
Yuna mengetuk pintu kaca sebuah ruangan dan mengumpulkan semua keberaniannya untuk masuk ke dalam.
"Siang Om."
"Yuna. Om terkejut saat asisten Om bilang kamu yang datang." William berdiri dan mempersilahkannya duduk di sofa.
"Maaf mengganggu, Om. Om apa kabar?" Yuna memaksakan senyumnya di saat dirinya malah ingin menangis. Berada di dekat William membuatnya merasa lebih dekat dengan Shua.
"Om baik. Om tahu sebenarnya kabar Shua yang ingin kamu tanyakan." Tebakan William sangatlah tepat. Yuna menunduk, menghindari kontak mata dengan William untuk menahan hasrat menangisnya.
"Shua sudah dua minggu di Singapura menjalani terapi. Belum ada kemajuan yang signifikan. Tapi menurut mamanya, kakinya bisa sedikit merespon sentuhan." jelasnya tanpa diminta Yuna.
"Terima kasih, Om. Apa...apa Shua menanyakan tentang Yuna?" tanyanya pelan. Ia tidak tahu apakah pertanyaan itu akan membuat William kesal padanya.
"Tentu saja Yuna. Ia mencarimu. Shua mencintaimu. Om tahu apa yang terjadi dan apa yang istri Om katakan padamu. Jujur saja Om juga tidak setuju dengan perbuatannya. Tapi...Ah sudahlah, semua sudah terjadi. Sekarang kan Shua sudah sadar, jadi semuanya tergantung dengan kalian."
"Boleh Yuna menemuinya, Om?" Yuna sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Tentu saja. Om akan mengantarmu menemuinya. Bagaimana jika Sabtu ini?" Yuna mengangguk cepat. William mendekatinya dan menggenggam tangan calon menantunya itu.
"Tenang saja Yuna. Yang paling penting adalah kebahagiaan kalian berdua dan Om akan mendukung kalian." Yuna merasa kekuatan dan keberaniannya bertambah dua kali lipat.
William merasa bertanggung jawab kepada orang tua Yuna karena ia telah menyetujui pertunangan anak-anak mereka. Tidak segampang itu baginya untuk mengingkari janjinya. Itulah mengapa ia kecewa dengan istrinya yang mengambil keputusan sepihak. Ia tahu Nissa sangat menyayangi Vanya, tapi alasan itu tidak cukup untuk menghancurkan kebahagiaan anak kandungnya sendiri.
*****
Yuna membereskan pakaiannya unttuk dibawa ke Singapura. Tadi siang Adit mati-matian mendesak ia ingin ikut dengan Yuna. Tentu saja Yuna menolaknya.
__ADS_1
"Apa urusannya denganmu hah? Kamu mau menertawakanku jika aku ditolak olah keluarganya?"
"Bukan begitu Yuna. Bukan menertawakanmu, aku hanya ingin menemanimu."
"Kamu buka siapa-siapa aku Adit. Tidak ada status apapun untukmu untuk bisa menemaniku ke sana. Kamu...kamu hanya masa laluku. Dan kamu tidak perlu bertanggung jawab untuk apa yang akan terjadi padaku di kemudian hari. Paham?" Yuna meninggalkan Adit yang terpatung di meja kerjanya.
Yuna merasa sedikit menyesal sudah terlalu keras dengan Adit. Ia mengambil ponselnya untuk sekedar mengirim pesan permintaan maaf, tapi ia mengurung niatnya. Sepertinya Yuna memang harus sedikit tegas dengan mantan suaminya itu agar bisa mengetahui batasnya.
Besok. Besok ia akan datang menemui Shua. Sudah hampir dua bulan ia tidak bertemu dengannya. Dua bulan yang terasa dua tahun baginya. Ada sedikit rasa takut saat ia akan bertemu dengan Tante Nissa besok, tapi ia tidak peduli. Sekarang adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan rasa cintanya pada Shua. Orang lain tidak akan tahu perasaannya jika Yuna terus melarikan diri. Dan orang lain yang paling harus tahu perasaannya adalah Shua dan keluarganya. Bagaimanapun juga Yuna ingin hubungan mereka berjalan dengan restu orang tua.
"Halo Dylan." Yuna menjawab panggilan telepon.
"Apa kabar Yuna? Belum tidur kan?" sapanya.
"Belum. Aku..lagi packing, mau bertemu Shua besok."
"Kamu ke sana? Singapura?" Dylan terdengar kaget.
