MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 47


__ADS_3

Joshua mencoba menelepon Yuna, namun sudah tiga kali panggilan tidak juga dijawab oleh wanita itu.


'Apa sudah tidur ya?' pikirnya.


Akhir-akhir ini komunikasinya dengan Yuna sangat minim. Benar kata orang, mendekati pernikahan akan banyak gangguan dalam hubungan mereka. Tapi ini bukan sekedar gangguan, ini bencana. Bencana yang merusak hari-hari bahagia yang seharusnya ia lewati bersama Yuna. Bukannya Shua tidak mau tegas dalam menyelesaikan masalah ini. Jika cuma dengan Vanya, ia pasti dengan cepat membereskannya. Tapi ini menyangkut mamanya dan juga si calon bayi. Bolehkah ia bersikap egois? Ah, ingin sekali ia menutup mata, menceritakan yang sebenarnya ke wartawan, dan...bim salabim...semua masalah selesai. The end. Dan ia bisa continue kehidupan percintaannya dengan Yuna. Tapi ia tidak bisa di saat Nissa, mamanya, memohon untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara yang di luar biasa.


Joshua membuka email dari ponselnya. Temannya, Mario, mengirimkan penawaran paket pesta pernikahan di hotelnya di Bali. Paket yang dipersiapkan khusus untuknya dan Yuna. Shua memang tidak mencari venue lain untuk menikah selain di tempat Mario jika ia jadi mengadakannya di sana. Huuuhh...Memikirkan tentang pernikahan membuat kepalanya pusing. Jangankan membuat perencanaan, teleponnya pun sekarang tidak dijawab oleh Yuna.


Pukul 20.25. Atau ia hampirin saja Yuna di rumahnya? Ya, mungkin itu yang terbaik. Walaupun kepalanya berdenyut sakit, tapi demi memuaskan rasa kangennya pada Yuna rasa nyeri itu ia buang. Joshua mengganti celana pendeknya dengan celana panjang jeans, memakai jaket hitamnya di luar kaos rumahnya. Ia berhenti sejenak saat mencapai pintu dan kembali lagi membuka laci mejanya mengambil sebuah aspirin dan menelannya. Setidaknya ia tidak perlu menahan sakit sepanjang jalan.


Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Shua masuk ke mini cooper putih yang lebih sering dipakai oleh Nissa. Ia memutar lagu dari USB yang telah lama terpasang. Lagu lawas Sepanjang Jalan Kenangan terputar secara acak. Ini lagu kesukaan mamanya. Shua tersenyum mendengar liriknya. Pikirannya terbang kembali saat ia bergandengan dengan Yuna di sekolah mereka kemarin. Tiba-tiba ia menjadi rindu berat dengan kekasihnya itu hingga menambah kecepatan mobilnya.


Sesampainya di rumah Yuna, ia melihat mobil merah yang sangat ia kenal. Terlebih lagi Valentino ada di dalamnya.


Tok..tok..Shua mengetuk jendela mobil. Terlihat Valen yang sedikit terkejut mendengar itu. Ia memilih keluar dibanding menurunkan kaca jendela.


"Kok Kak Josh bisa ke sini juga?" Tampang Valen terlihat takut. Mungkin ia takut akan terjadi perang dunia di dalam nanti.


"Lah, harusnya saya yang tanya ke kamu, ngapain kamu di sini? Vanya di dalam?" Shua sepertinya bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Bergegas dia menuju pintu masuk, tapi pintu itu keburu dibuka dari dalam. Vanya keluar sambil meringis kesakitan dan memegang perutnya.


"Vanya! Kamu ngapain ke sini?" Shua berteriak sambil mencengkeram lengan Vanya.


Dan seperti dejavu, mendadak seorang wartawan muncul di dekat mereka.


"Apa Mba Vanya ke sini untuk menegur wanita yang menjadi selingkuhan suami Anda?" Wanita bertubuh mungil itu membuka pertanyaan yang sangat membuat Joshua emosi.


"Hei! Jaga bicaranya ya Mba! Siapa yang selingkuh? Kalau bukan wanita, sudah saya..." Satu wartawan berubah menjadi tiga, empat... Joshua tidak tahu lagi dari mana mereka datang. Ia merasakan lengannya ditarik seseorang. Valen menariknya masuk kembali ke mobilnya.


"Kak Josh pergi dulu. Nanti tambah kacau situasinya Kak." Valen membanting pintu mobil dengan cepat lalu kembali berlari ke arah Vanya yang belum bisa membebaskan dirinya dari serbuan pejuang berita itu.

__ADS_1


Joshua memukul berulang setir mobilnya dengan keras.


"Brengsek mereka! Bisa-bisanya mereka muncul di rumah Yuna!" teriak Shua. Pikirannya sangat kacau sekarang.


Apa yang dipikirkan oleh para wartawan itu sungguh tidak masuk di akal. Seenaknya saja mereka berasumsi. Ia melirik ke arah spion, entah mengapa ia merasa mobil itu seperti sedang mengikutinya. Shua mempercepat laju mobilnya dan berbelok ke kanan walaupun itu bukan arah ke rumahnya. Dan benar saja, mobil itu masih mengikutinya. Ia yakin itu pasti salah satu dari wartawan tadi. Ia berbelok lagi ke kiri dan mobil itu ikut berbelok. Shua bertambah kebut dan mencoba menyalip mobil fuso di depannya walaupun ia tahu jalan itu sempit. Dan sialnya, ia tidak melihat sebuah truk berjalan ke arahnya dari arah berlawanan. Shua mencoba menginjak rem untuk kembali ke lajur kiri. Shua menjadi panik saat rem yang diinjaknya tidak membuat mobil itu melambat dengan cepat. Ia memejamkan matanya saat merasa semuanya sudah terlambat.


