua surat lengkap sebelum anak kalian lahir biar statusnya jelas. Benar kan, Pa?" Ia mencari dukungan atas usulnya itu.


"Ya, terserahlah. Sejak kapan kalian butuh pendapatku?" Harris bersikap masa bodoh dengan menikmati kopinya. Ia pernah menemui Yuna sebelum anaknya resmi bercerai untuk membahas bagaimana caranya memberi tahu besannya tentang masalah itu. Namun mantan menantunya itu bersikeras bahwa ia yang akan mengabari mereka, tapi sampai sekarang nyatanya Yuna belum mengatakan apa-apa. Hal itu terbukti dengan Ken yang masih meneleponnya seperti biasa seminggu lalu.


"Tuh kan, papa juga sudah setuju. Bawa Becca tinggal di sini, tapi jangan bawa barang-barang ya. Baju di badan saja. Pamali pindahan pas hamil. Nanti semua barang beli baru saja. Mama sudah suruh bibi beresin kamar lama kamu."


Sepanjang jalan pulang, Adit berpikir bahagiakah ia setelah bercerai. Ia tak tahu, yang pasti Adit belum pernah tidur nyenyak semenjak kejadian di Surabaya sekitar lima bulan lalu, mungkin karena rasa bersalahnya kepada Yuna yang amat sangat. Sejak mereka resmi bercerai, Yuna terlihat biasa saja di kantor seolah tidak terjadi apa-apa. Malah pernah dengan bodohnya Adit mampir ke rumah Yuna dalam keadaan mabuk, memeluk kaki Yuna dan meminta maaf atas semuanya. Akhirnya ia diantar pulang oleh satpam rumah Yuna dan itu memicu pertengkarannya dengan Becca.


Rebecca sebenarnya wanita yang baik dan manis. Ini memang salahnya, Adit yang menggoda Becca terlebih dahulu karena tidak mampu menutup mata dan hatinya dari pesona Becca. Tapi Adit merasa perceraian yang membuatnya berada dalam banyak masalah ini sangat tidak adil untuknya. Mengapa seorang pria hanya boleh mencintai satu wanita? Salahkah dirinya jika menginginkan kedua wanita itu? Tentu saja tidak, bagi Adit. Ini hal yang manusiawi. Ia juga hanya ingin mencintai satu wanita, tapi itu di luar kuasanya. Tapi cinta membutuhkan interaksi, jika Adit berpikir demikian, maka ia juga membutuhkan pasangan yang berpikiran sama dengannya. Jika tidak, maka hubungan itu tidak akan pernah berhasil.


*****


"Ibu Yuna, ada tamu." Cathy membuka sedikit pintu ruangan bernuansa putih abu itu.


"Siapa?" Yuna menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard nya.


"Joshua." Cathy mengerlingkan matanya. Ia bisa saja menggunakan interkom untuk memberi tahu bosnya itu tapi ia ingin melihat ekspresi terkejut dari Yuna. Sudah sebulan mereka tidak bertemu karena Joshua memiliki pekerjaan di Singapura.


Joshua masuk membawa sebuah paper bag berwarna kuning dan memberinya pada Yuna.


"Apa ini?" tanya Yuna sambil membuka dan mengeluarkan isi paperbag itu.


"Hanya oleh-oleh kecil. Maaf aku tidak tahu apakah itu sesuai dengan seleramu."


"Aku menyukainya Shua. Ini cantik sekali. Terima kasih ya." Yuna mencoba syal berwarna dominan putih dengan corak bunga sakura kecil di ujung sisinya ke lehernya. Shua senang melihat seleranya cukup disukai oleh Yuna.


"Saat melihat syal itu, aku langsung teringat padamu. Yuna Sakura." Yuna tertawa pelan.

__ADS_1


"Jadi bagaimana pekerjaanmu di sana? Sudah beres?"


"Masih ada sedikit, tapi aku bisa mengurusnya dari sini. Aku sudah tidak sabar pulang karena merindukan seseorang." Wajah Yuna menghangat mendengar perkataan Shua.


"Mamamu?" tanya Yuna sedikit berbasa-basi.


"Hahahaha...Kamu pasti tahu siapa dia. Aku selalu memberitahunya setiap kali aku meneleponnya." Iya, tentu saja Yuna tahu. Selama di Singapura, hampir setiap malam Shua meneleponnya. Shua pun kaget dengan dirinya yang suka berbicara sedikit gombal ke Yuna. Maklumlah, ia masih berusaha untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Yuna. Orang bilang, pria lemah mata, sedangkan wanita lemah telinga.


