MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 61


__ADS_3

"Pa, papa turun duluan saja. Lebih lama kalau ajak Shua Pa. Shua tunggu di sini. Tolong jemput Yuna ya Pa." William turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam bandara.


Shua membenci dirinya yang sekarang tidak bisa menjemput kekasihnya dan malah merepotkan ayahnya. Tapi apa boleh buat, ia harus mulai menerima semuanya. Shua harus menerima siapapun yang menolongnya selama ia masih membutuhkannya. Sudah dua puluh menit berlalu. Ia hanya bisa menunggu di dalam mobil. Bagaimana jika Yuna tetap memilih pulang? Apakah ia akan diam saja atau menyusulnya?


'Itulah akibat kebodohan dan keegoisanmu Shua! Bukannya bermain kejar-kejaran seperti ini terlalu kekanak-kanakan untukmu??' Suara di kepalanyapun bisa mengejeknya.


Shua mengambil ponselnya. Ia bisa menelepon ayahnya, mengapa tidak ia lakukan dari tadi. Tiga kali panggilan tidak juga dijawab. Shua merasa gelisah. Sepertinya semua sudah terlambat.


"Bodoooohhh!! Bodooohh!!" Shua meneriaki kebodohannya sendiri sambil memukul dashboard.


"Siapa yang bodoh? Aku atau kamu?"


Shua menoleh ke arah suara di sebelahnya. Sosok wanita yang sangat dikenalnya masuk dan duduk di kursi pengemudi.


"Yu...Yuna? Kamu di sini?" tanyanya.


"Aku selalu di sini. Di dekatmu. Tapi mengapa kamu tidak mau menerimaku?" Yuna memandangnya dengan serius.


"Maaf... Maafkan aku Sayang. Maaf." Shua memeluknya erat seakan takut Yuna meninggalkannya. Lama mereka berpelukan dalam diam, larut dalam perasaan masing-masing.


"Aku...sangat takut mengecewakanmu Sayang. Kondisiku sekarang...." ucap Shua setelah melepaskan pelukannya.


"Ssshh...Stop membicarakan itu. Apa aku pernah meragukanmu? Tidak. Aku selalu bisa mengandalkanmu. Begitu juga kamu, Sayang. Percaya padaku. Andalkan juga aku. Aku ingin menjadi orang yang tidak memiliki batas denganmu." Yuna memegang tangan Shua yang dingin. Dan akhirnya Shua pun mengangguk setuju.


"Aku percaya padamu, pada cinta kita. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku akan berjuang semampuku untuk kembali normal. Untuk bisa selalu menjagamu."


"Untuk bisa menggendongku di hari kita menikah." sambung Yuna. Shua mengangguk lalu memeluknya lagi dan mencium keningnya.


"Astagaaaa!!! Om William. Aku lupa!" Yuna mendorong tubuh Shua.


"Papa? Di mana papa?" tanya Shua. Yuna tidak menjawabnya karena sedang menelepon.


"Om, sudah beres. Kami tunggu di mobil ya. Makasih Om."


"Om William tunggu di Coffee Seven tadi. Dia memberiku kesempatan untuk ngobrol berdua denganmu." ucap Yuna. Tak lama kemudian ia melihat sosok yang menyelamatkan hubungannya dengan Shua dan ia langsung berinisiatif untuk pindah ke belakang.


William masuk ke mobil dengan tersenyum sambil menatap Shua dan Yuna bergantian.

__ADS_1


"Sudah main dramanya?" tanyanya.


"Drama apaan sih Pa?? Pulang ke apartemen yuk. Shua lapar hahaha...."


William tertawa dalam hatinya karena merasa sangat lega. Ia sangat merindukan anaknya yang seperti sekarang, tertawa lepas seperti dulu. Lega karena nasihat yang diberikan kepada anaknya tidaklah salah. Kebahagiaan Joshua,anak semata wayangnya adalah prioritas utamanya.


*****


"Kamu benar-benar harus pulang besok?" tanya Shua sambil mengelus lengan Yuna yang memeluknya dari belakang. Mereka sedang menikmati pemandangan malam dari balkon apartemen setelah menikmati makan sore mereka tadi.


"Iya, maafkan aku. Tapi ada pertemuan penting dengan klien dan aku tidak bisa bolos. Besok pagi aku masih bisa ke sini karena penerbangannya jam dua siang." Yuna mengelus rambut Shua.


"Besok pagi? Malam ini kamu tidak tidur di sini?" Shua membalikkan kepalanya menghadap Yuna yang berdiri di belakangnya. Menyadari posisinya yang kurang nyaman, Yuna maju menghadap Shua dan bersandar di pagar balkon.


"Aku akan menginap di hotel saja. Apartemen ini sudah penuh, tidak ada kamar tersisa. Kamu tidak mungkin memintaku tidur dengan Vanya kan? Hahaha...Bukan aku tidak menyukainya. Aku justru lebih bisa menerima kehadirannya sekarang. Tapi untuk tidur sekamar, pasti akan terasa canggung sekali."


