
"Kamu pacaran sama Joshua?" Adit masuk ke ruangan Yuna saat Yuna baru saja meletakkan tas nya di atas meja.
"Aku baru saja sampai Dit. Harus ya bahas ini pagi-pagi?" Yuna melepas blazer hijaunya.
"Jawab saja Yuna! Aku tidak bisa tidur semalaman." Adit sedikit mencengkram lengan Yuna.
"Lepasin. Kenapa tidak bisa tidur? Istrimu tidak bisa melayanimu dengan baik? Maaf ya, aku tidak peduli. Aku malah tidur dengan sangat nyenyak."
"Yun.."
"Oh iya, jawaban pertanyaanmu tadi. Tentu saja, aku berpacaran dengan Joshua Austin William." Yuna duduk di kursi kerjanya dan menyalakan komputernya.
"Kamu belum kenal baik sama dia Yuna."
"Cukup Dit. Kamu bukan siapa-siapa aku. Aku sudah cukup kesal dengan semua perlakuanmu tentangku dan Shua. Untuk apa kamu lakukan itu semua hah??" Yuna berusaha keras menahan suaranya tetap stabil.
"Untuk kebaikan kamu." Adit memegang tangan Yuna yang terlihat bebas di atas meja. Yuna langung menghempaskannya.
"Kebaikan kamu bilang? Kalau untuk kebaikan aku, just leave me alone. Jangan ikut campur lagi Dit, please.." Adit melihat Yuna memohonnya dengan raut wajah serius.
"Aku cemburu Yuna. Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan kamu yang dekat dengannya." Adit akhirnya mengakui perasaannya.
"Hah? Sudah gila kamu! Pernah kamu pikir bagaimana perasaanku saat memikirkan kamu bercinta dengan wanita itu??" Yuna menaikkan nada suaranya, ia menjadi emosi.
"Brengsek kamu! Aku sudah berjanji pada diriku tidak akan mengingat masa-masa itu lagi. Keluarlah! Aku mau kerja." sambungnya lagi.
Adit tahu dirinya brengsek, seperti kata Yuna tadi. Tapi ia tidak bisa menahan perasaannya, perasaan cinta dan cemburu. Dua perasaan yang selalu berjalan beriringan. Egois memang. Sedikit banyak ia mulai mengerti perasaan Yuna dulu. Adit mencintai dua wanita sekaligus. Tidak bisakah Yuna juga tetap mencintainya di saat ia berpacaran dengan Joshua? Pikiran gila Adit mulai memenuhi otaknya.
*****
"Yun, mama sudah di bawah. Di kantin ya." Rossa menelepon Yuna. Tidak berapa lama yang dinantikanpun datang.
"Sini Yun." Wanita cantik paruh baya itu melambaikan tangannya dengan semangat. Yuna pun sedikit terkejut dengan orang yang duduk menemani ibunya.
"Shua? Kamu kok bisa di sini?" Shua berdiri sambil tersenyum dan menarik kursi di sebelahnya.
"Dia jemput mama tadi. Kita langsung jalan saja yuk." ajaknya.
"Mobil Yuna gimana Ma?"
"Tinggalin saja. Besok pagi aku antar ke kantor." Yuna sedikit kikuk saat Shua menggandeng tangannya di depan mamanya. Rossa senang melihat hubungan mereka yang semakin dekat. Joshua juga terlihat sangat sayang kepada anaknya. Mudah-mudahan kebahagiaan itu akan bertahan selamanya, doanya dalam hati.
Mereka menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Rossa ingin membuat perayaan ulang tahun sederhana untuk suaminya. Hanya makan malam keluarga. Kenichi adalah seseorang yang tidak terlalu menyukai pesta besar.
__ADS_1
"Dagingnya mau berapa kilo, Ma?" tanya Yuna sambil memilih beberapa wagyu di tangannya.
"Dua atau tiga kilo lah ya." jawab Rossa.