Hubungan mereka sedikit mengalami kemajuan. Melalui telepon, Yuna dan Shua bisa berbicara lebih dekat. Yuna mulai membuka dirinya untuk Shua, ia tidak mau terlalu lama larut dalam patah hatinya. Tapi berhadapan dengan pria tampan itu secara langsung, kepercayaan dirinya meluntur seketika. Pria yang menjadi pujaan banyak wanita dan cinta pertamanya.


"Iya, aku tahu. Bagaimana kalau kubelikan makan siang?" Shua mengangguk sambil tersenyum.


"Beri aku sepuluh menit, aku hanya perlu mengirim email satu lagi." Yuna melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Joshua yang sedang duduk di sofa empuk berwarna putih itu.


'Jangankan sepuluh menit, seumur hidup pun akan aku tunggu Yuna. Asalkan kamu jangan melihat pria lain, aku tidak akan sanggup. Anggap aku pria posesif yang gila, aku tidak peduli. Aku hanya menginginkanmu.' Shua melihat raut wajah Yuna yang sedikit serius saat menatap layar komputernya. Yuna yang cantik. Saat sekolah dulu, Shua terpikat dengan Yuna yang manis dengan segala sikap dan sifatnya. Sekarang dengan segala perubahan pada penampilan Yuna, Shua makin menyukainya. Ia hanya perlu meyakinkan Yuna sedikit lagi sampai Yuna siap untuk bertemu kedua orang tuanya.


"Ayo kita jalan." Suara Yuna menyadarkan Shua dari lamunannya.


"Tumben banget sih makan di tempat gini."


"Aku hanya ingin ngobrol denganmu lebih santai. Di sini suasananya nyaman dan tenang, jadi kita bisa lebih bebas." jawab Shua sambil membaca buku menu yang diberikan. Setelah selesai memesan, Shua hanya diam melihat Yuna yang sedang mengirim pesan dengan ponselnya.


"Dari Cathy." Yuna meletakkan ponselnya di atas meja setelah membaca pesan sekretarisnya itu yang berbunyi 'tidak perlu buru-buru pulang bos, tidak ada jadwal penting hari ini yang sepenting hubunganmu dengan Pak Joshua..fighting!'


"Kamu tambah cantik Yun."


"Tapi tetap saja aku wanita yang pernah menikah Shua. Aku...sebenarnya aku takut untuk mencintaimu lebih dalam lagi. Aku takut jika itu sudah terjadi, nantinya keluargamu tidak merestuiku." Yuna berkata dengan cukup tenang. Memang itulah salah satu dari sekian ketakutan terbesarnya. Shua memegang tangan Yuna, meremasnya pelan.


"Serahkan itu padaku. Aku cukup yakin mereka akan menerimamu. Kamu wanita yang hebat Yuna. Dan perceraianmu yang kemarin, itu bukan salahmu. Anggap saja itu jalan yang diberikan Tuhan untuk menyatukan kita." Yuna mengangguk tersenyum. Ia tahu kata-kata Joshua bisa dipegang. Tapi bukannya dulu ia juga mempercayai semua omongan Adit? Stop Yuna! Berhenti membandingkan mereka. Tapi sungguh ia takut, jika ia gagal lagi, bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya. Orang tuanya pasti akan merasa lebih malu dan kecewa.


"Jadi bagaimana kabar Adit? Aku tidak melihatnya di kantor tadi."

__ADS_1


"Baik. Tinggal menunggu hari ia akan memiliki anak." Yuna memang tidak canggung lagi membicarakan perihal mantannya dengan siapapun. Mungkin kenangan buruk tentang Adit dengan mudah menghapus semua kenangan indah yang pernah mereka miliki. Jadi melupakannya pun terasa lebih mudah. Dan Cathy benar, menerima Joshua di dalam hatinya sangat membantunya untuk melupakan mantan suaminya itu. Yuna menoleh ke arah jendela, hujan deras mengguyur jalanan siang itu. Ia tidak menyukainya, sebenarnya ia hanya tidak suka dengan suara hujan.


"Sepertinya kita tidak bisa lewat, banjirnya lumayan tinggi." Shua menghentikan mobilnya di pinggir trotoar dan memutar balik menuju sebuah lapangan di mana banyak mobil yang diparkir di sana.


