
"Pak Adit, saya akan mengajak Yuna makan siang. Bapak tidak keberatan kan?" ucap Dylan. Yuna hampir tertawa melihat ekspresi Adit saat Dylan memintanya blak-blakan.
"Oh...Baiklah." jawabnya tenang namun ia sebenarnya merasa kesal.
"Yuna apa perlu aku menemanimu?" Ia berbisik ke Yuna.
"Tidak perlu. Aku juga ingin berbincang hanya berdua dengannya." jawaban Yuna berhasil membuat Adit pergi tanpa berdebat.
Yuna menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Shua di Singapura. Tentu saja itu atas permintaan Dylan. Pria itu sudah sangat penasaran dengan kelanjutan hubungan mereka berdua. Mereka. Yuna dan Joshua. Bukan Yuna dan dirinya.
"Apa kamu tidak apa-apa aku menceritakan semua itu?" tanya Yuna sambil mengaduk es jeruknya.
"Tentu saja. Kita teman kan." jawab Dylan. 'Hanya aku yang mengharapkanmu lebih dari teman.' batinnya.
"Jadi kapan kamu akan ke sana lagi?" Dylan melonggarkan dasinya sedikit.
"Belum tahu. Jadwalku agak padat karena proyekmu. Aku dengar dari Adit kamu meminta penyelesaian lima puluh persen lebih cepat dari jadwal. Kamu menyiksaku, Dylan."
"Hahaha...Bukan untuk menyiksamu. Hanya saja marketing kami bergerak lebih cepat dan sudah banyak yang DP. Jadi aku tidak mungkin membuat mereka menunggu lebih lama. Maaf ya hahaha..." jelasnya.
"Oh iya..Untung kamu membahasnya. Aku ingin pesan satu untukku Dylan. Mungkin Cluster Diamond jika masih ada." Yuna tidak jadi membahasnya dulu pada Shua karena ia takut kehabisan.
"Untuk apa? Investasi? Aku juga akan bangun satu rumah di sana. Bagaimana jika rumah kita bersebelahan?" tawarnya.
"Hahaha...Nanti jika aku berantem sama Shua kamu dengar pula. Jangan. Jangan. Sepertinya itu bukan ide yang bagus Dylan."
"Oh, kamu beli itu untuk tempat tinggalmu dengannya?" Dylan berhenti menyumpit dimsum di depannya. Yuna mengangguk santai.
"Aku belum minta pendapatnya sih. Tapi tidak masalah. Aku menyukai konsep perumahan yang akan kamu bangun. Sepertinya menarik ada tema alam dalam perumahan. Sudah cukup sumpek lihat jalanan yang macet." Yuna tertawa pelan, tapi ia berhenti saat melihat raut wajah Dylan.
"Apa...aku salah bicara? Maaf ya." Yuna terlihat sedikit menyesal.
"Tidak..tidak...Aku hanya sedikit merindukan masa-masa kita bersama dulu saat melihatmu tertawa."
"Entahlah, kamu selalu berhasil membuatku tertawa. Kamu akan mendaki lagi dalam waktu dekat ini?" tanya Yuna.
"Kamu mau ikut?" Dylan balik bertanya.
__ADS_1
"Kamu tidak kapok mengajakku? Hahaha...Tidaklah. Belum ada waktu."
"Waktu tidak akan pernah cukup Yuna. Kita yang mengaturnya. Hubungi aku ya kalau mau mendaki."
Mereka terus berbincang dan tertawa sambil mengingat perjalanan mereka dulu.
"Awas Yun!" Dylan menarik Yuna mendekat hingga nyaris memeluknya saat seorang pelayan tidak sengaja hampir menabraknya dengan sebuah troli makanan yang berisi piring-piring kotor saat mereka baru saja berdiri dari tempat duduk mereka.
"Maaf Mba, tidak kelihatan." ucapnya.
"Tidak apa, Mas." Yuna mengerti karena pria paruh baya itu sedang sibuk menahan piring-piring itu agar tidak jatuh.
"Terima kasih Dylan. Gerakan tanganmu cepat sekali hahaha..." ucap Yuna.
"Cuma untukmu Yuna." jawab Dylan sedang Yuna hanya geleng-geleng mendengarnya sambil berjalan menuju pintu keluar.
*****
"Gila Becca, mereka tuh dekat banget! Tuh cowok sepertinya sudah dewasa gitu, tapi guaannteeeng poool!" Becca mendengar temannya, Monica, sedang bercerita di telepon.
