
Hari berganti hari, perasaan Adit makin tidak karuan. Ia tidak bisa merasa tenang sebelum berbicara dengan Yuna. Adit merasa kasihan melihat Yuna yang berpura-pura bahagia setiap kali Joshua menemuinya di kantor. Hari ini Adit akan menuntaskan semuanya. Sebut saja ia pengecut, tapi sungguh sebenarnya ia merasa sangat takut. Melihat wajah Becca sekarang yang sedang tertawa senang sambil membaca buku menu di depannya membuatnya membayangkan bagaimana raut wajah itu akan berubah beberapa saat lagi. Adit sengaja memesan VIP room agar mereka bisa bicara dengan lebih leluasa.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Becca.
"Aku pesan minum dulu, jus tomat." Adit menjawab sambil sesekali memeriksa pesan di ponselnya.
"Lho? Kenapa tidak langsung pesan makanan?"
"Boleh deh. Aku mau sup iga dengan udang saus padang. Yang lain terserah kamu." jawab Adit setelah membaca pesan bahwa orang yang ditunggunya telah tiba.
"Ok. Aku akan tambah beberapa sayuran dan lauk lagi. Apa tidak kebanyakan ya? Porsinya lumayan besar lho."
"Tidak apa. Kita masih menunggu satu orang lagi. Sebentar lagi dia datang." Adit menatap wajah Becca yang terlihat terkejut.
"Ada yang ditunggu? Kok tidak ngomong dari tadi? Untung aku sedikit berdandan, kan malu kalau ketemu temanmu akunya berantakan." Becca langsung merapikan ujung-ujung rambutnya dengan jarinya yang terlihat indah. Kukunya yang selalu terawat. Tidak terlihat sedikitpun ia adalah seorang ibu yang sudah melahirkan. Wajah cantiknya dan tubuh indahnya tidak pernah berubah. Rebecca memang pandai merawat diri.
Tok..tok..Seorang pelayan masuk dan mempersilahkan masuk seseorang yang sudah Adit tunggu-tunggu.
"Apa-apaan Dit?" Becca yang terlebih dahulu mengeluarkan suaranya saat melihat Yuna masuk.
"Adit?" Yuna hanya tidak percaya Adit meneleponnya dan memintanya untuk datang sendirian ke sana hanya untuk....makan bersama Becca? Ya Tuhan, lelucon macam apa ini.
"Tenang, tenang dulu. Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Becca, aku mohon kendalikan amarahmu. Yuna, kemarilah, duduk di sini." Adit menarikkan sebuah kursi untuk Yuna di meja bundar yang cukup besar itu. Wanita cantik yang baru saja pulang kerja itupun menurut, ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan mantan suaminya itu.
"Kita makan dulu ya." ajak Adit. Ia cukup bahagia melihat kedua wanita yang ia cintai bisa makan di satu meja dengannya.
Mereka makan dalam diam, hanya Adit yang terlihat menikmati makan malam itu. Sedang Yuna dan Becca, mereka sama-sama menunggu dengan apa yang akan dilakukan pria itu setelahnya.
"Sudah cukup main-mainnya Dit. Aku mau pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya. Beruntung aku tidak tersedak dan bisa menelan semuanya. Tolong lain kali jangan mengundangku ke acara konyol seperti ini." ucap Yuna sambil berdiri.
"Kamu!!" Becca baru saja akan membalas penghinaan itu, namun ia berhenti saat Adit memegang tangannya dan memintanya untuk tenang.
"Yuna, kumohon duduklah sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan." Adit masih bersikap tenang. Ia selalu seperti itu, pria tampan yang selalu menjaga ketenangan dalam bersikap. Hal itu menjadi salah satu faktor Becca jatuh cinta padanya, namun hal itu jugalah yang membuat Yuna pergi dari hidupnya.
"Apa lagi sih Dit?" Yuna tidak tahu mengapa Adit selalu mengganggunya. Namun Yuna meletakkan kembali tasnya karena ia tidak suka menghindar seperti pengecut. Ia akan menghadapi semuanya.
"Pertama, aku dan Becca, kami minta maaf atas semua yang sudah terjadi." Adit memulainya dengan baik. Becca terlihat ingin membantahnya tapi segera mengurungkan niatnya saat melihat tatapan serius Adit padanya. Yuna hanya diam saja. Ia malas menjawab.
"Kedua, izinkan aku memperbaiki semuanya." Adit sudah memikirkan dengan cukup baik bagaimana ia menjelaskan ini tanpa membuat Yuna merasa malu.
