MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 26


__ADS_3

"Namanya Yuna, Ma."


"Mama sudah tahu." ujar Nissa sambil menyendokkan tempe orek ke piring suaminya.


"Mama tau dari mana?" Shua sedikit bingung, tapi ia langsung mengetahui jawabannya. Siapa lagi kalau bukan dari Vanya.


"Mamamu itu intelnya banyak. Jadi coba ceritakan tentang wanita itu." William menunggu penjelasan dari anaknya. Tadi pagi istrinya uring-uringan setelah Vanya menelepon dan memberi tahu tentang wanita yang dicintai Joshua.


"Sebelum Shua bercerita tentang hal lain, ada baiknya kalian mengetahui sesuatu. Ia pernah menikah dan bercerai sekitar tiga bulan lalu."


"Uhuuk...uhuuuk..." Nissa tersedak dan langsung meneguk air putih di depannya.


"Janda?" William pun tidak kalah terkejut mendengar itu.


"Apa tidak ada perempuan lain Shua?" Nissa sedikit menyesal dengan ucapannya. Biasa ia selalu berpikir rasional. Saat ia menonton sinetron di televisi, ia selalu mengucapkan 'Memangnya kenapa dengan janda?'. Tapi sekarang situasinya berbeda. Ini terjadi kepada satu-satunya anak mereka.


"Ma, jangan ngomong begitu donk. Kita makan dulu, nanti kita lanjut di ruang keluarga ya." ucap William dengan bijak.


"Jadi mengapa harus Yuna, Shua? Papa yakin ada sesuatu dalam dirinya yang membuat kamu memilih dia." Nissa hanya diam menunggu jawaban Shua.


"Dia cinta pertama Shua sejak SMA, Pa. Dan selama ini Shua tidak pernah bisa melupakannya." Shua pun menceritakan semuanya, tentang siapa Yuna dan mantan suaminya, dan alasan mereka bercerai.


Nissa pun menjadi sedikit luluh mendengar cerita Shua, ia menjadi bersimpati kepada Yuna. Dan satu hal yang pasti, Nissa percaya kepada anaknya. Joshua bukanlah pria yang mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas.


"Bawa dia kesini Shua, Mama mau kenalan sama dia." Senyum Shua pun mengembang. Ia tahu bahwa Nissa sepertinya bisa menerima Yuna.


"Makasih, Ma." Ia pun memeluk wanita yang paling dicintai dan dihormatinya tersebut. Nissa tersenyum melihat kelakuan anaknya. Jarang sekali Shua tertawa apalagi sambil memeluknya hanya karena seorang wanita.


*****


Seminggu lalu Yuna memberi tahu orang tuanya tentang perceraiannya. Tentu saja orang tuanya terkejut bukan main dan memutuskan kembali ke Indonesia secepatnya. Bukannya Yuna ingin membela Adit, tapi ia mengatakan bahwa Adit sebenarnya memilih dirinya namun Yuna tidak mau rujuk kembali. Yuna tahu orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan pasti mendukung keputusannya. Semua itu ia lakukan hanya agar masalah itu tidak bertambah panjang. Bayangkan jika kebenaran yang diceritakan, betapa marah orang tuanya.


"Sudah tidur Yun?" suara Joshua bergema di balik telepon.


"Belum. Mama baru tadi ngabarin kalau besok malam sampai di sini." jawab Yuna sambil memeluk guling kesayangannya.


"Oh ya? Kok mendadak?"


"Aku juga baru tahu."


"Apa perlu kita jemput?"

__ADS_1


"Aku saja Shua. Aku belum menceritakan apa-apa tentangmu. Bisa tambah terkejut mereka nanti." Yuna mematikan lampu kamarnya dengan remote. Meninggalkan sebuah lampu tidur kecil di sudut ruangan.


"Oke..Btw, aku malah sudah menceritakan tentang kamu pada orang tuaku. Mereka mengundangmu untuk makan di rumah."


"Serius??" Yuna terkejut dengan perkataan Shua.