"Ya gw ingetlah muka mantan istri suami loe gimana, ada nyebut nama Adit juga. Lagian dia dipanggil Yuna kok sama tuh cowok. Namanya Dylan. Hebat kan kuping gw? Kayaknya sih tajir ya dari penampilannya. Eh, gw ada rekaman suara sama video. Ntar gw kirim ya." ucap Monica.
"Kirimin donk, cepetan!" Becca sudah sangat penasaran dengan sosok pria yang bersama Yuna tadi.
Tidak berapa lama, sebuah pesan suara dan videopun masuk ke ponsel Rebecca. Ia membuka video terlebih dahulu untuk memastikan orang yang mereka ceritakan tadi adalah orang yang sama. Yup benar, itu Yuna Sakura. Mantan sahabatnya dulu. Seseorang yang selalu menjadi bayangan dalam hidup Becca. Bahkan hingga Becca berhasil menikah dengan Adit, Yuna masih menjadi sumber masalah dalam hubungannya dengan Adit. Becca bisa melihat bagaimana pria itu seperti memeluk Yuna saat seorang karyawan hampir menabraknya, sepertinya mereka sangat dekat. Setelah menonton video singkat itu, Becca membuka rekaman suara. Ada dua rekaman masing-masing berdurasi sekitar sepuluh menit. Cukup lama.
' Oh, ternyata Dylan partner kerja Yuna dan Adit. Astagaaa, mereka berwisata bersama saat Yuna menghilang. Pergi mendaki ke Semeru? Oh, bahkan satu hotel. Gilaa...Saat Joshua lagi berobat, dia malah selingkuh. Waaahhh, luar biasa kamu Yun. Pria kelas kakap semua yang kamu umpani sekarang.'
Rekaman dua puluh menit itu membuat Becca berkesimpulan bahwa Dylan menyukai Yuna, sangat menyukainya. Entah bagaimana perasaan Yuna pada pria itu, tapi yang pasti mereka sangat dekat. Becca tertawa seolah sedang memegang kartu AS yang bisa menghancurkan Yuna. Lihat saja nanti bagaimana Becca akan menggunakannya.
"Makanya jangan sok kecantikan Yun. Mentang-mentang badanmu kurusan jadi gatel mau gaet cowok-cowok." ucapnya sinis.
*****
Adit melepaskan jas dan dasinya saat masuk ke kamarnya. Dilihatnya Becca sedang mengeringkan rambut basahnya. Adit berjalan ke arahnya dan mencium keningnya.
"Mana Grace?" tanya Adit.
__ADS_1
"Di sebelah." jawabnya.
"Temani aku mandi yuk." ajak Adit sambil menciumi leher istrinya.
"Hah? Baru saja kering rambutku. Kamu mandi saja dulu, aku tunggu di sini." Becca tersenyum nakal.
"Ayolah. Aku mau melakukannya di kamar mandi. Nanti aku bantu keringin rambutmu ya." Adit mematikan hair dryer di tangan Becca dan menariknya ke dalam kamar mandi berpintu kaca itu.
"Tumben sih kamu pulang-pulang minta jatah. Biasanya capek." Becca berbaring di ranjang sambil memegang remote TV setelah Adit selesai mengeringkan rambutnya.
"Lagi pengen saja." jawab Adit.
"Nah ini yang buat aku kesal. Jawaban kamu yang seperti itu. Giliran aku yang pengen, masih juga harus nurutin mood kamu."
"Pengen karena lihat kamu tadi seksi banget Sayang." Adit mencium pundak istrinya yang mulai ngambek. Ia tahu bagaimana cara untuk mengatasi kekesalan Becca yang seringkali terjadi.
"Eh, Sayang. Ada klien namanya Dylan ga? Tapi aku kurang tahu nama lengkapnya." tanya Becca tiba-tiba. Sebenarnya ia dari tadi siang sudah menunggu momen untuk menanyakan hal itu pada Adit.
"Dylan? Dylan Richardson?"
"Mukanya putih kayak campuran Chinese Eropa gitu."
"Iya, sepertinya itu dia. Kamu kenal?" tanya Adit penasaran.
"Bukan. Bukan aku. Temanku. Sepertinya ia melihatnya dengan Yuna tadi."
"Temanmu kenal sama Dylan? Kok bisa? Dia orang Bali lho."
"Mungkin cuma tahu, tidak kenal."
"Tadi dia dan Yuna memang pergi makan siang bersama, sepertinya mereka sudah saling kenal di luar pekerjaan."
"Oh begitu." Berarti Adit tidak mengetahui bagaimana mereka saling mengenal. Baguslah, akan menjadi sangat menarik jika Adit juga belum tahu. '
Ini akibatnya jika kamu tidak berhenti menggoda suamiku, Yuna.'
*****
__ADS_1