
Shua membeli obat Yuna yang diresepkan Dokter Clara menggunakan aplikasi online. Dokter berparas ayu walau sudah berumur hampir 60 tahun itu mengatakan jika Yuna terkena radang tenggorokan akut dan juga gejala typhus. Ia juga sudah mengambil darah Yuna untuk diperiksa di laboratorium untuk hasil yang lebih akurat. Sebenarnya Dokter Clara menyarankan agar Yuna dirawat inap di rumah sakit karena kondisinya yang lemah. Tapi Yuna bersikeras tidak mau. Ia masih mual mengingat bau rumah sakit saat ia kecelakaan dulu. Yuna berjanji dengan Dokter Clara jika ia akan mencoba untuk makan. Hanya makan bubur karena cuma itu yang diperbolehkan.
"Ma, Shua tidak pulang ya malam ini. Mau temani Yuna, dia lagi sakit." Shua menelepon Nissa.
"Sakit apa? Maaf mama tidak bisa ke sana jenguk Yuna. Salam saja ya. Mama lagi temani Vanya. Dia masih tidak bisa ditinggal. Mama khawatir banget sama kesehatan bayinya juga."
"Yuna gejala typhus,Ma. Mama jaga saja Vanya. Nanti Shua sampaikan salam mama. Minta tolong Pak Sam bawain baju tidur Shua sama baju kantor ya Ma. Itu saja. Nanti keperluan lain Shua beli saja. Terima kasih, Ma. I love you."
"Love you too, my son."
Shua beruntung memiliki seorang ibu yang sangat penyayang seperti Nissa. Selesai bertelepon, ia turun mengambil laptopnya di mobil dan mengganti sepatunya dengan sendal yang juga ia taruh di dalam sana. Saat masuk kembali ke dalam rumah, ia bertemu Bik Sum.
"Biar saya saja Bik." Shua merebut mangkok berisi bubur yang masih hangat dari wanita tua itu.
"Baik Den. Ini obatnya juga sudah sampai barusan." Ia memberikan kresek hijau dari apotik ke pria itu.
"Malam ini saya tidur di sini ya Bik. Nanti ada sopir saya datang bawa baju saya, tolong dibawa ke atas ya. Terima kasih Bik."
"Baik Den. Den Shua mau makan apa? Nanti bibik siapin."
"Bibik makan apa saya ikut saja. Maaf ngerepotin." Shua naik ke atas meninggalkan Bik Sum yang masih berdiri di bawah tangga.
"Sudah ganteng, baik, sopan pula ckckck...Coba saya masih muda." ucapnya pelan sambil tersenyum malu.
Shua menyuapi Yuna beberapa sendok bubur. Mata Yuna terpejam menahan sakit setiap ia menelannya.
"Sudah, Sayang." Yuna menggelengkan kepalanya saat Shua mau menyuapinya lagi. Shua mengalah.
"Ya sudah. Aku mandi dulu ya. Boleh pinjam handuk? Aku mandi di sini atau di bawah?" tanya Shua sambil membongkar tas yang dibawa Pak Sam tadi.
"Di sini saja. Di bawah ada Bik Sum. Handuknya ada di laci bawah lemari. Ambil saja."
__ADS_1
Yuna membuka televisi karena bosan sambil menunggu Shua mandi. Sialnya, ada beberapa stasiun TV yang menayangkan kasus Vanya dan Joshua. Yuna memilih untuk tidak menontonnya dan menjatuhkan pilihannya ke acara masak yang sering diputarnya. Badannya lemas tapi ia juga capek terus berbaring di ranjang. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Sosok Adit muncul dari balik pintu.
"Hai Yun. Apa kabar?" sapanya.
"Adit? Mau ngapain ke sini?" Adit sedikit kecewa melihat respon Yuna.
"Jenguk kamulah. Dua hari kamu tidak kerja masa aku tidak khawatir? Aku ada bawain buah di bawah dan ada biskuit juga. Kamu sudah ke dokter?" Adit menarik sebuah kursi dari ujung ruangan dan duduk di sebelah Yuna.
"Tante Clara ke sini tadi." jawab Yuna pelan.
"Oh, baguslah. Rencananya aku akan membawamu ke dokter malam ini, aku tahu pasti kamu paling sulit diajak berobat." Adit membelai rambut Yuna, dan di saat Yuna baru akan mengelak, saat itu juga Shua keluar dengan kaos putih dan celana pendek polos berwarna hitam dengan logo centang di sudut bawah.
Mereka sama-sama terdiam dengan kehadiran masing-masing.
'Apa-apaan dia pegang kepala Yuna?'