Shua hanya bertugas mendorong kereta belanja sambil menikmati pemandangan di depannya. Tawa kebahagiaan Yuna bersama ibunya. Shua tahu ibu dan anak itu pasti sangat saling merindukan masa-masa berbelanja seperti ini. Dan Shua ingin menjadi sedikit bagian di dalamnya. Itulah mengapa ia memutuskan untuk menjemput Rossa tadi.
"Mozarella pakai ga Tan?" Shua menunjukkan sebuah keju moza.
"Oh iya, untung kamu ingetin hahaha...Besok jangan lupa mampir ke rumah ya untuk makan malam. Cuma kita-kita saja kok Shua." Rossa sedikit mendongak untuk menatap lawan bicaranya yang cukup tinggi itu.
"Pasti Tante. Terima kasih undangannya."
'Dasar Shua. Ia pasti memanfaatkan pesonanya untuk menarik perhatian Mama.' Yuna tersenyum senang melihat mamanya bahagia. Ia merasakan ada semacam perasaan yang menggelitiknya sekarang. Yuna sudah cukup lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Dulu ia dan Adit dijodohkan, jadi seingatnya ia mulai merasakan debaran saat mereka sudah menikah.
*****
"Sayang, datang bulanku sudah selesai." Becca keluar dari kamar mandi mengenakan lingerie ungu. Ia segera menghampiri Adit yang sedang duduk bersandar di tempat tidur mereka.
Adit meletakkan ponselnya dan tersenyum nakal dengan aksi istrinya itu. Becca memang paling pintar membuat suasana menjadi romantis dan panas.
"Sini sayang." Adit memeluk Becca dan mulai menciumnya dengan sedikit kasar. Sudah dua minggu ia belum melampiaskan birahinya. Malam ini entah mengapa ia sedang tidak ingin bermain dengan lembut. Pikirannya yang kacau membuatnya ingin melepaskan emosinya.
Becca merasakan ada yang berbeda dengan permainan Adit malam itu. Adit meremas *********** dengan sedikit keras, menggigit puncaknya pelan.
"Aaaaaahhhh..." Akhirnya Adit melepaskan puncak kepuasannya. Ia melihat Becca yang lemas di bawahnya.
"Maaf Sayang..Apa aku menyakitimu?" Ia membelai rambut istrinya.
"Tidak sayang. Kamu luar biasa. Aku menyukainya." ucap Becca yang masih merasakan denyut sisa-sisa kepuasannya di bawah sana.
Adit masuk ke kamar mandi tanpa berpakaian. Ia mengguyur dirinya dengan air panas. Ia tidak menyangka akan membayangkan Yuna saat bercinta tadi. Adit menjadi emosi saat membayangkan Yuna yang mungkin sudah berciuman dengan Joshua. Ia bercinta dengan kasar karena ingin menunjukkan pada Joshua bahwa hanya dirinya yang bisa bercinta dengan Yuna. Hanya dia.
*****
"Selamat ulang tahun, Om." Shua datang setelah menjemput Yuna pulang dari kantor dengan membawa sebotol champagne yang diikat pita. Ia masih berpakaian formal dengan setelan jas abu yang melekat pas di tubuh indahnya. Yuna langsung menuju ke kamarnya untuk mandi sesaat, ia paling tidak betah berlama-lama mengenakan pakaian dari luar jika berada di rumah.
"Terima kasih Shua, tahu saja Om suka minum yang begini hahaha..." Ken mengambil botol berwarna hitam itu dan membaca sekilas tulisan yang tertera di belakangnya.
"Sini Shua." Rossa memanggilnya dengan suara cukup keras dari ruang makan yang dekat dengan dapur.
"Kamu suka steak nya medium atau medium well?" tanya Rossa sambil dibantu oleh Bik Sum.
"Well aja Tante. Ada yang perlu saya bantu?" Shua melepas jasnya dan menggantungnya.
