
"Kamu telepon siapa sih?" Suara Becca mengejutkan Adit, ia buru-buru memasukkan ponselnya ke kantong celananya.
"Orang asuransi telepon terus. Mana Gracia?" tanyanya.
"Tidur. Dijagain sama suster. Kita jalan yuk, sayang. Sudah lama kita tidak jalan berdua." Becca bergelayut manja di lengan Adit.
Minggu sore itu mall yang mereka berdua kunjungi cukup ramai. Becca menuju sebuah butik baju khusus anak. Ia membeli beberapa baju dan aksesoris untuk anaknya. Kemudian ia menuju ke sebuah toko sepatu.
"Sayang, kamu lihat sepatu ini. Bagus ya..Sudah lama aku ga pakai sepatu tinggi." Becca mencoba sebuah stiletto berwarna silver.
"Bagus. Tapi apa tidak ketinggian? Nanti kamu kesulitan kalau menggendong Gracia."
"Kalau aku membawa Grace, aku tidak akan pakai sepatu ini. Tenang saja." Becca mencoba beberapa model lain.
Adit mengambil ponselnya. Saat di rumah, sudah beberapa kali ia menelepon Yuna tapi tidak diangkat. Sebenarnya tidak ada urusan yang penting. Adit hanya ingin mengirimkan siomay yang sengaja dipesannya dari Bandung.
"Sayang, bayar donk. Aku sudah selesai." panggil Becca. Ia membeli sepasang sepatu stiletto silver tadi.
"Sayang, lihat ke store Jack and co yang di kanan itu deh. Bukannya itu Yuna?" tanya Becca sambil menghentikan langkahnya. Adit mengikuti arahan Becca, dan benar itu Yuna. Dengan Joshua. Adit mendengus kesal. Mereka berhenti melangkah. Sesaat kemudian Adit memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Ngapain sih tegur mereka? Malas ah." Ngomel Becca, tapi ia tidak kuasa saat Adit menarik tangannya. Sungguh Becca menyesal memberi tahu Adit tentang keberadaan mantan istrinya. Ia malas berbasa-basi dengan Yuna.
"Yuna, Jo. Kalian hanya berdua?" Adit berbasa basi dan terlihat sedikit menahan emosi melihat mereka berdiri di sebuah etalase kalung. Ia merasa tebakannya selama ini tentang mereka berdua benar. Yuna terkejut mendengar suara Adit, serempak ia dan Shua menoleh ke arah kanan mereka.
"Adit?" panggilnya. Yuna melihat seorang wanita di belakang pria yang mengejutkannya tadi, tapi ia memilih untuk pura-pura tidak melihatnya. Adit melihat tangan Joshua dengan pelan menyentuh pinggang Yuna seolah ingin menunjukkan sesuatu.
"Adit, Becca. Mau cari perhiasan juga?" tanya Joshua. Becca sedikit kesal, lalu ia memilih untuk melihat-lihat beberapa perhiasan yang terpajang di sisi lain.
"Becca sepertinya ingin mencari sesuatu. Kalian?" jawab Adit sedikit berbohong.
"Aku ingin membelikan Yuna kalung." Shua melirik ke arah Yuna yang tersenyum.
"Untuk?" Pertanyaan Adit membuat mereka bingung.
"Maaf Adit, temani saja istrimu. Kami belum selesai memilih." Yuna menarik tangan Shua dan mengajaknya kembali ke tempat mereka tadi. Adit yang ditinggal sendirian memilih menemani Becca sambil terus mencuri pandang ke arah pasangan tadi.
"Sayang, bagus ga?" tanya Becca sambil mencoba sebuah anting di telinga kanannya.
"Mmmh..Lumayan." jawab Adit tanpa melihat ke arah Becca. Ia malah memperhatikan Adit yang sedang mengaitkan sebuah kalung ke leher Yuna. Yuna melihat ke arah cermin lalu mengangguk tanda setuju. Sepertinya mereka sudah selesai memilih.
