
Shua sedang menelepon ayahnya untuk mengetahui perkembangan perusahaan mereka. Sudah dua minggu ini ia mulai ikut campur lagi dengan masalah pekerjaan. William sudah sangat pusing mengurus semuanya setelah sekian tahun ia pensiun.
"Tidak bisa begitu, Pa. Biaya jangan terlalu ditekanlah, nanti kualitasnya juga jelek." Shua bangkit dari duduknya dan berjalan pelan ke balkon.
"Rugi dong, Nak!" bantah William.
"Tidak. Shua kan sudah kasih range harga. Selama tidak lebih dari itu, masih aman Pa." Shua melihat langit yang sedikit mendung sore itu.
"Papa dengar kamu sudah bisa jalan." kata William.
"Mama memang tidak bisa dipercaya. Padahal Shua sudah bilang jangan kasih tahu Papa."
"Tega ya kamu! Sudah tahu kepala Papa mau pecah ngurusin kerjaan. Masih mau dirahasiakan juga? Kapan pulang?" William langsung menembak pertanyaan yang dari tadi sudah ditahannya.
"Secepatnya, Pa. Shua sudah kangen sama Yuna. Papa jangan kasih tahu dia ya Shua mau pulang. Tapi mungkin seminggu lagi karena masih ada dua kali fisioterapi."
Begitulah Shua menjalani hari-hari terakhirnya di sana. Ia tampak begitu bersemangat. Shua merasa sejak hubungannya membaik dengan Yuna, tidak tahu mengapa kondisinya membaik begitu cepat. Memang benar bersahabat dengan keadaan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan membuat hidup kita terasa lebih sempurna karena rasa syukur yang kita miliki. Shua juga sudah merasa jenuh, ia ingin kembali ke rutinitas pekerjaannya. Dan satu lagi yang menjadi fokusnya sekarang, melanjutkan rencana pernikahannya dengan Yuna kekasihnya. Panjang umur, Yuna meneleponnya di saat ia sedang memikirkan wanita itu.
"Ya, Sayang." jawab Shua.
"Sayang, aku berencana ke sana Jumat ini."
"Hah? Istirahatlah dulu, tidak perlu buru-buru. Kamu kan baru saja sembuh." Shua terkejut dengan rencana kedatangan Yuna.
"Aku sudah sehat kok." ujarnya.
"Lagian kamu tidak kangen sama aku?" sambung Yuna.
"Bukannya tidak kangen, tapi sebaiknya kamu tidak perlu ke sini, Yuna. Aku ingin fokus ke pengobatanku dulu. SENDIRI. Aku akan mengabarimu jika aku sudah siap menemuimu." Shua menahan ketawanya saat mengatakan itu. Ia ingin sekali melihat ekspresi Yuna saat itu.
__ADS_1
"Kok kamu ngomong begitu?" Yuna terdengar sedih.
"Memang begitu. Aku ingin cepat sembuh, jika kamu ke sini terus aku tidak bisa fokus." kata Shua. Ia sebenarnya tidak tega berkata seperti itu, tapi hanya itu yang bisa menahan agar Yuna tidak datang ke sana.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan." Yuna menutup teleponnya. Pembicaraan dengan Yuna tadi membuatnya ingin pulang lebih cepat.
Shua keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Vanya. Ia sedikit khawatir melihat gadis itu. Diketoknya pintu kamar Vanya sambil memanggil namanya. Lima kali panggilan masih saja belum ada jawaban. Akhirnya Shua masuk, ia melihat Vanya sedang berbaring ke arah membelakangi Shua.
"Vanya, kamu baik-baik saja?" Shua menyentuh pundaknya yang sedikit bergetar. Vanya akhirnya berbalik sambil meringis kesakitan.
"To..long Vanya Kak. Tolong anak Vanya." ucapnya sambil memegang perut besarnya.
"Maaa!!! Mamaaa!!" Shua berteriak memanggil ibunya. Shua memanggil ambulance. Jika saja kakinya sudah sangat kuat, ia pasti sudah membopong Vanya ke rumah sakit sebelah.
"Kamu kenapa Van? Bisa bangun?" Shua mencoba mengangkat tubuh Vanya yang tampak sangat lemah.
Setelah menunggu dua puluh menit, dokter yang memeriksa Vanya keluar.
