MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 55


__ADS_3

"Maaf Jo, aku juga tidak tahu di mana Yuna sekarang. Ia hanya meminta cuti, tidak tahu sampai kapan." jawab Adit saat Shua menanyakan keberadaan Yuna.


Akhirnya Shua setuju untuk menjalani terapi di Singapura. Menurut rencana, ia akan berada di sana paling cepat tiga bulan. Tapi tidak menutup kemungkinan akan menjadi lebih lama tergantung dengan kondisi Shua. Sebenarnya Nissa ingin membawa Shua ke Amerika, tapi William bersikeras untuk di Singapura saja karena ia lebih mudah untuk datang menjenguk anaknya. Bagaimana dengan Vanya? Tentu saja Nissa memintanya untuk ikut ke Singapura.


Shua tidak membenci Vanya, adiknya. Tapi Shua tidak bisa banyak bicara dengan Vanya seperti tidak terjadi apa-apa. Shua tahu bahwa mamanya berusaha untuk menyatukannya dengan Vanya. Tidak masalah bagi Shua untuk berbagi rumah dan orang tua dengan Vanya. Tapi untuk berbagi ranjang? Ia tidak bisa membayangkan dirinya berbagi tempat tidur dengan wanita yang sudah ia anggap adik. Apalagi untuk melakukan hubungan yang lebih intim. Tidak! Tidak bisa! Hubungannya dengan Vanya tidak akan pernah sedalam hubungannya dengan Yuna.


'Aku harus sembuh secepatnya agar aku bisa mencarimu, Sayang!' tekadnya.


'Dan Vanya, setelah kamu melahirkan nanti, maaf jika kamu harus kembali terluka.' sambungnya.


*****


Matahari di luar kereta sangatlah panas, tapi tidak di dalamnya. Dylan akhirnya menuruti Yuna untuk naik kereta menuju Yogyakarta padahal ia lebih ingin naik pesawat.


"Kalau mau ikut aku ya ikut saja." Itu kalimat mematikan yang menjadi kartu mati bagi Dylan. Tentu saja ia menurutinya.


Dylan duduk di sebelah Yuna dan mengeluarkan Macbook nya. Ia wajib mengecek emailnya setiap pagi dan sore. Walaupun dirinya tidak ke kantor tapi ia harus profesional mengurus semuanya via online. Maklumlah, hanya dia yang bisa mengurus semuanya karena dirinya anak tunggal dan sudah yatim piatu. Dulu ia hanya memiliki satu perusahaan di Bali, tapi sekarang ia sudah memiliki kantor cabang di Jakarta.


Yuna melirik ke arah kirinya dan melihat Dylan sedang membalas emailnya. Bukan kali pertama ia melihatnya. Yuna tidak pernah mengomentari masalah pekerjaan sedikitpun ke pria itu. Ia tahu Dylan sudah dewasa dan bisa memutuskan apapun untuk dirinya sendiri. Untuk sementara, Yuna masih belum terganggu dengan kehadiran Dylan. Jadi ya ia jalani saja semuanya dengan santai. Pikirannya tidak sanggup lagi untuk berpikir berat.


Yuna memilih untuk memandang keluar jendela sambil memasang earphone mendengar lagu di playlist ponselnya. Semalam ia melihat foto Shua di ponsel lamanya. Yuna mematikan sambungan internet di ponselnya agar tidak bisa diakses. Lama ia meng-scroll album fotonya. Ingin rasanya Yuna menghubungi seseorang untuk bisa menanyakan kabar Shua. 'Mungkin aku bisa bertanya pada Cathy. Atau Bik Sum.' pikirnya. Tidak banyak orang yang bisa ia percayai.


"Yuna, ini teh untukmu." panggil Dylan sambil menepuk lengan Yuna yang sudah ia panggil dua kali.

__ADS_1


"Oh, maaf. Tidak kedengaran." Yuna menunjukkan earphone nya.


"Lagu apa yang kamu dengar? Boleh bagi satu?" Dylan mengambil  earphone sebelah kiri Yuna.


"Linkin Park? Wanita anggun sepertimu suka Linkin Park?" Pria itu terkejut sambil tertawa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Yuna hanya menjawab dengan memutar bola matanya. Ia butuh musik keras untuk membangunkannya dari semua mimpi dan khayalannya.


Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh dan lama. Dylan sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Yuna. Semalam ia menelepon Aditya, mantan suami Yuna, untuk menanyakan masalah pekerjaan. Lalu ia dengan sengaja bertanya apa Adit mengenal Joshua dari PT Global yang mengalami kecelakaan. Tentu saja Adit yang tidak curiga sedikitpun mengatakan dengan jujur jika ia mengenalnya.  Dan satu kabar yang paling penting adalah Joshua sudah sadar dan akan menjalani perawatan di Singapura. Dylan mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Yuna apakah ia mengetahui kabar itu atau tidak. Tapi ia tidak mau dianggap suka mencampuri urusan orang lain. Apalagi dirinya dan Yuna belum pernah sekalipun membahas nama "Joshua Austin." Seorang saingan yang cukup kuat baginya. Tampan, muda, dan sukses. Sedangkan Adit, Dylan tidak pernah menganggapnya saingan sedikitpun. Seorang wanita yang sudah terluka karena perselingkuhan tidak akan pernah mau kembali lagi. Apalagi untuk wanita secerdas Yuna.