"He eh. Tapi kalau orang tuamu datang, kapan kamu ada waktu lagi?"


"Aku akan memberi tahu mama papa tentang kamu. Sabar ya."


"Aku selalu sabar jika itu tentangmu. Jadi jam berapa kamu akan ke bandara?"


"..."


"Yun..?" Shua tersenyum di seberang sana. Sepertinya Yuna tertidur. Shua mendengarkan hembusan napas pelan dan ia terus mendengar itu selama tiga menitan sebelum ia mengucapkan "sweet dream babe" dan menutup panggilan itu.


*****


"Bagaimana kalian bisa membohongi kami selama tiga bulan?" Kenichi membenarkan posisi kaca matanya, mencoba kelihatan sedikit santai dengan menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam. Harris baru saja akan menjawabnya, namun Yuna mendahuluinya.


"Yuna yang melarangnya, Pa. Mereka hanya menuruti permintaan Yuna. Tolonglah, Pa. Semua sudah terjadi. Kalaupun Yuna mengabarkan hal ini lebih cepat, tidak akan ada yang berubah." Yuna sudah mewanti-wanti kedua orang tuanya agar tidak terlalu memperpanjang masalah yang sudah terjadi.


"Ini karena kami gagal melindungimu Yuna, seharusnya kami terus tinggal di sini. Seharusnya mama tidak pernah meninggalkanmu dan tinggal di Tokyo hu..hu..hu.." Rossa menangis. Yuna yang tidak menyangka ibunya akan menangis seperti itu langsung merangkulnya.


Adit, Farah, dan Harris tidak sanggup berkata apa-apa. Mereka hanya sesekali membuka suaranya dan hanya bisa meminta maaf. Sedangkan Becca, ia hanya bisa bersembunyi di kamar, memberi ASI kepada bayi perempuannya yang baru berusia dua minggu. Mertuanya sudah memberi perintah agar si kecil Gracia jangan sampai menangis. Becca sempat kesal dengan hal itu. Pasti mertuanya tidak mau keberadaannya dan anaknya diketahui oleh orang tua Yuna.


Becca memandangi putri kecilnya yang tertidur setelah merasa cukup kenyang. Sudah hampir tiga bulan dia berada di rumah besar itu. Mertuanya, Farah, sangat memanjakannya. Berbeda dengan Harris yang sepertinya kurang menyukai kehadirannya. Tapi Becca tidak terlalu peduli. Yang penting ia memiliki Adit dan anaknya, Becca sudah merasa cukup puas.


Yuna mengajak orang tuanya pulang setelah satu jam berada di sana. Satu jam yang terasa seperti sepuluh jam baginya. Ini masih pukul sepuluh pagi. Sesampainya dari Tokyo semalam, mereka ingin langsung pergi ke rumah Adit namun Yuna melarangnya. Jadilah mereka ke sana pagi-pagi sekali. Untung saja hari ini hari Sabtu. Sebenarnya ide menyembunyikan Becca adalah permintaannya kepada Adit jika Adit tidak mau dihabisi oleh Kenichi.


"Kamu tidak mengerti Yuna. Kamu putri mama satu-satunya. Perasaan mama jauh lebih sakit jika kamu disakiti, tahu ga?" Rossa mengambil tissue dan mulai menyeka air matanya lagi. Kenichi berbalik sebentar melihat istrinya yang sedang menangis dan duduk sendirian di kursi belakang. Yuna menyetir sambil menghela napas.


"Yuna tau Ma. Yuna minta maaf, ok? Tapi percaya deh, Ma. Perceraian tidak seburuk itu. Daripada kami berdua hidup tanpa kebahagiaan dalam satu atap, mending kami berpisah. Mama mau Yuna bahagia kan? Yuna sudah merasa lega dan bahagia sejak bercerai dengan Adit. Percayalah, Ma." Kata-kata Yuna barusan membuat Rossa sedikit lega. Ia tahu Yuna tidak pandai berbohong.