"Ibu Vanya menderita anemia akut selama kehamilan. Saya sudah sering mengingatkannya untuk menjalani pengobatan dan transfusi darah. Apakah dia tidak pernah menceritakan ini dengan kalian?" Nissa dan Shua saling berpandangan seolah meminta jawaban hingga akhirnya mereka berdua menggeleng.
"Jadi bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanya Nissa.
"Bayinya harus segera dikeluarkan karena oksigen yang mengalir juga semakin sedikit. Untuk sementara kami sudah memberikan transfusi darah. Kami minta Bapak atau Ibu untuk menandatangani formulir persetujuan melakukan operasi caesar."
"Baiklah. Saya mohon selamatkan mereka berdua Dok." Nissa menggenggam tangan si dokter wanita itu.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Bu." ucap si dokter meninggalkan mereka berdua yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan Vanya.
*****
__ADS_1
Hari itu Vanya merasakan tubuhnya lebih lemas dari kemarin-kemarin. Saat itu usia kandungan Vanya memasuki bulan kelima. Ia dan Nissa sedang sibuk akan memindahkan Shua ke Singapura. Vanya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter sebelum ia berangkat. Dokter sudah memvonisnya menderita anemia. Vanya diharuskan mengkonsumsi suplemen penambah darah. Ia hanya santai menanggapi hal itu karena selama ia menjadi artis, Vanya memang sering mengalami anemia.
Vanya menjalani hari-harinya di Singapura dalam kesepian. Kak Josh seolah menjauhinya sejak kepergian Yuna. Mama Nissa selalu menemani Kak Josh di rumah sakit. Vanya sendiri hanya diam di apartemen. Hanya seminggu sekali ia ke rumah sakit menjenguk Joshua karena ia juga takut dengan sikap Joshua yang sepertinya marah padanya.
Hidup ini terlalu kejam untuknya. Andaikan dulu ia jadi melakukan aborsi mungkin dirinya tidak akan semenderita ini. Aaahhh....tidak..tidak... Apa yang dipikirkannya sekarang? Vanya mulai jatuh cinta dengan Jovan, anaknya. Semenjak ia merasakan denyut keras di perutnya yang ternyata adalah tendangan Jovan, ia sudah berjanji akan menjaganya dengan penuh cinta.
Sakit kepalanya semakin menjadi. Mengapa dirinya semakin lemah setiap hari? Vanya sudah mencoba memakan semua suplemen dan makanan sehat, tapi semuanya seolah tidak pernah cukup. Hemoglobin dalam darahnya selalu menurun dan jauh di bawah normal. Ia tidak berani menceritakan semuanya pada Mama Nissa yang sedang fokus pada Kak Josh. Vanya hanya selalu berpesan pada dokternya untuk menyelamatkan anaknya jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Tentu saja Vanya sangat berharap dapat bertemu dengan Jovan. Anak kuat yang sudah menemaninya melewati semua ini.
*****
Sayup-sayup Vanya mendengar suara tangisan bayi. Jovan. Jovan sudah lahir.
'Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena Engkau memaafkan dosaku dan menjawab doaku.' Vanya tidak tahu apakah dirinya juga ikut menangis. Ingin dirinya memanggil nama Jovan dan memeluk tubuh mungilnya. Tapi mengapa matanya tidak bisa terbuka? Mengapa tangannya tidak dapat terangkat?
'Tuhan, aku memang egois. Tapi bisakah Engkau mengabulkan doaku satu lagi? Aku mohon.' Vanya mencoba sekuat tenaganya untuk membuka matanya. Jovan terus menangis. Vanya hanya ingin menggendongnya dan menenangkannya.
"Suster, pendarahannya tidak mau berhenti. Berikan transfusi. Cepat!" Vanya mendengar seseorang bicara dengan nada panik. Apakah itu untuk dirinya?
'Oh tidak, jangan sekarang Tuhan! Tolong bangunkan aku! Aku mohon!'
Cahaya terang membuat matanya silau. Sosok makhluk mungil itu perlahan terlihat di gendongan seorang perempuan. Jovan. Itu Jovan. Bayi itu sangat mungil karena prematur. Tapi syukurlah, sepertinya semua organnya lengkap dan sehat. Terima kasih Tuhan.
"Dokter, pasien tidak sadar lagi!" Kalimat terakhir yang didengarnya.
Sekejap semuanya menjadi sunyi. Vanya tidak lagi mendengar suara Jovan.
'Terima kasih Tuhan. Engkau masih menjawab doa terakhir pendosa ini.' batinnya tanpa suara.
*****
__ADS_1