
Shua menatap jalan menuju apartemen dalam diam. Entah mengapa ia sedikit berdebar-debar. Apa karena ia baru pertama kali ke apartemen itu karena sejak awal ia langsung berada di rumah sakit? Atau karena ia risih dilihat orang lain yang melihatnya memakai kursi roda? Shua mengangkat lagi masker yang menutupi wajahnya. Dilihatnya sekilas ayahnya yang berjalan di sampingnya. Wajah William tampak bersemangat, lebih berseri dari biasanya. Ia pasti senang anaknya sudah bisa dirawat jalan. Suster Nina, perawat pribadi yang ikut mereka dari Jakarta mendorong kursi roda itu masuk ke sebuah lift dan naik ke lantai 6.
"Mama sudah selesai masak semua lauk yang kamu pesan. Sudah siap untuk kejutan makan siangnya?" tanya William saat mereka sudah menginjak lantai yang dituju.
"Kejutan apaan sih Pa? Makan siang aja seru banget." Shua tertawa saat William menekan kode pintu kamar 617.
"Surpriseeeee!!!" Nissa dan Vanya berteriak senang sambil memegang balon foil bertuliskan WELCOME.
"Mama, Vanya! Norak banget sih." Shua tertawa melihat kelakuan mereka. Tidak lama kemudian Yuna muncul membawakan sebuket bunga mawar merah muda. Ia maju mendekati Shua yang belum sadar dengan kehadirannya. Tapi lima detik kemudian mata mereka beradu.
"Hai." Ucap Yuna mengawali suasana yang mendadak senyap itu sambil memberikan buketnya.
"Sa..Sayang? Yuna?" Shua menerima bunga itu tanpa melihatnya. Yuna menangis bahagia saat Shua masih memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Ia berlutut di depan kaki Shua dan memeluknya erat.
"Maafkan aku Sayang." ujar Yuna tidak terlalu jelas karena tertutupi oleh tangisnya.
"Pa, Ma. Mengapa Yuna bisa ada di sini?" Suara Shua sedikit panik. Ia belum siap menemui Yuna sekarang. Pikirannya belum siap, kakinya belum siap.
"Maaa!!" Teriaknya lagi saat mereka belum menjawab.
"Papa yang membawanya ke sini Shua." jawab William.
"Kenapa Pa? Shua sudah bilang akan memikirkannya, bukan berarti Shua sudah setuju." Yuna bergerak sedikit menjauh saat ia mendengar suara Shua yang meninggi.
"Papa tahu kalau kamu menginginkannya, Nak. Papa tahu kalau Yuna bisa membuat hari-harimu lebih baik."
__ADS_1
"Tapi bukan sekarang, Pa! Bukan sekaraaaang!!! Shua belum siap!" Ia berteriak sambil menutup wajahnya.
"Yuna, aku mohon pergilah! Aku tidak mau kamu melihatku begini! Aku tidak mau kamu datang karena kasihan padaku." Katanya pada Yuna yang berdiri mematung.
"Pergilaaah!!!" Teriaknya lagi, kemudian ia meminta suster Nina membawanya ke kamar.
Yuna sedikit shock dengan yang Shua lakukan padanya. Ia mengira Shua akan senang melihatnya atau mengatakan betapa ia merindukan Yuna.
"Maaf Tante, semuanya kacau karena kehadiran Yuna. Yuna pergi dulu." kata Yuna setelah pikirannya kembali waras. Ia mengambil tasnya. Yuna tidak berpamitan dengan William karena pria itu menyusul anaknya ke kamar.
"Tunggu Yuna, Tante akan bicara dengan Shua." Nissa menarik lengannya.
"Tidak perlu Tante. Semakin lama Yuna di sini, nanti Shua semakin kacau dan tidak bisa menikmati makan siangnya. Yuna permisi." Ia berlari keluar dan langsung menuju lift turun ke lobi.
Yuna tidak langsung keluar melainkan menuju toilet. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala kekecewaan dan kesedihannya. Lima belas menit ia berada di dalam toilet hingga akhirnya ia sudah mulai tenang dan keluar dari sana. Yuna mengambil kacamata hitam dan memakainya. Ironis memang, sebenarnya kacamata itu dipersiapkan apabila ia akan pergi berkeliling dengan Shua sore ini. Yuna tidak memanggil taksi online saat itu, ia hanya membiarkan kemana kakinya melangkah. Berharap sinar matahari saat itu bisa dengan cepat mengeringkan air matanya.