Yuna sendiripun tampak yakin saat mengatakannya, namun semenit kemudian ia sedikit ragu. Benarkah ia bahagia dengan perceraiannya? Hanya wanita gila yang bisa mengatakan itu. Tentu saja ia sedih dan kecewa setengah mati. Tapi merasa lega itu memang benar. Lega karena dengan bercerai ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa perasaan takut dan marah setiap malam. Dan sekarang ada Shua yang mengisi hari-harinya. Hatinya yang sedang kosong dengan mudahnya diisi oleh pesona seorang Joshua Austin.


Suara telepon berbunyi dan nama orang yang dipikirkannya barusan muncul di layar LCD mobil Yuna. Yuna terkejut dan tanpa sadar menoleh ke arah papanya.


"Kok ga diangkat?" tanya Ken.


"Oh, nanti saja, Pa." jawab Yuna sambil menunggu telepon itu mati sendiri. Tidak berapa lama, nama Shua muncul kembali. Kali ini Yuna menjawabnya, dan tentu saja suara Shua pun dapat didengar oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ya Shua. Aku lagi nyetir nih, ada mama sama papa aku juga." Yuna langsung menjelaskan posisinya sekarang agar Shua dapat berhati-hati jika berbicara. Rossa sedikit melihat kegugupan dari suara anaknya.


"Oh, maaf mengganggu. Sebenarnya tadi aku menelepon Adit tapi tidak diangkat. Ada masalah mendesak, tentang proyek kita di Surabaya. Mmmh...Apa tidak masalah aku menjelaskannya di sini? Atau kita bisa bertemu sebentar?" Yuna melirik ke arah Ken. Ken memberi isyarat bahwa ia tidak masalah jika ingin bertemu.


"Kamu di mana sekarang Shua?" tanya Yuna.


"Aku tidak jauh dari rumahmu."


"Ok. Kita bertemu di rumahku saja ya. Aku sudah hampir sampai."


Rossa membawakan secangkir teh manis dan sepiring kue mochi yang ia bawa dari Jepang.


"Ga usah repot-repot, Tan." Shua sedikit kikuk dengan apa yang dilakukan ibu Yuna.


"Tidak repot kok. Dicicipin. Ini mochi asli buatan Jepang." Rossa tertawa manis. Anak muda yang tampan, pikirnya.


"Maaf aku mengganggumu di hari libur. Hanya saja tadi Pak Imran meneleponku. Dia bilang ia salah menghitung luas tiap store yang akan disekat. Sedangkan pihak marketing sudah menyebar undangan untuk para penyewa store. Menurutmu bagaimana, Yun?" Shua sedikit gugup duduk di ruang tamu dengan diawasi oleh kedua orang tua Yuna. Sebenarnya masalah ini tidak terlalu mendesak. Ia bisa membahasnya hari Senin. Hanya saja, entah mengapa ia ingin memperkenalkan dirinya secepat mungkin. Gila memang.


"Maaf. Nama kamu tadi siapa?" tanya Ken.


"Joshua, Pa." Rossa menjawab dengan cepat.


"Kamu kerja di perusahaan Yuna?" tanya Ken lagi dengan nada sopan tanpa bermaksud menyinggung.


"Oh, bukan Pa. Shua pakai jasa kita untuk bangun mall di Surabaya." jawab Yuna.


"Shua, sepertinya kita harus ke lokasi deh. Sebentar lagi sudah mau opening kan." sambung Yuna.


"Kapan?"


"Senin kita berangkat. Mama tidak apa-apa ditinggal sebentar? Palingan dua atau tiga hari." Yuna menoleh ke arah mama dan papanya bergantian.


"Oh tentu saja tidak apa-apa Sayang. Seminggu juga tidak apa-apa hahahaha...." jawab Rossa yang disambut dengan pelototan mata Yuna. Ia tahu persis dengan apa yang dipikirkan mamanya itu.


*****


P.S.


Dear readers, mohon dukungan like dan commentnya ya...Thx for reading ^_^


Yuna Sakura

__ADS_1



__ADS_2