__ADS_1
Becca mendengar yang diucapkan kasir di dekat ia berdiri.
"Harganya dua puluh lima juta lima ratus ribu rupiah Pak, mau dibayar dengan kartu apa?" tanyanya. Becca melirik sekilas dan melihat Joshua menyerahkan sebuah kartu kepada wanita berseragam merah itu.
'Gila! Apa Shua pacar Yuna?' Becca sedikit penasaran dengan hubungan mereka sekarang. Percuma saja ia pernah mengacau acara penembakan Shua dulu ke Yuna jika sekarang mereka bersama.
"Kami duluan ya Dit." Joshua menyapa Adit saat ia selesai bayar.
"Oh iya. Sampai jumpa di kantor Yuna." ucapnya sambil melihat seutas kalung dengan berlian kecil di lehernya. Ia melihat Joshua menggandeng tangan Yuna keluar dari sana.
"Mereka pacaran sayang?" Becca langsung menanyakan hal yang bisa langsung didapat jawabannya. Adit hanya diam saja, rasa kesal dan penasarannya selama ini terjawab sudah.
"Wah, Yuna benar-benar menang lotre ya."
Ucapan Becca membuatnya mendengus napas kesal. Si playboy Joshua. Jika saja ia bukan pemilik perusahaan Global sudah pasti Adit akan mengancamnya untuk tidak mendekati Yuna.
*****
"Terima kasih kalungnya, Sayang. Aku menyukainya. Tapi apa menurutmu tidak terlalu mahal?" tanya Yuna di dalam mobil.
"Harus sesuatu yang spesial untuk wanita yang spesial. Kamu tidak gugup kan mau ketemu orang tuaku?" tanya Shua.
"Bagaimana kalau aku bilang aku sangat gugup? Apa yang akan kamu lakukan?"
Akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah megah dengan pekarangan yang luas. Yuna tahu Shua anak orang kaya sejak mereka sekolah dulu. Tapi ia tidak menyangka rumah mewah yang sering ia lewati di daerah Winangsia tersebut adalah milik keluarga Shua. Ia jadi bertambah gugup sekarang. Walaupun Yuna tahu Shua mencintainya, tapi ia masih tetap kurang percaya diri. Andaikan ia bukanlah wanita yang pernah menikah, Yuna pasti akan sangat bahagia bertemu dengan orang tua Shua sekarang.
"Yuk, masuk." Shua menggandeng tangan Yuna yang terasa dingin. Ia menggosoknya perlahan.
Nissa yang mendengar suara Shua memanggilnya, langsung keluar dengan masih mengenakan celemek di tubuhnya. Ia tidak sabar bertemu dengan wanita yang sudah meluluhkan hati anaknya. Nissa berhenti setelah ia melihat wanita yang digandeng oleh Shua.
"Ma, kenalin. Namanya Yuna Sakura." Yuna menyalami tangan Nissa yang terlihat tidak asing baginya.
"Apa kita pernah bertemu?" Pertanyaan itu membuat Yuna tersadar bahwa mereka memang pernah bertemu.
"Oh, Tante yang beli susu kan." Otak Yuna berpikir keras sebelum mengingat pertemuan singkat itu.
"Benar..benar..Kamu yang bayarin susu kemarin kan. Tapi sepertinya kamu berubah ya, Tante hampir tidak mengenali kamu lho." Nissa melihat Yuna dari atas sampai ujung kaki. Ia tampak orang yang sama cantiknya, namun perubahan posturnya yang menjadi proporsional membuatnya menjadi lebih menarik.
"Ayo masuk. Papa Shua sudah menunggu di dalam." Nissa menggandeng Yuna ke arah ruang makan.
__ADS_1
Yuna sedikit lega melihat sikap mama Shua yang sepertinya menerima kehadirannya. Ia tidak menyangka takdir sudah mempertemukan mereka dulu. Mereka akhirnya makan malam bersama dengan sedikit obrolan santai. Yuna bisa melihat bahwa mereka tidak terlalu mempersoalkan statusnya yang pernah menikah. Ternyata semua ketakutannya salah. Shua benar bahwa ia akan mengatasi semuanya.
