MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 41


__ADS_3

"Bik Sum, Yuna ada?" tanya Joshua.


"Bu Yuna masih di kamarnya Den, katanya tidak kerja hari ini. Lagi tidak enak badan." Bik Sum memiringkan badannya membiarkan pria tampan itu melewati pintu.


Joshua masuk perlahan. Ia melihat Yuna tertidur dengan mengenakan piyama maroon bermotif bunga tulip. Shua mendekatinya dan pelan-pelan menyentuh dahinya.


"Cuma demam dikit bik." Kata Yuna dengan mata masih tertutup.


"Suara kamu kok serak begitu sayang?" Yuna membuka matanya cepat setelah mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Ia ingin segera bangun tapi Shua menahannya tetap berbaring.


"Kamu kok bisa di sini?" Mata Yuna sangat berat untuk dibuka.


"Tadinya mau jemput kamu kerja, sekalian sarapan bareng. Flu ya sayang? Sudah minum obat?" Shua duduk di sebelah Yuna yang sedang berbaring.


"Sudah tadi minum obat flu. Kamu jangan dekat-dekat, nanti ketularan." Yuna mendorong tubuhnya menjauh 20 cm, tapi Shua menariknya kembali. Sekarang tubuh mereka malah saling berdekatan.


"Sini. Tidurlah. Istirahat. Aku akan menungguimu di sini." Shua membelai-belai rambut Yuna tanpa berkata apa-apa lagi.


Yuna merasakan kehangatan yang menjalar dari ujung rambutnya. Belaian Shua yang dua hari dirindukannya terasa sangat menenangkan. Ia tidak sanggup untuk berdebat soal alasan kehadiran Shua di dekatnya. Matanya terasa sangat berat karena efek obat yang dimakannya tadi. Belum lagi tubuhnya terasa sangat lemas. Hidungnya yang tersumbat dan tenggorokannya yang sakit membuat dirinya tidak nafsu makan.


Shua melihat kekasihnya yang terbaring sakit di sebelahnya. Sebenarnya banyak yang ingin ia ceritakan, salah satunya adalah perihal Vanya yang tinggal di rumahnya sekarang. Shua sangat penasaran dengan respon Yuna saat mengetahui hal itu, apakah ia akan berempati ataukah cemburu. Mendadak ponselnya berbunyi, Shua dengan cepat mematikannya karena takut Yuna terbangun. Ia berdiri dari tempat tidur dengan pelan dan berjalan keluar.


"Ma, kenapa telepon tadi?" Shua menelepon balik mamanya.


"Vanya hilang Shua. Mama tidak tahu dia ke mana. Telepon juga tidak diangkat." Nissa terdengar panik.


"Sabar Ma. Shua ada pasang pelacak di ponselnya. Nanti Shua telepon mama lagi."


Ya, Shua memang memasang pelacak GPS di ponsel Vanya yang terhubung ke ponselnya. Ia mengecek keberadaan Vanya sekarang yang sepertinya sedang dalam perjalanan. Lima belas menit kemudian Shua mengeceknya lagi. Vanya berada di dalam Klinik Graha Medika.


'Untuk apa dia ke sana?' tanyanya dalam hati. Shua mengintip ke dalam kamar dan melihat Yuna masih tertidur. Ia turun ke dapur dan menghampiri Bik Sum.

__ADS_1


"Bik, saya mau keluar sebentar. Yuna lagi tidur sekarang. Nanti saya balik lagi kalau urusan saya sudah selesai. Tolong masakin bubur saja untuk Yuna ya Bik."


"Baik Den."


"Terima kasih Bik."


Shua meninggalkan rumah itu dengan buru-buru. Klinik yang didatangi Vanya cukup jauh dari posisinya sekarang, kurang lebih satu setengah jam. Ia pun harus menelepon Lian mengabarkan bahwa ia tidak akan ke kantor hari ini dan akan menangani pekerjaan menggunakan ponselnya.


Shua berdiri di depan Klinik Graha Medika sekarang. Ia melepaskan kaca mata hitamnya. Sebuah klinik yang terlihat tua dan kurang terawat. Shua bingung untuk apa Vanya jauh-jauh datang ke klinik seperti ini. Pria itu masuk ke dalam dan mendatangi seorang wanita berusia 40an di bagian informasi dan pendaftaran.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?" sapanya sopan. Jarang-jarang ada pria tampan mendatangi klinik itu.


"Iya. Apa ada pasien bernama Vanya Aprilia hari ini?"


"Oh, maaf sekali Pak, kami dilarang memberi tahu informasi pasien." Jawabnya dengan raut wajah agak menyesal.


"Dia sedang hamil Mba. Dan saya..saya..suaminya." Shua terpaksa menjawab itu agar diizinkan menemui Vanya.