*****


Yuna mengucek matanya saat ia mendengar ponselnya berbunyi. Jam 00.50. Mama Joshua. Ada apa ia menelepon malam-malam begini?


"Ya Tante." Suaranya sedikit serak khas orang baru bangun tidur. Dalam setengah sadarnya, ia mendengar suara tangis dari lawan bicaranya.


"Tante? Tante?" panggilnya.


"Yun, Shua...kecelakaan." Suaranya bergetar. Yuna yang mendengar berita itu hanya terdiam. Entah ia menunggu kelanjutan cerita Nissa, atau tidak tahu apa yang harus dikatakan atau ditanyakan lagi. Ponselnya serasa tidak berfungsi. Yuna tidak bisa mendengarkan apa-apa. Kalimat 'Shua kecelakaan' terus terngiang di pikirannya.


Tangan Yuna bergetar dan ponselnya jatuh saat ia menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan tangis. Ya, ini benar-benar nyata. Pria yang akan dinikahinya sedang mengalami kecelakaan. Lelucon baru di hidupnya. Yuna mencoba tenang dan mengganti bajunya asal. Dompet dan ponsel, hanya itu yang dibawanya menggunakan tas selempang kanvas kecil berwarna hitam.


Yuna sampai di rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya dengan selamat. Ia kaget saat beberapa wartawan menghampirinya.


"Apakah Mba mau menjenguk Joshua yang kecelakaan setelah pulang dari rumah Mba tadi?" Pertanyaan pertama itu sangat membuatnya kaget. Shua ke rumahnya tadi?


"Apa yang dibicarakan dengan Vanya tadi di rumah Mba?"


"Apa Vanya meminta Anda menjauh dari suaminya?" Whaaat?? Pertanyaan mereka sudah mulai tidak masuk akal. Yuna mendorong mereka agar ia bisa masuk ke dalam. Ia menangis dalam diamnya menuju IGD. Tangis yang tidak jelas alasannya, menangisi Shua yang kecelakaan ataukah predikat buruk yang menimpa dirinya. Peduli amat tentang pemberitaan itu, ia hanya ingin melihat keadaan pria itu.


Yuna sampai di ruangan yang bertuliskan IGD. Di luar ia melihat Vanya dan seorang pria di sampingnya. Ia mencoba tidak mengingat lagi apa yang dilakukan Vanya di rumahnya. Lalu ada Nissa yang sedang dipeluk William. Yuna memilih menghampirinya.


"Tan?" panggilnya.

__ADS_1


"Yuna." Ia memeluk Yuna.


"Mereka sedang mempersiapkan operasi karena..." Nissa tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena menangis lagi. Yuna melirik ke arah William seolah meminta penjelasannya.


"Shua kenapa Om?" Yuna meneteskan air matanya.


"Kepalanya mengalami benturan keras. Ada pembuluh darah yang pecah. Tulang rusuk dadanya juga retak." William menarik napas panjang seolah penjelasan itu sudah menghabiskan seluruh tenaganya.


Yuna terduduk lemas. Bayangan Shua yang berbaring tidak sadar saja sudah membuatnya takut. Apalagi saat beberapa perawat keluar mendorong tempat tidur dengan Shua yang sedang berbaring tidak sadar. Yuna melihat kepalanya yang diperban, wajah tampannya kini dihiasi luka-luka kecil terkena pecahan kaca. Ia ingin menyentuh Shua, tapi apa dayanya. Kakinya yang bergetar tidak cukup cepat dibanding langkah kaki perawat yang membawanya ke ruang operasi.


"Kami harus mengoperasi pasien sekarang. Mungkin akan memakan waktu cukup lama. Mohon doanya." Dokter itu memandang Yuna cukup intens. Ternyata ia adalah Dokter Angga yang dulu pernah mengoperasi Yuna.


Sudah dua jam mereka menunggu di ruang tunggu operasi. Suasana mulai tampak tenang, tidak terdengar lagi suara tangis. Mereka hanya menunggu dalam diam hingga akhirnya William bersuara.


"Yuna, apa kalian bertengkar tadi?" Yuna kaget saat ada pertanyaan yang tiba-tiba ditujukan padanya.


"Hah? Maaf Om, tapi tadi Yuna tidak bertemu Shua."


"Masa? Shua minta izin sama kami kalau dia akan ke rumahmu tadi." William dan istrinya terkejut mengetahui kenyataan mereka tidak bertemu tadi.


"Begini..." Vanya baru saja akan menjelaskan saat Valen mengambil alih perannya.


"Om, Tante..Tadi waktu Kak Josh sampai di rumah Mba Yuna, wartawan pada datang. Jadinya dia pulang lagi masuk mobil, ga jadi masuk ke dalam." jelasnya singkat.


"Sepertinya ada beberapa wartawan yang mengikutinya. Tapi itu masih kemungkinan ya Om." lanjutnya lagi.


"Brengsek! Kalau aku sampai menemukan bukti, akan aku tuntut mereka!" ucap William dengan penuh amarah.


*****

__ADS_1


__ADS_2