"Aku tidak menyukai suara hujan, boleh aku besarin suara radionya?" Shua langsung menaikkan volumenya tanpa menjawab apapun.


"Mengapa kamu tidak suka?"


"Entahlah, berisik jika mengenai atap, atau membuatku seperti merasa kesepian." jawabnya. Yuna terkejut saat kedua tangan Shua menutup kedua telinganya. Membuat wajahnya otomatis menoleh ke arah pria itu.


"Apakah suaranya berkurang? Aku akan menemanimu, membantu mengurangi kecemasanmu itu." Wajah Shua mendekatinya.


'Deg..Deg...' jantung Yuna berdegup kencang.


Setelah sekian lama ia pernah membayangkan adegan ini, tetap saja sekarang hatinya menjadi tak karuan. Yuna memejamkan matanya saat mata Shua hanya berjarak sepuluh sentimeter lagi darinya.


Saat Shua melihat mata Yuna yang mulai terpejam, ia menurunkan pandangannya ke bibir merah muda Yuna dengan sedikit glitter di atasnya. Shua sudah menunggu cukup lama sebelum memberanikan diri untuk melakukan ini. Tentu saja ini bisa membuat hubungan mereka jauh lebih dekat dan serius. Bibir Shua menyentuh bibir Yuna perlahan, menempelkan keduanya selama beberapa detik sebelum Shua mencoba menggerakkan bibirnya dengan irama pelan. Yuna merasakan bibirnya terbuka mengikuti permainan Shua. Entah mengapa perpaduan kedua benda kenyal itu terasa sangat manis. Tangan kanan Shua berpindah dari telinga Yuna menuju belakang leher wanita itu membuat tubuh mereka seolah tidak berjarak lagi. Yuna pun menikmatinya. Gairahnya yang sudah terkubur lama kini mulai bangkit.


'Daaar....!!!' Suara petir yang cukup keras membuat Yuna terkejut dan menundukkan kepalanya, membuat mereka menghentikan ciuman yang intens itu. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama seolah tersadar dengan apa yang mereka lakukan tadi. Shua membelai rambut Yuna, bibirnya mengucapkan "I love you" tanpa bersuara.


"Belum perlu kamu balas Yuna, aku tahu kamu butuh waktu. Setidaknya yang kita lakukan tadi memberiku kepercayaan diri yang cukup untuk mencintaimu." Yuna tersenyum, ia bersyukur dicintai seorang Joshua yang cukup mengerti dirinya.


Hujanpun akhirnya mereda. Shua menjalankan mobilnya mencoba mencari alternatif jalan lain. Hingga sekarang jantungnya masih berdegup cukup keras. Ia mencoba menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk menenangkan perasaannya. Bibir lembut Yuna masih bisa ia rasakan, wangi rambutnya pun masih ia ingat. Ia menoleh sekilas ke arah Yuna yang sedang memandang keluar jendela.


Yuna memperhatikan beberapa pengendara motor yang berteduh di bawah fly over. Sesaat ia merasa beruntung, dirinya selalu diantar dengan mobil kemanapun ia pergi. Bersyukur dalam hidupnya ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya. Bahkan di titik terendah hidupnya kemarin, Tuhan masih sempat mempertemukannya dengan Joshua dan Cathy. Entah bagaimana ia bisa melewati semuanya tanpa mereka. Joshua, sang ketua OSIS. Yuna merasakan kembali perasaan menggelitik saat dia memperhatikan Kak Shua di sekolah dulu. Tidak pernah sekalipun ia melihat aksi panggung Shua dengan jarak dekat seperti teman-teman perempuannya yang lain. Bisa-bisa ia menjadi olokan teman-temannya jika mereka tahu ia mengagumi Shua. Cukup perasaan kagum yang ia punya, tidak berani berharap untuk suka ataupun cinta. Tetapi sekarang, ia tahu Shua sungguh-sungguh dengan perasaannya. Yuna bisa merasakannya melalui sentuhan tadi. Sentuhan dengan tatapan mata yang tulus. Cepat atau lambat Yuna tahu ia akan jatuh cinta dengan Joshua. Dan sepertinya, itu akan menjadi....sangat cepat.


*****


P.S.


Author remind lagi visual Joshua ya readers ^_^

__ADS_1



__ADS_2