"Tentu. Aku pasti mendoakanmu. Semoga semuanya lancar ya." Doa Dylan.
Dylan berkata jujur dan tulus saat mendoakan kebahagiaan Yuna. Ia sadar cinta tidak bisa dipaksakan apalagi cintanya Yuna masih ada. Joshua. Sungguh beruntung pria itu. Aaahh...Patah hati keduaku, pikirnya sambil tertawa. Walaupun sakitnya tidak sesakit dulu, tapi Dylan merasa ia tidak akan jatuh cinta lagi. Mungkin. Lebih baik bersenang-senang saja, tidak akan terlalu sakit jika terjatuh.
*****
Yuna melihatnya. Shua yang sedang menahan tubuhnya dengan bantuan palang besi di kiri dan kanannya, mencoba menggerakkan kakinya hingga terjatuh. Yuna menutup mulutnya untuk menahan suaranya yang tercekat, ingin sekali ia melangkah masuk tapi lengannya ditarik oleh seseorang.
"Biarkan dia!" Suara Nissa terdengar tegas dan Yuna menurutinya.
__ADS_1
Yuna tidak menjawab apapun. Ia bisa menerimanya saat Nissa memintanya menunggu. Menunggu hingga Shua sendiri yang siap bertemu dengannya. Yuna sendiri kaget saat Nissa meminta maaf padanya di awal pertemuan mereka dua jam lalu. William memang terlebih dahulu mengajak Yuna bertemu dengan istrinya karena istrinya ingin mengatakan sesuatu.
"Maafkan, Tante. Tante tidak bisa berpikir jernih saat itu. Sekarang Tante serahkan semuanya pada kalian. Tapi satu hal yang Tante minta Yun, tolong biarkan Shua fokus dengan terapinya sekarang. Shua, ia tidak ingin kamu melihatnya seperti itu. Dia pernah bilang ke Tante, ia ingin datang menemuimu dengan kakinya sendiri tanpa bantuan apapun atau siapapun. Beri dia waktu satu bulan lagi."
"Tapi Tante, Yuna ingin bertemu dengan Shua." Air matanya mengalir karena menahan rindu yang amat sangat.
"Kamu boleh melihatnya dari jauh Yuna. Tante tidak melarangnya. Hanya saja jangan biarkan Shua melihatmu. Hanya itu." ucapnya.
"Baiklah Tante." ia mengalah.
Yuna mengerti. Ia juga tidak ingin Shua menjadi rendah diri di depannya. Setidaknya untuk sekarang ia bisa melihat kekasihnya. Dan tanpa disangka, ia tidak perlu mengemis restu dari Nissa padahal banyak kata-kata yang sudah ia persiapkan. Memang Tuhan Maha Baik. Membantunya bahkan melebihi ekspektasinya.
Shua kembali ke kursi roda lalu mengelap keringat yang memenuhi wajah dan lehernya dengan sebuah handuk putih. Biasanya mamanya akan segera menghampiri jika ia sudah selesai dengan latihan fisik.
"Tadi pagi sudah disinar kan kakinya, Pak?" ujar sang perawat yang mendorong kursi rodanya.
"Sudah. Mama saya di mana ya Sus?" tanyanya.
"Dia sedang ada keperluan dan meminta saya yang mengantar Pak Shua ke kamar."
"Antar saja saya ke taman. Saya sedang ingin duduk di sana." pintanya.
Shua memandang langit sore yang terbentang luas di depannya. Ada beberapa pasien juga seperti dirinya yang memilih menikmati udara luar sore itu. Shua membuka ponselnya dan membaca pesan masuk dari Vanya. Gadis itu mengabarkan bahwa ia tidak bisa datang karena perutnya sedikit terasa sakit. Shua menatap foto candid Yuna di wallpapernya. Yuna yang sedang tertawa.
"Tunggu aku Yuna. Tunggu hingga aku menjadi pria yang pantas untukmu lagi." Shua menunduk menatap kakinya. Tidak seharipun ia absen dengan latihan yang menguras seluruh tenaganya. Wajah Yuna yang tertawa seperti yang dilihatnya tadi selalu menjadi penyemangat untuknya setiap hari.
Yuna menatapi wajah tampan itu dari kejauhan. Shua sedikit lebih kurus, rambutnya tertata rapi walau tanpa pomade yang biasa dipakainya.
__ADS_1
"Jemput aku Shua. Secepat mungkin. Aku menunggumu." harapnya.
*****