'Dia ngapain mandi di sini? Pakai celana pendek pula.'
"Hai Dit, baru pulang kantor?" sapanya.
"Iya. Kamu kok bisa mandi di sini?" Adit bertanya sedikit sinis.
"Aku dari pagi di sini temanin Yuna. Malam ini aku akan menginap." Shua menatap Adit seolah ingin mengetahui reaksinya. Dan benar juga, pria berdasi itu tampak terkejut dengan pernyataan itu.
"Ooh..Untuk?" tanya Adit.
"Menjagaku Dit. Aku tidak bisa meminta Bik Sum karena ia pasti lelah setelah kerja seharian."
"Aku bisa meminta perawat pribadi kalau kamu mau." tawar Adit.
"Kamu kira aku tidak sanggup menyewanya?" tantang Yuna.
__ADS_1
"Aku hanya mau Shua yang menemaniku." lanjutnya.
"Maaf. Out of topic, bagaimana dengan berita kamu suaminya Vanya Aprilia? Dan kamu ayah dari bayi yang dikandungnya?" Adit berdiri di depan Joshua sekarang.
"Begini Adit. Aku tahu kamu peduli dengan Yuna. Tapi berita itu tidak benar dan akan diklarifikasi sebentar lagi. Sebenarnya aku tidak peduli dengan siapapun, asalkan Yuna percaya padaku itu sudah cukup." Shua menjawab dengan tenang.
"Adit, aku juga sangat berterima kasih atas perhatianmu. Tapi tolong jangan bahas masalah itu sekarang, kepalaku sedang sakit."
"Maaf Yuna, baiklah. Aku pergi dulu, pastikan makan obat yang teratur ya. Kamu kan paling malas makan obat." Adit berdiri bersiap untuk pergi.
"Ok." jawab Yuna pelan.
"Oh iya, apa...Joshua akan tidur di kamar ini?" Adit penasaran. Ia benci jika memikirkan Joshua akan tidur di kamarnya dulu.
"Di kamar sebelah." Yuna menjawab asal sambil memutar bola matanya. Ia tidak percaya Adit akan menanyakan itu.
Adit hanya mengangguk pelan, entah ia percaya atau tidak dengan jawaban Yuna. Ia mengangkat tangannya ke Joshua tanda berpamitan tanpa mengucapkan apapun. Shua pun melakukan hal yang sama.
"Terima kasih ya atas kepercayaanmu. Aku janji akan mencari jalan keluar terbaik untuk kita."
"Sayang, menurut kamu apa yang akan terjadi pada Vanya jika Jack tetap tidak mau bertanggung jawab?"
"Aku tidak tahu. Kemarin aku sudah memberi tahu mama. Menikahkan Vanya pada laki-laki brengsek seperti Jack sama saja menjatuhkan diri pada lubang kehancuran. Walaupun mereka menikah, aku yakin itu tidak akan bertahan lama. Tapi, mungkin itu risiko yang harus Vanya tanggung akibat kelakuannya."
"Kasihan Vanya. Mungkin tidak akan seberat ini kalau ia bukan public figure. Ia harus memikirkan karirnya dan juga bayinya." Yuna memeluk Shua yang sudah naik ke tempat tidurnya. Memeluk Shua di tempat tidur menjadi hobi barunya. Dadanya yang bidang dan wangi tubuh pria itu membuat ia mulai mengantuk lagi.
"Iya, aku juga sedih melihatnya. Belum pernah aku melihatnya sehancur ini. Bahkan saat ibunya dulu meninggal, sepertinya ia tidak seterpuruk sekarang. Oh iya, tadi mama titip salam untukmu. Katanya maaf belum bisa datang menjenguk karena ia lagi menjaga Vanya. Mama takut Vanya kehilangan akal lagi dan mencoba untuk aborsi lagi."
"Tidak apa-apa bilang sama mama. Terima kasih sudah meminjamkan anaknya malam ini." Yuna memeluk erat tubuh Shua sambil merasakan telapak tangan Shua yang besar itu menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Aku ingin secepatnya membelikanmu baju pengantin. Apa kamu mau kalau kita menikah di Bali? Sepertinya menarik ya. Kebetulan aku punya teman yang punya hotel besar di sana. Nanti aku tanyakan ke dia ya." Shua merasakan nafas Yuna yang mulai teratur. Sepertinya ia sudah tertidur. Menyenangkan sekali merasakan seseorang yang kita cintai dapat tidur lelap di pelukan kita. Tanpa ada kata terucap, itu telah menjadi pembuktian terindah bahwa ia juga membalas cinta kita.
__ADS_1
*****