__ADS_1
"Apa ya? Piring ini saja lah tolong ditaruh di meja makan." Ia menunjuk ke arah setumpuk piring keramik berwarna putih dengan pinggiran emas. Shua langsung membawanya tanpa menjawab apapun.
"Ganteng ya Nya." Bik Sum berbisik ke arah Rossa. Mereka berdua tertawa cekikikan.
"Gosipin Yuna ya Bik?" Suara Yuna memenuhi dapur. Ia datang mengenakan baju santai, dress baby pink polos dengan panjang semata kaki.
"Kamu sudah mandi Yun? Pantas mama tidak melihatmu dari tadi."
"Mama tidak mengundang orang lain?" tanya Yuna.
"Papamu tidak mau." jawab Rossa. Sebenarnya ia tahu alasannya. Sahabat terbaiknya adalah Harris, papa Adit. Ken tidak mempunyai banyak teman di Indonesia. Kebanyakan hanya teman bisnis atau politikus, dan mereka tidak bisa disebut sahabat. Harris sendiri sudah mengirim sebuah buket bunga untuk Ken tadi siang. Sebenarnya Ken tidak membenci Harris, semua itu bukan salahnya. Biar saja waktu yang menghapus sakit hati Ken dan dirinya.
Mereka duduk berempat menikmati makanan yang sudah disiapkan Rossa. Beef steak, salad, dan sup asparagus. Ia juga membeli beberapa makanan lain, ada mie ulang tahun, kepiting lada hitam, dan gurami bakar.
"Maaf ya Shua. Tante belum bisa mengundang orang tuamu. Bukannya tidak mau, hanya saja jaraknya terlalu cepat dari kamu mengajak Yuna menemui mereka. Tante takut dibilang terburu-buru." Rossa membuka pembicaraan saat mereka sedang makan.
"Tidak apa-apa Tan. Shua mengerti. Malah terima kasih lho sudah mengundang Shua menikmati dinner yang enak-enak ini." Pria tampan itu tersenyum sambil melirik ke arah Yuna yang duduk di sebelahnya.
Rossa bahagia melihat mereka berdua yang tampak sangat serasi. Ia tidak menyangka begitu cepat Tuhan mengganti kesedihan anaknya dengan kebahagiaan. Semoga semesta juga merestui mereka. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah bagi orang tua selain melihat anaknya bahagia.
*****
"Jo, di sini." Seorang wanita berpakaian merah dengan rok mini hitam bangkit dari duduknya dan melambaikan tangannya.
"Siang Devi. Sudah lama?" Joshua menarik kursi di depan wanita itu.
"Belum lama. Maaf ya mendadak mengajakmu bertemu." Devi tersenyum manis melihat pria tampan di depannya. Baru sekali ini ia melihat Joshua yang mengenakan setelan jas.
"Tidak apa-apa, kebetulan jam makan siang juga. Kamu sudah pesan makanan?" Mereka memutuskan untuk makan siang sambil membahas pekerjaan.
"Saya punya kabar baik Jo. Sembilan puluh persen tempat sudah ada yang menyewa dan mereka sudah membayar DP nya." Devi berkata dengan bangga. Ia memperlihatkan sebuah dokumen dengan map biru.
"Benarkah? Itu malah di atas ekspektasi aku lho. Harapan aku malah setidaknya tujuh puluh persen. Terima kasih ya Devi. Bonus kamu bakal dicairkan saat opening bulan depan." Shua membaca sekilas dokumen itu sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
'Bibir yang indah.' batin Devi sambil membayangkan rasa bibir seksi di depannya.
"Boleh tidak bonusnya ditambah?" Devi memberanikan dirinya.
"Hah? Apa" Joshua sedikit kaget.
"Temanin aku ke mall sore ini bisa?" Joshua tampak berpikir sebentar sebelum ia menjawabnya.
"Jam empat aku kabarin ya. Tidak apa-apa kan?" Devi sedikit kecewa dengan jawaban Joshua. Tapi ia tetap tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Ia yakin Joshua pasti akan menemaninya nanti.
__ADS_1
*****