*****
"Pa, mengapa Papa tidak bilang dulu dengan Shua?" katanya setelah tenang.
"Kalau Papa bilang, kamu pasti tidak setuju karena terlalu banyak pertimbangan." jawabnya.
"Terus apa yang Papa harapkan dari Shua tadi? Berharap Shua tertawa dan menerima kedatangan Yuna begitu saja? Membiarkan Yuna menatap Shua dengan kasihan? Mendorong kursi roda Shua?" ucapnya dengan emosi.
"Lantas apa salahnya jika kamu tertawa bahagia? Apa salahnya dia merawatmu?!!" William meninggikan nada suaranya tanpa berteriak.
__ADS_1
"Yuna mengatakan ia mencintaimu pada Papa. Tidak sedikitpun ia menganggap dirimu memprihatinkan. Kamu tetaplah kamu yang dulu, tidak ada yang berubah bagi dirinya. Tapi sikap kamu padanya tadi, Papa kecewa Nak. Kemana dirimu yang selalu tenang menghadapi segala masalah? Bahkan kamu tidak berpikir dulu sebelum mengucapkan kata-kata yang menyakitkannya tadi." Kata-kata ayahnya barusan menusuk jantungnya. Pikirannya mulai terbuka dan rasa sesal menjalar di hatinya.
'Bagaimana bisa aku melukainya dengan perkataanku? Aku yang bahkan pernah dan sering berjanji tidak akan membuatnya menangis malah membuatnya tersakiti dengan segala ucapanku, apalagi di depan orang tuaku dan Vanya. Sungguh bodoh!' Shua merasakan sesal yang sangat mendalam.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' pikirnya lagi.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Pertanyaan yang sama malah diajukan oleh ayahnya.
"Boleh Shua meminta saran Papa?" Pertanyaan itu membuat William tersenyum. Ia tahu pikiran anaknya akan sama dengannya. Mungkin tadi Shua hanya terkejut dengan kehadiran Yuna yang tidak terduga. Sejak Shua mengalami kecelakaan, William merasa hubungannya dengan Shua semakin dekat. Dulu mereka lebih sering membicarakan masalah pekerjaan, tapi lihatlah kini. Bahkan seorang William dapat berperan sebagai mak comblang untuk anaknya sendiri.
*****
"Maaf Pak, Mrs. Yuna Sakura baru saja check out." kata resepsionis hotel. William dengan cepat membawa Shua masuk kembali ke dalam mobilnya dan mencoba menghubungi Yuna.
Di tempat yang berbeda, Yuna sedang check in penerbangannya ke Indonesia. Rencananya ia akan kembali besok bersama dengan William, namun ia tidak tahu apa lagi yang akan ia lakukan di sana dan segera membeli tiket baru. Untung saja ia masih sempat karena pesawatnya akan terbang dua jam lagi saat ia check out hotel tadi. Setelah pemeriksaan barang bawaan, Yuna duduk di ruang tunggu. Termenung sebentar dengan apa yang dilakukannya sekarang karena semuanya terasa seperti mimpi buruk. Yuna mengambil ponselnya dan sedikit kaget saat melihat empat panggilan tak terjawab dari Om William.
"Ya Om? Maaf Yuna tidak mendengar ada telepon." ujarnya dengan sopan. Bagaimanapun juga ia memang harus berpamitan dengan William yang sudah membawanya ke sini.
"Kamu di mana Yuna?"
"Bandara. Maaf Om, Yuna harusnya berpamitan lebih awal. Yuna pamit pulang ya Om."
"Tunggu Yuna. Kamu jangan naik pesawat ya. Om ke sana dengan Shua."
"Tapi Om...Yuna sudah dipang....." Telepon terputus. Ponselnya mati karena habis daya. Sial! Mengapa ia tidak mengisi dayanya tadi?
__ADS_1
"Panggilan terakhir untuk Mrs. Yuna Sakura. Silahkan masuk ke pesawat melalui Gate B3 jurusan Jakarta Indonesia." Suara itu menggema di seluruh ruang tunggu. Yuna mengambil koper cabin nya dan berniat masuk ke Gate B3, tapi langkahnya terhenti. Haruskah ia menunggu William? Dan jika ia tidak salah dengar tadi, Shua juga bersamanya.
*****