__ADS_1
"Aku ingin kita bertiga bisa hidup bersama. Dengan rukun. Dengan adil." Adit masih mempertahankan nada suaranya tetap tenang. Tapi tidak dengan kedua wanita yang ada di depannya.
"Apa-apaan Adit? Kamu gila?" teriak Yuna.
"Sayang!!" teriak Becca bersamaan dengan Yuna.
"Aku tahu ini cukup mengejutkan kalian. Tapi aku sudah memikirkan hal ini dengan baik. Aku tahu dulu aku tidak bersikap adil dengan kalian. Tapi sekarang aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku sudah membuat perencanaan. Bahkan aku berencana untuk melegalisasi semua perjanjian kita di notaris." Adit memperhatikan reaksi Yuna. Ia tahu ini yang diinginkan Yuna. Becca menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa sangat marah dan ingin menangis mendengar apa yang diucapkan suaminya sekarang.
"Ok, cukup. Ini gila! Ide yang sangat gila." Yuna mengambil tasnya dan berniat meninggalkan ruangan itu.
"Yuna tunggu! Aku mohon, dengarkan aku." Adit menarik lengannya. Yuna menghempaskan pegangan itu. Ia mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Adit.
"Aku harap itu cukup untuk membersihkan kepalamu dari pikiran kotormu itu." Yuna meninggalkan ruangan itu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
Yuna memang merasa ada perubahan dari sikap Adit dua minggu terakhir ini. Ia tidak lagi marah menggebu-gebu setiap kali Joshua menjemputnya. Adit juga jadi lebih menghargai dan menghormati semua pekerjaan dan keputusannya di kantor. Ternyata ini maksud semuanya. Yuna tidak menyangka dengan semua yang didengarnya tadi. Menerima Adit kembali?? Wowww...Ini hal terlucu yang pernah didengarnya. Adil? Adil? Kita tidak akan berakhir begini jika kamu bisa adil Adit. Brengsek kamu!!
"Aaaaahhh.....Brruuukk!!!" Yuna berteriak sambil membanting setirnya ke kiri saat ia melihat seekor kucing melompat di depan mobilnya yang sedang melaju cukup kencang. Sialnya, ia menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Yuna merasakan kepalanya terantuk kaca jendela cukup keras di sebelah kanan. Ada sesuatu yang mengalir dari kepalanya turun ke pipi dan ke lehernya. Lalu semuanya menjadi gelap.
*****
Yuna terus memanjat tangga yang tidak berkesudahan itu. Sesekali ia sedikit membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah belakang dan bawahnya. Pemandangan yang indah. Awan berwarna putih membentuk seekor kelinci besar. Pohon berwarna-warni terhampar indah di antara tumpukan awan.
"Indahnya. Jika aku memanjat lebih tinggi lagi, pasti akan lebih indah." Pikirnya. Yuna melanjutkan langkahnya. Satu. Dua. Tiga. Hingga ia lupa berapa anak tangga lagi yang sudah ia panjat. Yuna menoleh lagi, penasaran dengan apa yang ada di belakangnya lagi.
"Ah, sebaiknya aku naik lagi. Mungkin akan ada yang lebih indah dari ini."
Yuna baru saja akan memanjat satu anak tangga lagi saat ia mendengar ada suara yang memanggilnya.
"Jangan naik lagi Yuna. Kamu akan jatuh. Turunlah. Aku akan menangkapmu." Suara seorang pria. Yuna tidak bisa melihat siapa dia.
"Tapi kalau aku turun dan kamu tidak menangkapku, aku akan jatuh. Lihatlah sudah begitu tingginya aku memanjat. Aku sangat takut melepas peganganku ini." Jawab Yuna.
"Yuna, naiklah. Sedikit lagi kamu akan mencapai puncak tangga ini. Aku sudah mengulurkan tanganku, tidakkah kamu melihatnya?" Ada suara pria lain yang berbicara padanya. Yuna sedikit mendongakkan kepalanya dan melihat ujung tangan seseorang.
"Aku melihatnya. Bisakah kamu menungguku di atas? Aku sudah hampir memegang tanganmu."
"Jangan Yuna, kamu tidak boleh naik. Turunlah! Turunlah!" Teriak pria yang pertama. Tapi Yuna tidak berani untuk turun kembali, tangga yang ia panjat sudah terlalu tinggi. Sedikit lagi ia akan menyentuh tangan di atasnya. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Yuna berhasil menggenggam tangan itu.