"Oh, Bapak suami Mba Vanya?" Sadar suaranya cukup besar, wanita itupun langsung menutup mulut menggunakan tangannya.


Shua yang mendengar itu langsung berlari ke ruangan yang diarahkan tadi tanpa mengucapkan terima kasih. Ia melihat pintu yang bertuliskan nama Dokter Raka, mengetuk pintunya, dan masuk tanpa menunggu persetujuan. Ia melihat Vanya duduk di sana sedang menangis.


"Maaf, Anda siapa?" tanya seorang perawat di dalam sana. Vanya dan sang dokter pun menoleh ke arah pintu.


"Kak Shua?"


"Vanya, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Vanya..Vanya..." Gadis itu menangis.


"Bapak siapanya Vanya?" tanya dokter yang sudah cukup tua itu. Shua terdiam sebentar hingga akhirnya wanita yang berada di bagian depan tadipun ikut masuk ke ruangan.

__ADS_1


"Maaf, Dok. Ini suaminya Mba Vanya, saya yang memberi tahu dia keberadaan Mba Vanya di sini. Mungkin akan membantu Mba Vanya untuk mengubah pikirannya. Saya permisi Dok." Ia keluar lagi dari ruangan itu.


"Oh, suaminya Vanya. Maaf saya tidak tahu. Vanya tidak bercerita apapun. Saat ini saya sedang menanti keputusan Vanya. Menurut saya, tindakan aborsi ini harus kita bicarakan bertiga. Begini Pak, dilihat dari reaksi Bapak tadi, sepertinya Bapak tidak tahu apa yang akan dilakukan Vanya. Kalian ingin bicarakan berdua?" Dokter itu bertanya dan Vanya hanya menggeleng sambil menangis.


"Begini, Vanya sudah mendatangi saya untuk aborsi sebulan lalu. Ia bilang belum siap punya anak. Saya pikir itu karena...karena...Maaf, karena kecelakaan. Karena saya juga tidak mengikuti berita artis. Tapi melihat Anda di sini sebagai suaminya, saya cukup lega. Mungkin Anda bisa bicara dengannya. Saya tidak berhak mengatakan hal lain selain anak adalah anugerah dari Tuhan. Saya tinggalkan kalian sepuluh menit ya." Shua mengangguk sopan saat dokter itu keluar dengan perawatnya.


"Kamu ngapain sih Vanya? Aborsi? Ya ampun!" Shua memeluk Vanya yang tampak rapuh.


"Vanya tidak sanggup Kak. Vanya mau aborsi, kalau tidak Vanya mau mati saja." tangisnya lagi.


"Kamu masih punya mama, masih ada kakak di sini. Apa yang kamu takutkan? Kalaupun laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab, kami bisa membantumu untuk membesarkannya."


"Vanya pasti dicemooh orang Kak. Karir Vanya hancur." Itu salah satu ketakutan terbesar Vanya.


"Jangan kamu pikirkan masalah itu. Hanya orang bodoh yang mencemooh wanita yang mau mempertahankan anaknya. Soal karir, kamu bahkan bisa membuka rumah produksi sendiri dari warisan ibumu, apa lagi yang kamu takutkan. Sudahlah. Singkirkan rencana aborsimu itu. Dosa besar Vanya. Membunuh saja sudah berdosa, apalagi membunuh anak sendiri."


Shua berhasil membatalkan keinginan Vanya untuk aborsi. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada Dokter Raka yang berusaha membujuk Vanya berulang kali. Shua merangkul Vanya dan memapahnya ke parkiran mobil.


"Itu mereka!!" Shua dan Vanya terkejut dengan kehadiran segerombol wartawan yang mendadak mengerubungi mereka.


"Vanya, apa benar ini suami Anda?"


"Bukannya Anda Joshua yang dikabarkan kakaknya Vanya?"


"Apa benar pria yang digosipkan dekat dengan Anda berinisial J adalah Joshua?"


"Apa benar Joshua adalah ayah dari bayi yang Anda kandung?"


"Apa Mba Vanya ke sini untuk aborsi?"


"Kapan kalian menikah? Kenapa menikah diam-diam"

__ADS_1


Joshua dan Vanya yang terkejut, tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wartawan. Ia hanya bisa memaksa terus berjalan menuju mobilnya dan berlalu dari sana. Vanya hanya bisa duduk terdiam dengan tubuh bergetar. Shua pun tidak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan Vanya di saat dirinya juga sedang kacau. Bagaimana masalah baru bisa muncul di saat ia baru saja menyelesaikan satu masalah. Kacau. Dalam satu jam saja, berita bahwa dirinya adalah suami Vanya Aprilia menyebar seperti virus di negara ini.


*****


__ADS_2