"Jadi sekarang kamu tinggal sendiri?" tanya William.
"Orang tua saya masih di sini. Mungkin mereka akan kembali ke Jepang dua minggu lagi, Om." jawab Yuna.
"Oh begitu. Sering-sering main ke sini ya Yuna. Nanti Tante ajarin masak pindang kesukaan Shua." Yuna tertawa mendengarnya. Ia mengangguk senang.
"Shua, hati-hati ya antar Yuna. Kamu langsung pulang kan? Jangan ngeband, besok kan kerja." ucap Nissa sambil memeluk Yuna singkat.
Sepanjang perjalanan pulang, Yuna merasa sangat bahagia. Ia banyak tertawa dengan Shua.
"Aku sangat bahagia malam ini. Sepertinya aku akan bermimpi sangat indah." ucap Yuna saat Shua menghentikan mobilnya di depan rumah Yuna.
"Aku akan menyusulmu di alam mimpi. Besok pagi aku jemput ya." Shua membuka sabuk pengamannya.
"Sepertinya tidak perlu. Besok aku sedikit sibuk, lusa papa ulang tahun. Mama memintaku menemaninya belanja sepulang kerja, ia akan menyusulku ke kantor."
"Baiklah kalau begitu." Shua mengecup kening Yuna tanpa meminta persetujuannya. Ia melihat Yuna melangkah masuk sebelum mulai berlalu dari sana.
Shua tahu orang tuanya adalah orang yang berpikiran modern, tapi ia tidak menyangka mereka bersikap sangat manis dengan Yuna. Semua yang William lakukan, itu pasti bersumber dari apa yang dipikirkan oleh istrinya. Jadi selama Nissa setuju, semua pasti akan berjalan lancar. Itulah mengapa Shua sangat menyayangi mereka, terutama Nissa, mamanya. Shua tidak akan pernah bisa menolak apa yang menjadi keinginan mamanya.
*****
"Jadi bagaimana sayang? Lancar?" Rossa menunggu Yuna di ruang tamu, ia tidak bisa tidur sebelum mendengar cerita dari anaknya. Rasa penasaran sudah sangat memenuhi otaknya. Yuna hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Rossa menutup mulutnya untuk menutupi teriakan kegembiraan yang mungkin tidak bisa ia tahan. Ia memeluk Yuna erat.
"Apa mama bilang? Orang baik dan bijaksana akan bisa melihat sesuatu yang hebat dalam diri kamu. Tidak perlu minder atau terpuruk gara-gara kegagalan yang bukan kamu sumber masalahnya. Mengerti? Mulai sekarang, angkat dagumu. Kamu berhak untuk bahagia, dan mama yakin Joshua bisa memberikannya."
"Terima kasih, Ma. Mama dan papa selalu jadi sumber kekuatan Yuna."
"Bukannya Joshua?" ledek Rossa.
"Hahaha...Dia salah satunya, Ma. Tapi levelnya masih di bawah kalian."
Yuna memandangi cermin di depannya. Menyentuh kalung indah di lehernya. Itu benda termanis yang pernah ia dapat. Tentu saja zaman per-adit-an tidak termasuk hitungannya.
'Aku tidak akan lagi terjebak bayang-bayang masa lalu. Satu-satunya cara adalah berdamai, bukan harus memaafkan tapi mencoba melupakan. Tidak akan bisa melupakan sepenuhnya sih karena aku tidak amnesia, ya hanya mencoba tidak mengingat lagi semuanya.'
Aaahh...Yuna pusing. Pokoknya ia tidak peduli lagi dengan kedua pengkhianat di masa lalunya. Titik. Yuna hanya perlu menganggap mereka bukan siapa-siapa. Titik lagi.
__ADS_1
Good bye masa lalu. Welcome my wonderful future.
*****