"Yuna! Sayang!" Benar-benar ada seorang pria yang memanggilnya. Tapi mengapa ia tidak bisa melihatnya? Oh mungkin matanya belum terbuka. Tapi mengapa berat sekali untuk membuka matanya?
__ADS_1
"Dokter! Dokter! Aku melihat jari Yuna bergerak." Teriak pria itu lagi.
'Hah? Benarkah tanganku bergerak? Mengapa aku tidak merasakannya? Aku harus bangun. Ayo dong buka mata.' Pikir Yuna. Ia berusaha keras membuka matanya. Hingga akhirnya, setitik cahaya mulai nampak.
'Aahh...Terlalu silau.' Yuna menutup kembali matanya sebelum mencoba membukanya lagi.
"Ibu Yuna? Apa Ibu mendengar saya? Ibu boleh mencoba membuka mata lagi, atau coba gerakkan jari ibu." Pria lain bersuara dan Yuna menurutinya. Ia mencoba membuka matanya yang cukup berat seolah ia masih merasa sangat ngantuk dan akhirnya ia berhasil. Samar-samar ia melihat bayangan beberapa orang.
"Sayang..Sayang..Kamu tidak apa-apa?" Yuna mengenalinya. Ia sangat merindukan wajah tampan itu.
"Permisi Pak Joshua. Saya periksa Ibu Yuna dulu." Yuna merasakan si dokter memeriksa matanya, memintanya melihat kiri dan kanan. Syukurlah Yuna bisa menuruti semua yang diminta.
"Sepertinya tidak ada luka yang serius selain di kepalanya kemarin. Kita bisa lihat perkembangannya beberapa hari ke depan. Ibu Yuna masih butuh banyak istirahat. Tolong jangan ada banyak pengunjung dalam dua tiga hari ini Pak." kata si dokter.
"Baik Dok. Terima kasih." Yuna bisa melihat dokter yang cukup muda itu berjalan keluar diikuti oleh dua perawat wanita.
"Sayang?" Panggil Joshua. Yuna bisa melihat wajah pria itu dari dekat sekarang, tapi tidak sebersih biasanya. Rambut-rambut halus menghiasi rahangnya. Joshua memegang pelan wajah Yuna.
"Mmmh..." Yuna mengeluarkan suara pertamanya. Bibirnya terasa sangat kering.
"Kamu mau minum?" Shua seakan menyadari apa yang dirasakan Yuna. Ia menyuapi dua sendok air untuk wanita itu. Kepala Yuna masih diperban sehingga Shua masih sedikit takut menyentuhnya.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Shua. Yuna menggeleng pelan.
"Mau tidur lagi?" tanyanya lagi. Yuna tetap menggeleng.
"Apa aku kebanyakan bertanya?" Shua mengelus pipi Yuna. Yuna hanya tersenyum sambil menggeleng lagi.
"Aku merindukan senyummu itu Sayang."
"Sayang.." Suara pelan Yuna lebih mirip dengan bisikan.
"Ya.." Jawab Shua dengan suara bergetar. Ia menahan sesuatu yang hampir keluar dari kedua bola matanya saat Yuna menatapnya.
"Aku merindukanmu." bisik Yuna. Ia sangat ingin membelai wajah tampan Shua, namun ia harus menahannya karena merasakan ada jarum infus tertanam di ujung tangan kanannya.
"Aku sangat takut Sayang. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Shua tidak bisa menahan bulir air mata yang mulai mengalir tanpa persetujuannya.
Saat itu Shua sedang berada di Jupiter Cafe, melakukan pertunjukan band dengan teman-temannya. Yuna meneleponnya tadi sore bahwa ia akan menemui seorang teman sepulang kerja. Sekitar pukul sebelas malam saat ia mulai bersiap untuk pulang, Aditya Radiansyah meneleponnya. Firasat buruk mulai dirasakannya. Dan benar saja, kekasihnya Yuna mengalami kecelakaan dengan luka cukup serius di kepalanya.
__ADS_1
Adit dan Becca berada di rumah sakit saat Joshua sampai di sana. Yuna akan dioperasi dan membutuhkan persetujuan wali. Jika saja Becca tidak melarang Adit menandatangani persetujuan itu, mungkin Adit tidak akan mengabarkan hal itu pada Joshua. Dan sejak hari itu, Shua selalu menemani Yuna hingga hari ini. Ia menjadikan kamar rawat inap itu menjadi kantor keduanya. Dan hari ini Shua merasa sangat lega setelah satu minggu ia tidak melihat dua mata indah itu terbuka.
*****