Sesampainya di Yogyakarta, Dylan sudah menyewa sebuah mobil yang diantar di stasiun.


"Kok sewa mobil sih Dylan? Kan aku sudah bilang mau naik kendaraan umum."


"Untuk jaga-jaga saja kalau hujan. Kalau tidak pakai kan bisa ditinggal di hotel." Dylan ada benarnya, pikir Yuna. Akhirnya ia menuruti pria itu. Terkadang pikiran Dylan memang selangkah lebih maju di depan Yuna.


Mereka menuju ke sebuah rumah makan karena sudah sangat merasa lapar.


"Hah? Bali? Kok tidak dari Malang kemarin? Kan jauh lebih dekat."


"Baru terpikir saat di kereta tadi." Yuna menjawab asal. Ia memang tidak terlalu memikirkan rute mana yang terdekat. Ia hanya menuruti kemana kakinya ingin melangkah.


"Baiklah kalau begitu. Nanti kita berpisah di saat kamu berangkat ke Bali. Naik apa?"


"Mungkin bus. Kalau naik kereta harus sambung bus juga." Yuna langsung menghisap es teh manis yang baru saja diantar.

__ADS_1


"Pesawatlah Yun. Jauh." saran Dylan. Yuna hanya menggeleng.


"Aku...hanya suka menghabiskan waktuku. Sebenarnya aku hanya ingin menghabiskan waktuku." Yuna hanya mengulang jawabannya yang membuat Dylan sedikit bingung.


'Suami Vanya Aprilia, Joshua Austin William, yang juga seorang pengusaha sukses, akhirnya sudah sadar dari komanya. Menurut penuturan Vanya Aprilia yang sudah memilih mundur dari dunia artis yang membesarkan namanya, ia akan menemani suaminya menjalani perawatan lebih lanjut di Singapura. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai perawatan apa yang dimaksud. Namun kita doakan agar Joshua bisa lekas sembuh mengingat kandungan Vanya Aprilia yang sudah memasuki bulan keenam. Demikian berita terkini investigasi.'


Sangat tidak mungkin bagi Yuna untuk tidak mendengar berita yang menyebut nama orang yang sangat ia rindukan. Tanpa sadar, ia bahkan berdiri dan maju mendekati televisi yang berada sekitar enam meter dari tempat duduknya. Ia menatap layar televisi yang menayangkan gambar Shua-nya yang sudah sadar didorong dengan kursi roda dan memasuki sebuah mobil. Yuna menutup mulutnya untuk menahan isak tangisnya.


'Terima kasih Tuhan. Terima kasih.' Yuna bersyukur doanya terjawab sudah. Walau ia melihat tidak ada senyuman di wajah tampannya, tapi melihat Shua sadar saja Yuna sudah sangat bahagia.


"Yuna, kamu tidak apa-apa?" Dylan memegang kedua pundaknya dari belakang. Beberapa orang melihat Yuna yang menangis di depan televisi. Untung saja tidak banyak pengunjung pada jam itu.


Yuna hanya terdiam walaupun televisi yang ditatapnya sudah menayangkan iklan deterjen pakaian. Dylan berinisiatif menggiring Yuna kembali ke tempat duduknya.


'Yuna, secinta itukah kamu padanya? Atau kamu hanya merasa khawatir?' Banyak yang ingin Dylan tanyakan pada Yuna namun ia menahannya. Didudukkannya Yuna di tempat awalnya.


"Kamu mengenalnya?" tanya Dylan hati-hati. Ia melihat Yuna hanya menahan isak tangisnya sambil menunduk. Sungguh Dylan ingin memeluknya.


"Aku tidak apa-apa." Yuna mengangkat wajah sembabnya sambil memaksakan segaris senyum.


"Kita makan dulu ya. Nanti aku ceritakan." lanjutnya.


Yuna merasa harus menceritakan semuanya kepada seseorang agar ia tidak segera menjadi gila. Makan sore menjelang malam itu berlangsung sunyi. Yuna masih terhanyut dengan bayang-bayang Shua yang dilihatnya tadi. Mengapa Shua masih harus menjalani perawatan di Singapura?

__ADS_1


Dylan menjadi gugup, detak jantungnya sedikit tidak beraturan menunggu cerita Yuna tentang Joshua. Bahkan dirinya sudah lupa kapan terakhir kali ia pernah segugup ini. Tidak mendapatkan proyek besar, ia tidak pernah memikirkannya. Putus cinta? Apalagi. Tidak dipikirkannya sedetikpun. Dan sekarang, seorang Yuna Sakura berhasil membalikkan dunianya secepat itu.


*****


__ADS_2