"Tidur di kamarku saja." kata Shua sambil memegang ujung jari Yuna.


"Haah? Gila kamu! Ada mama papa. Jangan jorok ah!"


"Iiihh...Pikiran kamu saja kali. Bukan mau ngapa-ngapain Sayang. Temani aku tidur saja. Aku masih kangen. Lagian besok kamu sudah kembali ke Indo." Yuna tidak mengiyakan namun juga tidak menolak.


"Sini aku bantu berdiri. Kemarin aku melihatmu bisa berdiri." Shua dengan cepat menggeleng.


"Tidak...tidak...Aku tidak bisa."


"Ayolah. Kamu lupa janjimu padaku bisa mengandalkanku? Ayolah, Sayang. Aku cukup kuat kok." Yuna berlagak menunjukkan otot lengannya. Sebenarnya Yuna sangat rindu berdiri di sebelah Shua, namun ia tidak berani mengatakannya. Yuna mulai mencoba mengangkat tubuh Shua saat tidak terdengar lagi penolakan dari pria itu. Shua pun memegang pagar balkon yang terbuat dari stainless steel itu dan mencoba mengangkat tubuhnya berdiri. Ia memang sudah bisa merasakan sedikit rasa di kakinya tapi belum cukup kuat untuk menopang berat tubuhnya.


"Aaaahhh... Akhirnya.. Kamu berhasil Sayang. Lihat, kamu lebih tinggi dariku sekarang." Yuna tertawa lebar.


"Iya, terima kasih. Ternyata kamu memang obat kuatku hahaha...." Shua memang belum pernah mencoba untuk berdiri selain latihannya di rumah sakit.


"Sudah ya, jangan terlalu lama dulu. Nanti kamu harus lebih sering latihan."


"Sebentar lagi. Peluk aku dong Sayang." Pinta Shua karena kedua tangannya masih bertumpu di pagar. Yuna tertawa kecil melihat sikapnya yang kekanakan. Shua rindu mencium aroma rambut Yuna.


"Nginap di sini ya malam ini." pintanya lagi.

__ADS_1


"Tapi kamu yang ngomong ya sama mamamu." Yuna melepaskan pelukannya dan membantu Shua duduk kembali.


Shua mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


"Ma, Yuna tidur di sini ya."


"........."


"Di kamar Shua. Tenang saja. Tidak Shua apa-apain kok."


"........."


"Ok." Shua memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya.


"Beres kan? Mama sama papa pulang malam. Habis belanja mereka akan pergi makan malam." jelasnya.


"Baiklah."


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Shua. Yuna memindahkan sebuah kursi plastik ke depan pria itu.


"Boleh. Apapun."


"Saat kamu menghilang kemarin, kamu ke mana?  Aku meneleponmu, mencarimu lewat Adit dan Cathy, bahkan Bik Sum."


"Aku hanya berwisata." jawabnya singkat.


"Benarkah?" Shua sedikit terkejut. Ia mengira Yuna mengurung diri di suatu tempat.


Yuna mengangguk, "Benar. Aku pergi ke banyak tempat."


"Sendirian?"


"Iya, sendiri." Mungkin jawaban itu adalah yang paling aman. Ia tidak mungkin menyebut nama Dylan di depan Shua. Walaupun tidak terjadi apa-apa di antara mereka, tapi ia tidak mau Shua salah paham karena mereka baru saja berbaikan.


Vanya melihat semuanya dari jendela sambil menelan buah potong di piring yang dipegangnya. Mungkin benar hanya Yuna yang bisa membahagiakan Kak Josh nya. Tidak pernah ia melihat Kak Josh bahagia seperti itu. Tidak sekalipun dengannya. Sekuat apapun Vanya mencoba, ia tidak akan bisa. Vanya mengelus perutnya. Dulu saat ia dinyatakan hamil, seakan tidak ada terang lagi di dunia ini. Semua terasa begitu gelap dan menelan dirinya. Tapi sejak ia bisa merasakan gerakan bahkan tendangan dari jagoan kecilnya itu, naluri keibuannya mulai tumbuh. Vanya mulai berdamai dengan semuanya.


'Sehat ya Nak. Mama juga akan mencoba sekuatnya agar bisa melahirkanmu ke dunia yang indah ini. Mama janji, kamu akan bertemu dengan Om Josh, Tante Yuna, Oma Nissa, dan Opa William. Merekalah keluargamu. Walaupun nanti Mama tidak ada di sampingmu, tapi kamu bisa mengandalkan mereka.' Air mata Vanya pun menetes saat ia merasakan lagi jendolan di perutnya akibat tendangan Jovan. Ya Jovan, nama panggilan yang diberikan untuk anak di perutnya. Namun hanya dirinya yang tahu arti Jovan. Josh dan Vanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2